Ponggok Jadi Desa Wisata Terbaik, Ratusan Warganya Jadi Investor

Ratusan Warganya Jadi Investor  

Dari sekitar 700 keluarga di Desa Ponggok, 430 di antaranya menjadi investor dalam usaha pengelolaan obyek wisata Umbul Ponggok. Karena itu, Desa Ponggok, yang berada di Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten, terpilih sebagai desa wisata terbaik di Indonesia untuk kategori pemberdayaan masyarakat.

Dari prestasi itu, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Tirta Mandiri Desa Ponggok mendapatkan piala, piagam penghargaan, dan uang pembinaan senilai Rp 9 juta. “Penghargaan itu diserahkan saat Expo BUMDes di Bukittinggi, Sumatera Barat, pada 13 Mei 2017,” kata Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Klaten Jaka Purwanto, Selasa, 16 Mei 2017.

Direktur BUMDes Tirta Mandiri Joko Winarno mengatakan sebagian warga Desa Ponggok sudah turut berinvestasi sejak BUMDes didirikan pada akhir 2009. Melihat obyek wisata Umbul Ponggok yang dikelola BUMDes Tirta Mandiri terus menunjukkan prospek yang cerah, jumlah warga yang berminat menanamkan modal semakin bertambah.

Sekarang, sudah 76 persen keluarga di Ponggok yang berinvestasi. Nilai investasinya sekitar Rp 5 juta per keluarga. Adapun bagi hasil yang diperoleh berkisar 7-15 persen per bulan. “Tergantung pada tingkat kepadatan pengunjung,” ujarnya.

Dari hasil penjualan tiket dan penyewaan peranti selam air dangkal (snorkeling), Joko mengklaim pendapatan dari Umbul Ponggok berkisar Rp 500 juta per bulan. Puncaknya pada musim libur Lebaran. “Tahun lalu, kami bisa mencapai Rp 1 miliar dalam sepekan,” ucapnya. 

Dengan berinvestasi di BUMDes Tirta Mandiri, setiap satu keluarga bisa menerima bagi hasil sekitar Rp 400-500 ribu per bulan. Dengan pendapatan pasif (pasif income) yang diperoleh dari bagi hasil tersebut, warga Desa Ponggok memiliki tabungan untuk biaya pendidikan anaknya.

Selain warga, sejumlah lembaga di Desa Ponggok juga turut berinvestasi di BUMDes Tirta Mandiri. “Tiap RW berinvestasi masing-masing Rp 50 juta, PKK Rp 100 juta, PAUD/TK juga berinvestasi Rp 25 juta,” ujarnya. Dengan turut berinvestasi, PAUD/TK di Desa Ponggok setiap bulan punya kas Rp 2,5 juta untuk menunjang kegiatan belajar mengajar.

Joko menjelaskan, nilai investasi warga dan lembaga masyarakat di Umbul Ponggok saat ini masih di bawah 40 persen dari total investasi, dari sejumlah pemegang saham. Kendati demikian, Kepala Desa Ponggok Junaedi Mulyono mengklaim sudah tidak ada pengangguran di desanya. 

“Lima tahun lalu memang masih ada warga miskin. Sekarang semua pengangguran terserap di BUMDes Tirta Mandiri,” tuturnya.

Pendapatan per kapita warga di Ponggok saat ini berkisar Rp 1,5- 2 juta,” kata Junaedi. Dia menambahkan, para ibu rumah tangga yang semula pengangguran kini turut diberdayakan dengan usaha olahan perikanan

 

Ponggok Klaten Termasuk 10 Desa Wisata Terbaik Versi Kementerian Desa

Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi memberi penghargaan kepada 10 desa yang berhasil mengelola potensi pariwisata untuk memajukan ekonomi setempat.

“Penghargaan ini menunjukkan bahwa desa mampu berkembang dan berprestasi,” kata Mendes-PDTT Eko Sandjojo yang memberi penghargaan tersebut dalam kegiatan Expo BUMDes 2017 di Lapangan Wirabraja, Bukittinggi, Sumatera Barat, Sabtu (13/5/2017) malam, yang dikutip Antaranews.

Satu di antara desa tersebut adalah Ponggok di Kecamatan Polanharjo, Klaten.

Lainnya adalah Nagari Sungai Nyalo di Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat dalam kategori Perkembangan Tercepat, Desa Madobak di Kepulauan Mentawai (Desa Adat), Tamansari di Banyuwangi (Desa Wisata Jejaring Bisnis), Pujon Kidul di Malang (Desa Wisata Agro), Desa Seigentung di Gunungkidul (Desa Wisata Iptek), Ubud di Gianyar (Desa Wisata Budaya), Waturaka di Ende, NTT (Desa Wisata Alam), Teluk Meranti di Pelalawan, Riau (Desa Wisata Kreatif), dan Bontagula di Bontang, Kaltim (Desa Wisata Maritim).

Pemberian anugerah dilaksanakan dalam rangka mendukung visi pemerintah untuk memajukan daerah melalui pariwisata.

UPACARA - Petugas Kejari Klaten menggelar upacara peringatan Hari Bhakti Adhyaksa di dalam kolam Umbul Ponggok, Klaten, Selasa (12/7). Kegiatan yang pertama kali digelar Kejari Klaten itu bertujuan untuk membuat para petugas di instansi itu meneladani filosofi air.
Upacara peringatan Hari Bhakti Adhyaksa 2016 di dalam Umbul Ponggok

Sektor tersebut dinilai cepat dan mudah dikembangkan.

“Melalui penghargaan Desa Wisata Terbaik, diharapkan akan menjadi motivasi bagi desa lain bahwa desa mampu berprestasi sehingga pemerataan pembangunan di Indonesia dapat terwujud,” ujar Eko.

Tahun ini, Kemendes-PDTT memiliki empat program prioritas untuk membangun desa yaitu pengembangan produk unggulan desa, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), membuat embung, dan membangun sarana olahraga.

Setiap desa diminta menjalankan setiap program itu melalui pemanfaatan dana desa yang tahun ini dialokasikan Rp 800 juta/desa. 

 

Contohlah Desa Ponggok, Setahun Hasilkan Rp 6,5 Miliar

 
 
Pengunjung Umbul Ponggok di Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, menyewa jasa warga setempat yang berprofesi sebagai fotografer bawah air
 

Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi RI Eko Putro Sandjojo meminta para kepala desa di Kabupaten Madiun, Jawa Timur, mencontoh kinerja aparat Desa Ponggok, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.

Menurut Eko, kreativias aparat desa di Kecamatan Polanharjo itu mampu mendongkrak pendapatan pengelolaan pemandian tua yang sangat fantastis di daerah itu dari Rp 5 juta per tahun menjadi Rp 6,5 miliar per tahun.

Yang dimaksudkan Eko adalah bekas tempat pemandian tua yang tidak terurus di desa tersebut. Pemandian itu kemudian dibenahi dan kini menjadi salah satu destinasi menarik di Klaten. Obyek wisata bernama Umbul Ponggok itu kian terkenal setelah foto-fotonya tersebar ke media sosial.

“Setelah dirapikan, dikasih sofa, motor, kuda lumping, ikan, dikasih kamera di dalam air. Jadi para pengunjung bisa berenang sambil selfiedi dalam air,” kata Eko saat berkunjung di Desa Metesih, Kecamatan Jiwan, Kabupaten Madiun, Senin (26/9/2016).

Setelah disulap menjadi obyek wisata kekinian, kata Eko, pemandian Ponggok mampu mengundang wisatawan dari berbagai daerah.

Kini badan usaha milik desa (BUMDes) tersebut mampu memperoleh pendapatan Rp 6,5 miliar per tahun dengan keuntungan bersih mencapai Rp 3 miliar dari tempat tersebut.

“Keuntungannya digunakan untuk pemberdayaan usaha BUMDes yang lain. Usaha itu mulai dari penyediaan fasilitas air bersih, homestayhingga tempat makan,” kata Eko.

Menurut dia, kesuksesan aparat Desa Ponggok mendongkrak pendapatan dari pengelolaan pemandian tua itu bukan tanpa sebab. Aparat desa setempat mendirikan BUMDes yang mampu mempercepat terwujudnya desa mandiri dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di desa. Kondisi itu menjadikan BUMDes Ponggok sebagai percontohan nasional.

Eko mengatakan, tahun ini pemerintah pusat memberikan bantuan dana sebanyak Rp 46, 8 triliun kepada 74.754 desa di seluruh Indonesia.

Rata-rata setiap desa mendapatkan dana sebesar Rp 600 juta hingga Rp 700 juta.

Masih ada tambahan bantuan dari pemerintah provinsi dan kabupaten dengan besaran nilai berbeda-beda di setiap desa.

Eko menjelaskan, dana desa tiap tahun akan ditingkatkan. Tahun ini jumlahnya hampir 47 triliun dan ditingkatkan menjadi Rp 70 triliun. Pada tahun berikutnya, akan bertambah lebih besar lagi dari Rp 70 triliun menjadi Rp 103 triliun, dan naik lagi menjadi Rp 111 triliun di periode berikutnya.

Ditemui di tempat yang sama, Dirjen Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Ahmad Erani Yustika mengatakan, saat ini hanya 13.000 desa yang memiliki BUMDes.

Sekertaris Daerah Kabupaten Madiun Tontro Pahlawanto menyebutkan bahwa pada 2016 sudah terdapat 72 BUMDes di Kabupaten Madiun. Hanya saja, keberadaan BUMDes masih dalam tahap pembentukan kelembagaan.

“Orientasi desa tahun ini masih ke arah infrastruktur,” kata Tontro.

Sumber : Tempo|Tribunnews|Kompas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *