Kementan Luncurkan Aplikasi Toko Tani Indonesia Akhir 2017

Pemerintah melalui Kementerian Pertanian segera meluncurkan aplikasi Toko Tani Indonesia (TTI) pada akhir 2017. Aplikasi tersebut diluncurkan untuk memudahkan mengetahui harga acuan bahan pokok yang sudah ditentukan pemerintah.

Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP) Agung Hendriadi menjelaskan aplikasi tersebut tengah dipersiapkan Kementan sebagai salah satu upaya mengendalikan harga pangan

“Aplikasinya sedang dibangun dan akhir tahun kita launching,” katanya di Toko Tani Indonesia Center di Ragunan Raya, Jakarta, Minggu 15 Oktober 2017.

“Bentuknya nanti e-commerce. Kita kerja sama dengan e-commerce. Banyak anak-anak muda keluarkan aplikasi.”

Ia menjelaskan, lewat aplikasi tersebut, TTIC bisa mengetahui dengan cepat, Toko Tani Indonesia (TTI) mana yang memiliki stok bahan pangan pokok serta TTI mana yang memerlukan stok. “Jadi aplikasi ini bisa untuk order, dari TTI ke kelompok tani binaan kita yang berjumlah 2.740 lebih. Jadi kalau TTI di Pasar Minggu misalnya, bisa dapat barang dari Bogor,” tutur Agung. 

Hal itu, kata dia, mendukung peran TTIC sebagai pusat distribusi (distribution center) yang menghubungkan kebutuhan TTI dengan kelompok tani binaan Kementan. Secara bertahap, TTIC di Medan, Palembang, Lampung, Banten, sampai Makasar akan mengikuti pola distribution center. 

Dengan begitu, Agung mengatakan, wilayah penyangga sebagai produsen bisa memasok wilayah konsumen melalui TTIC. Hal itu supaya terjadi keseimbangan dalam penyediaan pangan. 

Agung menuturkan, Toko Tani Indonesia Center (TTIC) secara konseptual akan dirancang sebagai distribution center yang menghubungkan kebutuhan dengan Gapoktan/Kelompok tani binaan dalam volume besar, di mana TTIC hanya sebagai HUB dan secara prototype akan dikembangkan di beberapa kota besar di Indonesia.

“Secara bertahap pada tahun 2018, TTIC yang sudah terbangun seperti di Medan, Palembang, Lampung, Banten, hingga Makasar akan mengikuti pola distribution center, sehingga wilayah penyangga sebagai daerah produsen dapat memasok wilayah konsumen melalui TTIC sehingga akan menimbulkan keseimbangan dalam penyediaan pangan,” tutur dia.

Menurutnya, TTI cukup berkontribusi dalam mengendalikan harga pangan. Hal itu tampak dari hasil pantauan kondisi harga pangan BPS pada minggu ll Oktober 2017. Pergerakan harga pangan relatif stabil dengan kenaikan hanya berkisar di angka 0,05-1,15 persen.

“Bahkan terdapat penurunan harga di level -1,78 hingga -18,14 persen pada beberapa komoditas,” beber dia.

Adapun jumlah Toko Tani Indonesia (TTI) saat ini mencapai 2.849 dan tersebar di 32 provinsi di Indonesia kecuali Kalimantan Utara dan Kepulauan Riau. Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.113 berada di wilayah Jabodetabek.

Tercatat, harga beberapa komoditas pangan yang dijual di TTI adalah beras Rp7.900/kg, cabai merah keriting Rp27.000/kg, bawang merah Rp18.000/kg, bawang putih Rp16.000/kg, gula Pasir Rp12.000/kg, minyak goreng Rp11.000/liter, daging sapi Rp75.000/kg, daging kerbau Rp70.000/kg, daging ayam Rp30.000/kg, dan telur ayam Rp19.500/kg.

Dengan menawarkan harga murah itu, hingga Minggu kedua Oktober 2017 tercatat transaksi TTI telah mencapai Rp103,749 miliar dengan rincian transaksi TTI sebesar Rp64,473 miliar dan TTI Center sebesar Rp34,266 miliar.

(Berbagai sumber)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *