“Exponential Abundance” (Mentoring 1 sd 22)

“Exponential Abundance” (How to Grow 10x Better)

oleh AA Zainuddin & Co

Nasib Kita & Anak Cucu Kita  10-30 tahun ke Depan Tergantung Bagaimana Kita SADAR & SIAP Menghadapi Era Perubahan Drastis (Eksponensial) Yang Makin lama Makin Cepat & Masif. Lalu kemanakah Arah Semua Perubahan Drastis Ini?  ABUNDANCE (berkelimpahan) FOR ALL…

Dan inilah 10 Bidang Kehidupan Kita yang akan mengalami perubahan besar-besaran : Energy, Bisnis dan Pekerjaan, Transportasi, Pendidikan dan Agama, Keluarga dan Hubungan Sosial, keamanan dan Privasi, perumahan dan perkotaan, lingkungan dan pangan, kesehatan, Informasi dan komunikasi. Nantinya semua akan menjadi Murah, Tersedia untuk semua, aman dan Terbarukan.

 —————————

“Exponential Abundance” Mentoring

(Kami berikan sebagian ulasan materi Exponential Abundance Mentoring, untuk dapat memperluas wawasan dan berbagi kepada yang lain.)

 

Mentoring Hari Ke-1:

Bagaimana Anda Melihat DIRI SENDIRI?

Dunia bergerak dengan kecepatan yang makin lama makin cepat (eksponensial). Teknologi berkembang menuju titik ambang batas “menggantikan manusia dalam banyak hal” (singularity). Semua ini mengarah pada dua kemungkinan hasil akhir:

  1. Zaman keberlimpahan buat semua (abundance)
  2. atau stuck, terjebak dalam era kekacauan (disruption) dimana-mana

Manakah yang akan menjadi nasib kita bersama, tergantung bagaimana kita “Sadar & Siap” dalam menyambut perubahan besar2an ini. Jika kebanyakan dari kita bermental “serba kurang” (scarcity mentality), maka bisa jadi kita akan saling bersaing habis2an, dan ujungnya adalah “get stucked in disruption era”. Tapi kalau kebanyakn dianatara kita memiliki mentalitas berkelimpahan (abundance mentality), maka kita akan mampu melewati fase era disruption dengan selamat untuk meluncur ke era abundance for all yg serba cukup dan belimpah buat semua.

Untuk memastikan kita semua bisa sampai ke era abundance, hal paling penting pertama yg perlu kita lakukan adalah melakukan introspeksi diri: Seberapa tinggikah level ABUNDANCE MINDSET kah?

Silahkan menjawab pertanyaan ini untuk mengetahui di level berapakah Abundance Mindset anda?

 

Mentoring Hari Ke-2 :

Bagaimana Anda Melihat ORANG LAIN?

Prinsip Kedua untuk menjadi Abundance Person yg siap tumbuh 10x lebih baik berkaitan dengan bagaimana kita memandang orang lain.

Jika dalam prinsip pertama kita diharapkan telah “selesai dengan diri kita”, maka di prinsip kedua ini, kita disiapkan untuk memiliki mental “rahmatan lil ‘alamin”. Bertekad menjadi manfaat sebesar2nya pada sebanyak mungkin mahluk Tuhan.

Berikan alasan yg cukup kuat bagi Allah untuk menurunkan “keajaiban abundance-Nya” pada kita. Dan alasan yg cukup kuat itu biasanya adalah jika keberadaan kita di dunia ini menjadi “agen penebar cinta dan rahmat-Nya” pada alam semesta. Dan ini semua berawal dari bagaimana asumsi dasar anda dalam memandang orang lain?.

Apakah anda memandang orang lain dengan pandangan pesimis, negatif & penuh rasa curiga? ataukah anda melihat orang lain sebagai “Masterpiece ciptaan Sang Maha Kekasih?”. Apakah anda berasumsi bahwa orang itu sifat dasarnya jahat, atau aslinya baik? Apakah anda terlatih untuk cenderung melihat sisi negatifnya orang lain, atau terbiasa menjadi penemu kebaikan orang lain, bahkan pada diri orang2 yg nampaknya tidak punya kebaikan?

Lihatlah wall sosial media anda, dipenuhi umpatan, kebencian, kritik, keluhan dan black campaign, ataukah diwarnai dengan pesan perdamaian, kasih sayang, keluasan hati, apresiasi dan empati?

Lalu jawablah dengan jujur pertanyaan di atas. Di level berapakah anda dalam hal “abundance mindset in seeing others”

 

LATIHAN HARI KEDUA: ABUNDANCE MINDSET IN SEEING OTHERS

  1. Hari ini doakan minimal 10 orang dengan doa “salam”
  2. Doa “Salam”: Tiap bertemu atau memikirkan sesorang, doakan orang itu dengan SEPENUH CINTA ANDA: Assalamu alaikum warahmatullahi wabarokatuh (Yaa Allah, Semoga Kau karuniai beliau ini keselamatan dari-Mu, Kau sayangi dia dengan rahmat-Mu, dan Kau berkahi rizkinya, keluarganya, dan jalan hidupnya.
  3. Perhatikan bagaimana hati anda perlahan2 jadi semakin lapang, hingga satu saat nanti semoga anda memiliki hati seluas samudra, bagaikan hati para Nabi dan orang2 suci, yg tidak bisa punya hati lain, selain hati yg penuh cinta pada seluruh mahluk ciptaan-Nya.

Terakhir, saya ingin kutipkan peryataan Elisabeth Kübler-Ross, seorang psikiater yg terkenal dengan teorinya tentang “5 Stages of Grief (Lima Fase Kesedihan” dan penelitian tentang “near-death experience” yg didokumentasikan dalam buku fenomenalnya: On Death & Dying (1969):

“There are only two emotions: love and fear. All positive emotions come from love, all negative emotions from fear. From love flows happiness, contentment, peace, and joy. From fear comes anger, hate, anxiety and guilt. We cannot feel these two emotions together, at exactly the same time. They’re opposites. If we’re in fear, we are not in a place of love. When we’re in a place of love, we cannot be in a place of fear.”

Hanya ada 2 emosi primer yg menjadi sumber emosi2 lain: Takut dan Cinta. Dari ketakutan, lahir rasa benci, marah, cemas, rasa bersalah, dan emosi2 negatif lainnya. Dari Cinta, terlahir rasa bahagia, syukur, kedamaian hati, suka cita, dan emosi2 postif lainnya. Kita tidak bisa merasakan 2 emosi primer ini pada waktu yg sama. Mereka saling berlawanan. Jika anda ketakutan, anda tidak bisa mencintai. Jika hati anda dipenuhi cinta, anda tidak mungkin takut.

Apakah hati kita dipenuhi rasa “takut” atau rasa “cinta” ? apakah kita memandang orang lain didasari rasa takut atau rasa cinta? itulah penentu utama level “abundance mindset in seeing others” kita.

Lantas ….

 Terkait dengan ini 10 orang ini definitif yang kita kenal saja atau juga orang lain di jalanan misalnya..?

Jika kita  sambil Jalan  berkendara dan kita sadar  memperhatikan wajah setiap yang tertangkap mata kita, sambil  kita mendoakan mereka…

( yaa Alloh semoga Engkau berikan kebaikan, keberkahan dan Kelancaran Urusan juga Hidayah Yaa Aloh,… kepada mereka)

Apakah sudah mewakili…?…

Ya….

untuk yang tidak kita kenalpun dihitung mas. termasuk juga yg kita benci.. doakan juga dengan doa yg baik (dapat hidayah misalnya)

Trus jika pada kenyataan diluaran bnyk org yg sakit hati dan negatif memandang hidup (khususnya mohon maaf keluar sedikit dr materi exponential tapi masih cocok dg materi hari ini…. sikap seorang wanita pada kasus suami mereka yg ber poligami…)

…..bgmn spy bisa menyebar virus kebaikan utk bisa bahagia tanpa syarat maka panduannya…?!

Cobalah mempraktikkan latihan Doa “salam” diatas bu selama 2 minggu.. semoga pelan2 semakin luas… ….hatinya..orang yg merasa hatinya sempit, dengan mempraktikkan doa  “salam” itu semoga semakin luas hatinya.. atau kalau ibu yg melihat orang seperti itu, doakanlah orang itu dengan doa “salam” itu juga….

 

Mentoring Hari Ke-3 :

Bagaimana Anda memandang KEHIDUPAN?

Sumberdaya alam yg ada di Bumi ini CUKUP untuk memenuhi kebutuhan semua orang, tapi tidak akan cukup untuk memuaskan nasfu orang serakah.

Kata Nabi, orang serakah baru akan puas (berhenti dari keserakahannya) kalau sudah disumpal gumpalan tanah (sudah menjadi jenazah).

Bapak Ibu, coba anda renungkan: Bagaimana pandangan anda tentang dunia ini? apakah anda merasa segalanya serba terbatas sehingga kita perlu berantem, bersaing dan berebut?

Atau anda berasumsi bahwa Tuhan telah memberi karunia yg lebih dari cukup buat semua mahluk-Nya. Sehingga kita tidak perlu berebut dan bersaing, tapi saling mendukung dan bekerjasama?

Perbedaan keyakinan Dalam memandang kehidupan ini menentukan apakah kita punya “mentalitas miskin (scarcity)”, atau “mentalitas Kaya (abundance)”.

Dan pada akhirnya, perbedaan asumsi dasar tentang hidup ini berdampak besar pada nasib Kita. Apakah kita hidup serba takut, cemas, mungkin juga sukses, tapi tidak benar2 bahagia; atau Kita hidup serba Berkelimpahan, bahagia Dan sukses besar.

Jawablah pertanyaan diatas dengan jujur, di level berapakah Abundance Mindset Dalam Hal Cara pandang tentang kehidupan?

 

LATIHAN HARI-3: ALLAH MENCUKUPI SEMUA

  1. Selesai sholat atau berdoa, Coba renungkan tentang perjalanan hidup anda. Pernahkan anda mengalami, gara2 tidak punya uang sampai tidak bisa makan 3 Hari?. Tanyakan dalam hati anda, “Bukankah selama ini seburuk apapun kondisi Kita, Tuhan selalu MENCUKUPI kebutuhan Kita ? Walaupun tidak selalu memberi yg Kita inginkan, tapi Allah selalu MENCUKUPI keperluan kita. Lalu kenapa Kita masih juga merasa kekurangan?
  2. Tuliskan 10 Alasan Mengapa anda (seharusnya) merasa bahwa dunia ini lebih dari cukup UNT membuat semua orang bahagia
  3. Tuliskan 10 Hal yg membuat hidup anda terasa Indah dan Berkelimpahan sekarang

 

Mentoring Hari ke 4

Fokuskan Pikiran & Hati Anda

Memiliki cara pandang yg serba “abundance” baik ketika memandang diri sendiri, orang lain, dan kehidupan, adalah 3 hal yg sangat penting untuk memiliki “Abundance Mindset”. Tapi ini masih di level pikiran, belum turun ke “hati”.

Sementara itu, Energy abundance kita baru bisa benar2 menular ke orang lain, dan menjadikan kita magnet keberkahan yg melimpah, jika  energy itu tidak hanya sampai di level pikiran, tapi harus bisa meresap sampai ke “getaran hati”.

Nah untuk memiliki “Abundance Heartset” ini, maka ada 3 hal yg perlu kita lakukan dan biasakan: Mindfulness, Gratefulness, dan Compassion. Hari ini kita fokuskan latihan kita di “Mindfulness = Khusyu'”.

Khusyu’ adalah proses intensifikasi (pemusatan) energi. Dengan khusyu’, maka apapun yg kita lakukan saat itu, powernya akan berlipat2. Termasuk dalam menarik “abundance” dalam hidup kita.

Kebalikannya, dengan Multi-Tasking, energy kita akan hilang 40%. Para peneliti psikologi kognitif meluruskan, bahwa istilah yg benar bukan “multi-tasking” tapi “task-switching”. Karena tidak ada orang yg secara kognitif bisa benar2 melakukan 2 hal secara bersamaan. Pikiran kita hanya bisa benar2 mengerjakan satu tugas dalam satu waktu. Maka saat anda mengerjakan beberapa hal secara bersamaan, sebenarnya pikiran anda terus melakukan “switching” dari satu tugas ke tugas lain. Dan “switching cost” itu memboroskan energy pikiran anda hingga 40%.

Maka jika anda ingin lebih produktif dan lebih menikmati setiap “moment” dalam hidup anda, serta melipat gandakan kekuatan “magnet abundance” anda, resep pertama yg saya sarankan adalah: Khusyu’-lah dalam apapun yg anda kerjakan.. Be MIndful in everything you do.

LATIHAN KEEMPAT: ABUNDANCE HEARTSET THROUGH MINDFULLNESS

  1. Mindful Listening: Hari ini, cobalah mendengarkan seseorang dengan sepenuh pikiran dan hati anda. Dengarkan dia, tanpa memikirkan hal lain selain cuma mendengarkan dia. Resapi kata2nya, tangkap pesan2 non-verbalnya (ekspresi wajah & sikap tubuh), pahami nuansa emosi dia, berempatilah dengan kebutuhan2 tersembunyi atau pesan2 samar yg terpancar dari ucapannya. Intinya, dengarkan seutuhnya.
  2. Lalu rasakan betapa pemahaman anda akan jauh lebih besar tentang apa yg dia bicarakan. Rasakan empati andapun jauh lebih membesar pada dia. Dan yg paling penting, saksikan, diapun akan merasa jauh lebih dipahami, dan diperhatikan, dan hubungan anda berdua akan jauh lebih baik.
  3. Saat mendengarkan itu, coba sisipkan “Doa Salam” yg telah anda latih di latihan hari kedua. Dan perhatikan, keajaiban apa nnati akan muncul saat anda terbiasa melakukan MIndful Listening ini.

Ada banyak laihan Mindfulness yg lain seperti Mindful Eating (untuk melangsingkan badan), Mindful Walking, Mindful Praying, Mindful Sitting, Mindful Sleeping, etc. Tapi ini bisa kita bahas di lain kesempatan. Saya pilih Mindful Listening, karena dampaknya double. Tidak hanya pada anda sendiri, tapi juga pada orang2 yang anda dengarkan.

 

Mentoring Hari ke-5 :

Gratefulness is The Mother of Abundance Heart

Saya kira tidak perlu dibahaspun, semua orang sudah tahu bahwa hati yg bersyukur adalah hati yg tidak hanya dipenuhi kebahagiaan, tapi juga mengundang lebih banyak kebaikan dan keberlimpahan. Semua kitab suci menegaskan ini, bejibun bukti2 penelitian ilmiah mengkonfirmasinya, dan pengalaman kita sendiri membuktikannya.

Tapi entah bagaimana seringkali “common sense is not common practice (sesuatu yg semua orang sudah paham, tapi tidak banyak orang yg mau mempraktikkannya secara konsisten). Demikian juga dengan “bersyukur” ini. Kita sudah tahu, bahwa dengan bersyukur kita akan menjadi magnet keberlimpahan, tapi tetap saja kita kadang lebih suka mengeluh dan memikirkan apa yg tidak kita punya, dibanding menyukuri apa yg telah kita miliki.

Maka benar sekali jika ada yg bilang bahwa kita memerlukan “the dicipline of gratitude”, alias mendisiplinkan diri untuk selalu menyetel hati kita dalam kondisi “grateful mode”, membiasakan emosi kita untuk merasakan nikmat Tuhan dan menyukurinya. Kalaupun kondisi kita sedang sakit atau susah, selalu ada 1000 nikmat Allah yg selayaknya kita syukuri.

Maka berikut beberapa latihan untuk mendisplinkan hati kita untuk selalu dalam kondisi “grateful state”, agar keberlimpahan semakin mengejar kita:

LATIHAN KE-5:  ABUNDANCE HEARTSET THROUGH THE DISIPLINE OF GRATITUDE:

  1. Tuliskan apa 10 hal yg paling anda syukuri dalam hidup anda selama ini
  2. Hadirkan “rasa” syukur yg lebih dalam tentang 10 hal itu dengan menuliskan MENGAPA anda mensyukurinya, mengapa 10 hal itu begitu berarti buat anda. Perdalam rasa syukur itu dengan “go detail”
  3. Ijinkan rasa syukur itu mengendap dan meresap di hati anda dengan visualisasi (atau deep SEFT bagi para SEFTer) sampai anda merasakan “getaran hati anda diliputi rasa syukur yg berlimpah”.

Semoga kita semua dimasukkan Allah SWT sebagai hamba-Nya yg selalu bersyukur, baik dalam suka maupun duka, kondisi up and down, mengalami sukses ataupun gagal, sehat ataupun sakit, miskin maupun kaya, sedang kekurangan atau sedang berkelimpahan. Karena bagi orang yg bersyukur, apapun yg terjadi sekarang, akhirnya pasti akan HAPPY ENDING dan jelas akan selalu HAPPY no matter what.

 

Mentoring Hari ke-6 :

 Compassion is The Key Character of Great Leader

Apa kualitas kunci dari semua pemimpin besar dengan hati yg besar? apa kualitas karakter  teterpenting dari semua Nabi dan orang suci? Dan apa kualitas utama yg sangat penting untuk menumbuhkan “hati yg berkelimpahan”? Jawaban saya adalah: Compassion atau “kebaikan hati”. Dalam bahasa Alquran: Roufur Rohiim.. bahasa ilmiahnya: Loving-Kindness.

Jika dua kualitas heartset sebelumnya berorientasi pada diri sendiri (mindfulness & gratitude), maka compassion berorientasi ke orang lain. Mindfulness & Gratitude adalah pondasi untuk bisa memiliki “real compassion”. Sangat susah bagi kita untuk memiliki hati seluas samudra yg serba memaklumi dan berbaik hati pada orang lain, jika kita belum bisa cukup nyaman dengan diri sendiri (gratitude) dan memiliki kesadaran diri yg tinggi (mindfulness).

Di training SEFT telah kita bahas  panjang lebar, bahkan kita praktikkan bagaimana Compassion (loving-kindness) bisa menyembuhkan dan membahagiakan kita dan orang lain. Dan bagaimana itu juga akan membuat “luck factor” kita meningkat. Di sini kita tegaskan bahwa compassion juga akan membuat kita memiliki abundance heartset.

LATIHAN KE-6:  ABUNDANCE HEARTSET THROUGH COMPASSION:

  1. Sebutkan 3 orang yg pernah dan/atau sedang hadir dalam hidup anda, yg anda merasa berterimakasih sekali pada mereka, karena kebaikan hati mereka telah membuat hidup anda lebih baik (misal: Guru, orang tua, istri/suami, sahabat, senior, saudara, dll).
  2. Sebutkan 3 Hal paling penting yg telah mereka “lakukan” pada anda, sehingga anda merasa demikian.
  3. Hari ini dan besok, coba anda tiru apa yg mereka “lakukan” itu, dengan cara mencari minimal 3 orang yg kepada mereka, anda “melakukan kebaikan hati yg sama” seperti yg 3 orang tadi pernah lakukan pada anda.

Bapak ibu, pada akhirnya hidup ini bukan tentang seberapa banyak yg kita kumpulkan, tapi seberapa banyak yg kita kontribusikan. Life is not about accumulation, but about contribution.

Kita menjadi orang seperti sekarang ini, karena pasti ada banyak orang yg telah berbaik hati pada kita. Dan semoga ini membuat kita sadar bahwa kitapun seharusnya menjadi “cahaya kebaikan” di hidup orang lain. Semoga dimanapun kita berada, bersama siapapun kita, dan kapanpun waktunya, kita membuat hidup orang lain jadi lebih mudah, lebih indah dan lebih baik.

If you want to create abundance for your self, practice compassion

If you want to create abundance for others, practice compassion

If you want to create abundance for all, practice compassion

 

Mentoring Hari ke-7 :

Competiton or Collaboration

Mempunyai pola pikir dan hati yg dipenuhi keberlimapahan adalah modal dasar untuk menjadi abundance person. Tapi ini belum mewujud nyata, sampai kita juga punya skill (ketrampilan) riil untuk menciptakan abundance dalam hidup kita. Ada 3 skillset yg perlu kita kembangkan untuk melengkapi abundance mindset & heartset.

Hari ini kita bahas yg pertama: Memilih bekerja sama, dibanding bersaing.  Bersaing memang ada baiknya. Dengan bersaing kita jadi dipaksa mengeluarkan usaha terbaik kita. Kita jadi lebih bersemangat untuk mempertahankan posis kita, atau bahkan merebut pangsa pasar orang lain. Tapi bersaing juga melahirkan dampak negatif yg bisa jadi tidak sepadan dengan manfaatnya.

Mari kita bahas lebih dalam perbedaan antara bekerjasama vs. bersaing

Kerjasama:

– Dua pihak SALING MENGUATKAN kemampuan masing2

– Mengenali KEKUATAN masing2 untuk saling melengkapi & menyempurnakan

– Kebutuhan dan harapan masing pihak DIPAHAMI dan DIPENUHI

– Ilmu, skill, dan sumber daya dibagi, untuk membuatnya semakin membesar

– Ada pertukaran yg saling menguntungkan kedua pihak. WIN-WIN

 

Persaingan:

– Satu pihak MENGEKSPLOITASI  dan merugikan pihak lainnya

– KELEMAHAN satu pihak dimanfaatkan pihak lain untuk menghabisinya

– Hanya peduli dengan kebutuhan dan harapan pihaknya sendiri, kalau perlu dengan menghancurkan lawannya.

– Ilmu, skill dan sumberdaya dimonopoli satu pihak, kalau perlu dengan membuat pihak lain tidak kebagian

– Salah satu pihak pokoknya ingin menang, kalau perlu dengan mengalahkan pihak lain. WIN-LOSE

Dari perbandingan diatas, silahkan anda pilih, anda lebih suka yg mana. Anda bisa sukses meraih ambisi anda dengan kolaborasi maupun kompetisi. Tapi anda hanya akan menemukan kedamaian hati dan rahmatan lil ‘alamin, jika anda selalu ingin berkolaborasi, bukan berkompetisi, kecuali dengan kejahatan.

 

LATIHAN KE-7:  ABUNDANCE SKILLSET DENGAN MEMILIH BERKOLABORASI DEBANDING BERKOMPETISI

  1. Bayangkan seseorang atau satu perusahaan di mana anda selama ini BERSAING dengan dia untuk berebut konsumen, dll.
  2. Coba anda bayangkan, adakah cara untuk membuat hubungan persaingan ini menjadi hubungan KERJA SAMA
  3. Jika ada hambatan emosi untuk melakukan kerjasama, karena selama ini sudah terbiasa bersaing dengannya, Coba anda buka pikiran dan hati anda lagi dengan 6 latihan sebelumnya (abundance mindset & heartset)
  4. Hubungi orang atau perusahaan tersebut untuk memulai langkah pertama (minimal i’tikat baik) mengajaknya bekerjasama
  5. Perhatikan keajaiban dan keberkahan yg timbul dari semangat kerjasama (silaturahim) yg mulai anda jalankan ini.

Selamat mencoba.. dan temukan kedamaian hati sebagai efek samping positifnya.

 

Mentoring Hari ke-8 :

Menciptakan Vs Berebut = Blue Ocean Strategy

Biasanya kalau ada seseorang yg melakukan inovasi, kemudian inovasinya berhasil diterima oleh masyarakat (laris), kita akan tergoda meniru dia dan menyaingi dia dengan memperebutkan pasar yg sudah ada. Ada juga yg memiliki filosofi bisnis ATM (Amati, Tiru, Modifikasi). Ini adalah cara paling mudah untuk memulai bisnis. Tinggal amati saja yg telah berhasil, lalu tirulah dia, bikin modifikasi pada beberapa hal, dan anda siap melaunching bisnis baru anda.

ATM tidak ada salahnya, hanya saja jika anda melakukan ATM, ada dua kode etik yg perlu diikuti:

  1. Sampaikan dengan jujur dan terbuka, darimana anda menirunya (mengapresiasi sang inovator, dan supaya tidak mempermalukan diri karena dituduh “Plagiat”)
  2. Unsur “modifikasinya” lebih kental dibanding unsur “tiruannya” sehingga tidak ada yg menuduh “niru plek” cuman dikasih merek lain.

Ada resiko yg besar ketika anda melakukan ATM, yaitu anda jadi terpaksa bersaing dengan orang yg anda tiru itu. Dan ini bukanlah cara “abundance”, kecuali anda beda negara atau teritori market.

Salah satu teori manajemen yg sangat populer tentang bagaimana menemukan atau bahkan menciptakan pangsa pasar baru sehingga tidak perlu berebut pasar yg sudah ada, adalah: Blue Ocean Strategy (BOS).

 

Berikut adalah Video berbahasa Indonesia yg menjelaskan BOS dengan cukup gamblang:

 

Silahkan disimak, dan kerjakan latihan berikut:

LATIHAN KE-7:  ABUNDANCE SKILLSET DENGAN BLUE OCEAN STRATEGY

  1. Setelah melihat Video 12 menit diatas, apakah 3 hal yg paling bisa anda terapkan dalam situasi bisnis/pekerjaan anda?
  2. Adakah cara lain yg anda temukan untuk “menemukan/menciptakan” pasar baru
  3. Mulai aplikasikan yg anda temukan tersebut dalam bisnis/pekerjaan anda

Resources: Ada sangat banyak bahan belajar di Internet tentang Blue Ocean Strategy. Anda tinggal googing. Bahkan jika anda serius ingin mempraktikkannya, anda bisa akses Tools2nya di website resmi sang penulis: https://www.blueoceanstrategy.com/tools/

 

Mentoring Hari ke-9 :

Terus Belajar, Mempraktikkan & Mengajarkan

Kawan2, tak terasa kita telah berada di penghujung mentoring untuk Exponential Person. Tiga abundance mindset telah kita pelajari dan praktikkan. Tiga abundance heartset juga telah kita lampaui. Bahkan dua abundance skillset pun telah kita pelajari. Di abundance skillset yg terakhir ini sengaja saya tidak memberikan resep spesifiknya, karena ada begitu banyak skill baru yg  bisa kita pelajari, untuk membuat kita menjadi exponential person.

Dan memang kita harus terus mencari, menemukan, dan mengasah skil2 baru, jika kita ingin terus mengupdate dan mengupgrade diri dalam usaha bertumbuh secara eksponensial. Kita tidak boleh stuck dalam satu atau dua skill saja. Dulu guru saya bilang bahwa jika kita ingin terus melejitkan pertumbuhan diri kita, maka asumsikan bahwa ilmu dan skill yg telah kita kuasai sekarang ini, dua tahun lagi tidak relevan, agar kita terus open-mind, open-heart dalam mempelajari ilmu2 baru dan mengasah skill2 baru. Dan ini adalah tugas hidup yg tidak pernah selesai sampai ajal menjemput.

 

LATIHAN KE-9: 

ABUNDANCE SKILLSET DENGAN TERUS BERKOMITMEN MENG-UPDATE DAN MENG-UPGRADE DIRI SECARA BERKELANJUTAN

  1. Tuliskan daftar minimal 10 hal baru yang anda pelajari 1 tahun terakhir, dan minimal 1 skill baru yg anda latih secara konsisten 1 tahun terakhir
  2. Tuliskan daftar minimal 10 HAL BARU yang AKAN anda pelajari 1 tahun ke depan (2018), dan minimal 1 SKILL BARU yg AKAN anda latih secara konsisten 1 tahun kedepan
  3. Bikin jurnal (catatan harian/mingguan) tentang kemajuan diri anda selama tahun 2018. Siapa tahu ini bisa menjadi buku yg layak diterbitkan :). atau bahkan menjadi Film yg layak ditonton rame2.

Selamat melakukan perjalanan meng-update dan meng-upgrade diri secara terus-menerus..

 

Mentoring Hari ke-10

Karyawan Tetap Vs Partner Exponensial

Apa perbedaan utama Gojek dengan Bluebird, yg membuat Gojek tumbuh secara eksponensial dan membuat Bluebird menyerah? Apa yg membuat Gojek tumbuh sangat besar dalam waktu sangat singkat (hampir 1 juta driver dalam waktu 8 tahun), yg tidak akan mungkin bisa disangi oleh perusahaan taxy konvensional sehebat apapun?

Rahasianya adalah di ciri pertama organisasi ekponensial: “Staff & Asset on Demand”. Organisasi eksponensial bisa tumbuh sangat pesat dalam waktu sangat singkat, karena mereka lebih mengandalkan membangun “partnership” dibanding “memiliki karyawan/aset”. Bayangkan jika driver gojek harus jadi karyawan dulu dan mobilnya/motornya dimiliki perusahan, maka Gojek tidak akan bisa tumbuh besar dalam waktu cepat. Karena untuk melakukannya, diperlukan SDB, pool taxy dan modal finansial yg luar biasa besar, dengan resiko gagalnya dibebankan perusahan semua.

Dengan sistem partnership, dimana semua driver dan kendaraan bukan dimiliki perusahan, tapi sewaktu2 bisa digunakan jika diperlukan (on demand), maka potensi pertumbuhan eksponensialnya bisa tanpa tanpa batas, dengan resiko yg sangat kecil. Begitu juga AirBnB bisa menyewakan 2,5 juta kamar, tanpa pernah memiliki hotel, karena semua kamar tadi bukan milik AirBnB, tapi sewaktu2 dibutuhkan, kamarnya siap (lagi2 sifatnya On-Demand)

Jadi kalau anda sekarang memiliki bisnis atau bekerja dalam suatu organisasi, dan anda ingin tumbuh 10x lipat, pertanyaan intinya adalah: seberapa jauh anda memiliki asset & people on demand? seberapa ramping organisasi (karyawan tetap) anda & seberapa banyak orang yg bersedia sewaktu2 kerjasama sama anda jika dibutuhkan?

 

LATIHAN KE-10:  EXPONENTIAL ORGANIZATION DENGAN MENGGALAKKAN PARTNERSHIP

  1. Berapa jumlah karyawan tetap anda? terlalu gemuk-kah organisasi anda? Bisakah anda menawarkan “partnership” yg saling menguntungkan pada mereka, bukannya menjadi karyawan tetap?.
  2. Coba imaginasikan ulang, bisakah anda bikin organisasi anda seramping mungkin, tapi merangkul sebanyak mungkin “partner” dengan hubungan yg memenangkan semua pihak?
  3. Jika organisasi anda tumbuh 10x lipat dalam 3 tahun ke depan, kira2 anda perlu berpartner dengan siapa sajakah agar ini bisa berjalan lancar?

 

Mentoring Hari ke-11

Fixed Cost Vs Variable Cost

Dalam perusahaan konvensional, biasanya fungsi2 vital perusahaan mengandalkan karyawan tetap. Perusahaan hanya meng-outsource-kan pada “orang luar” fungsi2 yg tidak terlalu penting (misalnya security service atau cleaning service. Sementara Fungsi2 yg dianggap penting seperti IT, Akuntansi, Keuangan, Pemasaran, Logistik, Operasi, dll, biasanya ditangani oleh karyawan2 tetap.

Perusahaan Eksponensial membuat aturan main yg berbeda. Mereka bahkan meng-outsource-kan funsi2 vitalnya pada orang/perusahan lain. Mereka memiliki mentalitas abundance sehingga tidak takut berbagi fungsi vital dengan perusahaan lain.

Sebagai contoh, SEFT Corp awalnya menjalankan sendiri semua fungsi vital perusahaan. Mulai dari pengembangan produk training, marketing dan selling, event organizing, trainer, keuangan, dll. semua kita kerjakan sendiri.

Tapi saat ini, hampir semua fungsi vital tersebut kita outsource-kan ke para partner. Para trainer, event organizer, marketer & seller adalah partner kami sekarang (bukan bagian dari karyawan perusahaan.

Apakah ini adalah sesuatu yg selalu ideal untuk dilaklukan? jawabannya adalah: It depends.  Seberapa jauh proporsi ideal antara karyawan tetap dan para partner external sangat tergantung situasi unik perusahaan masing2.

Hanya saja yg ditemukan oleh Salim Ismail saat meneliti perusahan2 eksponensial, salah satu kesamaan mereka adalah: mereka tidak takut mempercayakan fungsi2 vital perusahaan pada para partnernya. Tentunya setelah dirasa bahwa itu tidak mengancam eksistensi perusahaan.

 

LATIHAN KE-11:  EXPONENTIAL ORGANIZATION DENGAN MENGANDALKAN OUTSOURCING. MENGUBAH FIXED COST MENJADI VARIABLE COST

  1. Silahkan anda tuliskan apa yg selama ini menjadi fixed cost (biaya tetap) perusahaan anda
  2. Coba anda renungkan ulang, bIsakah anda ubah biaya tetap itu menjadi biaya tidak tetap (variable cost) dengan cara meng-outsource-kan fungsi2 dalam perusahaan anda baik yg non-vital maupun yg vital
  3. Ambil 1 fungsi saja yg dalam waktu dekat siap anda outsourcing-kan.

Selamat Mencoba….

Mentoring Hari ke-12

12.Mentoring Ke-12 “Exponential Abundance”: On-Demand Asset

Selain on-demand staff, organisasi eksponensial juga menggunakan prinsip on-demand asset. Prinsip ini agak bertentangan dengan bisnis konvensional yang lebih menyukai membeli (bukan menyewa/on-demand) aset. Dalam bisnis konvensional, folosofi dasarnya adalah, dengan memiliki aset, terutama property, maka kalaupun bisnisnya ndak jalan, maka nilai asetnya akan terus meningkat. Aset dianggap sebagai kepemilikan (harta) riil perusahaan.

Dalam organisasi eksponensial, penekanan utamanya bukanlah di kepemilikan aset yg nilainya terus bertambah, tapi bagaimana tanpa memiliki aset, bisnis menghasilkan proofit yg terus bertambah secara eksponensial. Perhatikan AirBNB, tanpa memiliki aset property, dia bisa menyewakan 1 juta kamar, jauh melebihi Hilton, Marriot, Hyatt group dll.

Sehingga walaupun jaringan hotel konvensional itu memiliki Aset property yg luar biasa banyak, tetap saja Nilai capital market AirBnB Jauh diatas mereka (Lebih dari 400 Trilyun Rupiah). Yg lebih penting lagi, dengan tanpa memiliki sendiri aset propertynya, AirBnB bisa tumbuh secara eksponensial, sementara hotel tradisional, tidak bisa mengejar pertumbuhan drastis AirBnB, karena untuk menambah kamar hotel mereka harus membangun hotelnya dulu (perlu waktu lama untuk menyediakan sumber dana, ketersediaan tanah, rekrutmen SDM, dll).

Maka bagaimana dengan kita yg mungkin masih baru mulai berbisnis ini?

Nah jika situasinya seperti ini, bisa saja anda menempuh jalur bisnis konvensional yg mementingkan kepemilikan aset (property terutama), sebagai penjamin rasa aman. Tapi, jika inipun susah anda lakukan (karena perlu modal besar), anda bisa menempuh jalur organisasi eksponensial, dimana semua aset yg diperlukan untuk menghasilkan profit tidak perlu anda miliki sendiri (punya orang lain). Dan jistru itu, anda bisa bertumbuh secara cepat.

LATIHAN KE-12: EXPONENTIAL ORGANIZATION DENGAN MENGGUNAKAN ASET ORANG LAIN (ASSET ON-DEMAND = LEVERAGED ASEET)

1. jika anda belum memiliki aset property sama sekali, jadikan ini prioritas anda. Karena ini penting sebagai penjamin rasa aman dan nilainya akan terus meningkat, walau tidak secara eksponensial.

2. Setelah ambang rasa aman anda terpenuhi, dan anda ingin tumbuh secara eksponensial, maka mulai pikirkan untuk menggunakan aset orang/perusahaan lain (misalnya: property, kendaraan, skill, jaringan logistik, dll sesuai bisnis anda), yg mau bekerja sama dengan anda secara sinergis.

3. Pikirkan bagaimana anda bersama partner penyedia aset anda tersebut bisa tumbuh bersama2 secara eksponensial.

ALTERNATIF:


1. Jika anda termasuk yg tidak terlalu memprioritaskan rasa aman (risk-taker, bukan security-seeker), anda bisa skip langkah pertama diatas, langsung mulai dengan langkah ke-2 dan ke-3. Kepemilikan property justru dilakukan belakangan, saat bisnis telah membesar secara eksponensial.

2. Semua hasil keuntungan tidak segera diinvestasikan ke pembelian aset property, tetapi diprioritaskan (kadang malah “dipertaruhkan”) untuk mempercepat pertumbuhan bisnis. Ini adalah jalur yg ditempuh para founder start-up yg memang biasanya mereka ini para risk-taker dan growth-junkies.

________

1. Berapa jumlah karyawan tetap anda? terlalu gemuk-kah organisasi anda? Bisakah anda menawarkan “partnership” yg saling menguntungkan pada mereka, bukannya menjadi karyawan tetap?.

2. Coba imaginasikan ulang, bisakah anda bikin organisasi anda seramping mungkin, tapi merangkul sabanyak mungkin “partner” dengan hubungan yg memenangkan semua pihak?

3. JIka organisasi anda tumbuh 10x lipat dalam 3 tahun ke depan, kira2 anda perlu berpartner dengan siapa sajakah agar ini bisa berjalan lancar?

 

Mentoring Hari ke-13

Mentoring Ke-13 “Exponential Abundance”: Community Engagement

Ada perusahaan yg menganggap pelanggannya adalah objek yg mereka “manfaatkan” untuk membeli produknya. Ada juga perusahaan yg menganggap pelanggan adalah “aset” yg perlu mereka gunakan untuk menghasilkan keuntungan. Tapi juga ada yg menganggap pelanggan adalah “partner” untuk maju bersama, atau anggota komunitas yg di dalamnya saling memberdayakan dan menguntungkan secara berkelanjutan.

Organisasi eksponensial adalah jenis perusahaan ketiga. Mereka bisa tumbuh secara cepat sekali karena melibatkan pelanggan sebagai anggota komunitas yg merasa ikut “memilki” dan merasa bertanggung jawab  mendukung misi perusahaan.

Perusahaan eksponensial bahkan tidak hanya melibatkan pelanggan, supplier, fans, dll hanya saat ada acara bakti sosial atau riset pasar, tetapi juga dalam peran2 vital lainnya seperti pengembangan produk baru, penentuan pricing, perbaikan kualitas layanan, bahkan memberikan masukan tentang performace team (misalnya: tiap naik gojek diminta memberikan rating driver yg mengantar).

Dalam mengelola SEFT Corp pun, terutama saat pengambilan keputusan2 penting dan perubahan kebijakan, saya hampir selalu meminta pertimbangan anggota komunitas kami seperti para SETFer, EO, trainer, dan marketer. Dan komunitas kita pun baik secara mandiri maupun disponsori oleh perusahaan, terus mengadakan acara2 komunitas seperti Boothcamp, gathering, refinement, bakti sosial, dll.

Intinya, kalau anda ingin bisnis maupun diri anda bisa tumbuh secara eksponensial, maka buatlah komunitas yg aktif kegiatannya. Lihatlah semua stakeholder anda bukan sebagai objek, tetapi partner dalam satu komunitas yg saling berbagi dan saling menguatkan dan saling menguntungkan, dengan semangat LoGOS tentunya.

 

LATIHAN KE-13:  EXPONENTIAL ORGANIZATION DENGAN MEMBANGUN & MENGAKTIFKAN KEGIATAN KOMUNITAS

> Apapun bisnis, organisasi atau pekerjaan anda sekarang, jika anda belum membuat komunitas pelanggan,supplier, distributor, supporter dll, maka mulailah membangunnya.

> Jangan hanya menyapa komunitas anda ketika membutuhkan (atau saat jualan saja), tapi fokuslah untuk memberikan “value” atau manfaat yg banyak dan berkelanjutan, tanpa memikirkan dulu apa imbal hasilnya. Tunjukkan ketulusan anda bahwa anda membangun komunitas bukan untuk “memanfaatkan” mereka, tapi untuk bersama2 saling memberi manfaat.

Sekali2 silahkan anda jualan atau meminta dukungan komunitas, asal prinsip “every body win” tetap dijunjung tinggi.

 

Mentoring Hari ke-14

Many to Many Communication & Peer to Peer Value

Ketika perusahaan anda membangun komunitas pelanggan, pastikan komunikasi terjadi tidak hanya antara perusahan dan komunitas (one to many), tapi juga terjadi komunikasi antar anggota komunitas (many to many).

Komunikasi “many to many” memang beresiko untuk menimbulkan kegaduhan dan kekacauan. ketika semua orang boleh berkomentar, biasanya akan terjadi kegaduhan, dan ketika semua pelanggan boleh berkomunikasi satu sama lain, maka satu insiden ketidakpuasan pelanggan bisa menular kemana2 dan menjadi “viral”.

Tapi ini sudah menjadi keniscayaan di era sosial media. Satu orang bisa berpengaruh ke banyak orang yg lain jika terjadi “virality efffect”. Maka kita tidak bisa menghindari kemajuan teknologi sosial media ini, tapi justru harus memanfaatkannya sebaik mungkin.

Pertumbuhan anggota komunitas secara eksponensial menyaratkan terjadinya “Efek Viral”, dan ini hanya bisa terjadi jika komunikasi dilakukan “many to many” (seperti yg terjadi di FB, Twitter, Instagram, etc.). Maka tugas utama perusahaan adalah memfasilitasi ini.

Mengenai efek samping berupa kemungkinan terjadinya juga efek viral berita negatif, bahkan hoax tentang perusahaan, bisa di atasi dengan “kejujuran & keterbukaan perusahaan dalam menjalankan Good Corporate Governance”.

Sebagaimana kita sebagai manusia, perusahan juga perlu menerapkan apa yg disarankan Mahatma Gandhi, “jika anda baik dimanapun dan kapanpun, maka anda tidak perlu menyimpan rahasia. Dan jika anda tidak punya rahasia, maka semakin damai hati anda, semakin jarang orang berbicara negatif tentang anda.

Hal kedua yg perlu dibangun dalam komunitas adalah peer to peer value, dimana para anggotanya saling memberi manfaat satu sama lain. Hal ini bisa ditegakkan dengan aturan dan budaya komunitas untuk hanya fokus memberi manfaat positif satu sama lain, dan menahan diri dari hal2 yg bisa merugikan atau menyinggung anggota komunitas yg lain.

Saya kira itu pula sebabnya di group ini, pak Danny sebagai admin, dan kita semua saling mengingatkan untuk hanya posting sesuatu yg positif dan fokus pada tujuan utama group ini didirikan, serta menahan diri dari posting hal2 yg tidak relevan dan berpotensi menimbulkan ketidaknyamanan anggota group yg lain, yg background Suku, Agama, Ras, golongAn dan keyakinan Politiknya (SARAP) berbeda.

LATIHAN KE-14: EXPONENTIAL ORGANIZATION DENGAN MEMBANGUN M2M Communication & P2P Value

1. Sudahkah anda disain agar semua anggota komunitas anda bisa berkomunikasi satu sama lain? tidak hanya dua arah saja antara anda (perusahaan anda) dan mereka

2. Sudahkah anda komunikasikan dan tegakan Budaya “Fokus pada Tujuan Utama & Aura Positif” dalam pola interaksi antar anggota komunitas anda

3. Sudahkah anda bikin sebuah budaya komunitas agar setiap anggota selalu bertanya dengan pertanyaan legendaris John F Kennedy, “jangan tanyakan apa yg bisa komunitas ini berikan pada saya, tapi tanyakan apa yg bisa saya kontribusikan buat komunitas ini”

 

Mentoring Hari ke-15

Mentoring Ke-15 “Exponential Abundance”: Converting Crowd to become Community

Apa yg membuat masyarakat luas (crowd) ingin bergabung menjadi anggota komunitas (community) anda? Adakah sesuatu yg begitu menarik dalam DNA perusahaan/orgnisasi anda yg membuat orang yg awalnya tidak kenal anda, begitu mengenal, langsung ingin join menjadi “keluarga besar” anda?

Baru2 ini saya di pesawat dari Jakarta menuju San Fransisco membaca buku “The Four: the Hidden DNA of Amazon, Apple, Facebook & Google”. Menurut anda apa yg membuat si empat sekawan dalam gank GAFA ini merajai dunia sekarang?

Di tahun 2014, Gank of Four ini pendapatannya hampir menyamai Denmark, negara maju dengan besaran GDP ranking 35 di dunia (GAFA = $316 Billion Vs Denmark = S330 Billion), sementara jumlah total warganya (karyawan) hanya 1/10 dari Denmark*. Setahun kemudian, uang cash-nya Apple saja sudah hampir menyamai GDP Denmark**.

Apa yg bisa kita pelajari dari GAFA berkaitan dengan kemampuan mereka merekrut crowd menjadi community?

Scott Galloway (penulis The Four), berargument, “Yg bikin the Four bener2 mencengkram dunia, dan kita semua secara suka rela join dalam keluarga besar mereka adalah: The Four menjawab kebutuhan dasar manusia dalam 4 bidang: Otak, Hati, Perut & Gengsi.

Google adalah penyedia utama informasi buat “otak” kita (search engine). Facebook adalah rumah untuk memenuhi kebutuhan bersosialisasi pemuas “hati” kita (connection builder). Amazon adalah gudang pemuas kebutuhan “perut, etc” kita (anything you want to consume). Dan Apple adalah pendongkrak utama “Gengsi” kita (Luxury gadget dng margin keuntungan setinggi Ferrary dan jumlah Penjualan sebanyak Toyota).

Maka kebutuhan dasar manusia yg manakah yg hendak dipenuhi oleh perusahaan/organisasi anda? Jika melalui anda kenbanyakan manusia merasa terpenuhi “kebutuhan dasar” nya, maka anda punya DNA untuk secara natural membuat crowd menjadi community. Orang2 akan secara suka rela dan berbondong2 join menjadi “keluarga besar” anda.

Berikut beberapa kebutuhan dasar manusia yg bisa anda jadikan inspirasi sebagai DNA organisasi/bisnis yg hendak atau sudah anda bangun:

1. Kebutuhan untuk belajar
2. Kebutuhan untuk cari penghasilan
3. Kebutuhan untuk bahagia
4. Kebutuhan untuk sembuh dari sakit fisik/emosinya
5. Kebutuhan untuk sukses dalam apa yg dia perjuangkan
6. Kebutuhan untuk sandang, pangan, papan.
7. Kebutuhan untuk beribadah & beragama
8. Kebutuhan Transportasi & Komunikasi
9. Kebutuhan untuk mencintai & menyalurkan “gairah”
10. Dll.

JIka anda bener2 bisa memiliki DNA seperti GAFA, maka anda ada di level 4 (jawaban “D” atas pertayaan dia atas), jika belum, anda bisa gunakan strategy2 yg disebutkan di jawaban A, B atau C.

Apa dengan memiliki DNA perusahaan seperti GAFA maka otomatis anda bisa tumbuh secara eksponensial “segila” GAFA? Jawabannya: BELUM, ingat, ada 12 bidang (dalam 3 kategori) yg perlu anda penuhi untuk tumbuh secara eksponensial. Tapi paling tidak anda telah memenuhi persyaratan utama untuk mengubah crowd menjadi community: Mendasarkan DNA perusahaan anda pada pemenuhan hajat hidup orang banyak, atau kebutuhan dasar manusia.

LATIHAN KE-15: EXPONENTIAL ORGANIZATION DENGAN Mengubah Crowd menjadi Community:

1. Kebutuhan dasar manusia yg manakah yg hendak dipenuhi oleh perusahaan anda?

2. Apakah secara natural memang produk/service anda itu membuat para pelanggan anda ingin merekomendasikan & menularkannya ke orang lain? Apa alasan utama mereka ingin menularkan ke orang lain?

3. Sudahkah anda pastikan agar proses penularan ini berjalan secara massive, karena semua yg terlbat (pelanggan, masyarakat umum, karyawan, investor, dll) merasa diuntungkan (every body win)?

 

Mentoring Hari ke-16

Mentoring Ke-16 “Exponential Abundance”: Gunakan Prinsip2 “Gamification”

Apa yg membuat anak (atau bahkan kita yg sudah dewasa ini) bisa kecanduan game? Apa yg membuat game bisa menyerap konsentrasi kita, membuat kita merasa “flow” hingga lupa waktu, bahkan lupa makan?

Kondisi “flow” ini, kata salah satu pelopor “positive psychology”, Mihaly Csikszentmihalyi adalah pendorong utama yg membuat orang:
– sangat menikmati apa yg sedang dilakukan (bisa pekerjaan, bisa juga permainan),
– sangat produktif (peak performance),
– dan terserap dalam tingkat konsentrasi yg sangat tinggi (khusyu’) hingga lupa waktu, lupa hal2 lain
– Efek sampingnya: keranjingan (bahkan kecanduan) apa yg dikerjakannya itu.

Nah, prinsip “flow” ini dipraktikkan dengan sangat intensif oleh para pembuat GAME, maka jangan heran kita jadi menikmati sekali, lupa waktu, bahkan bisa kecanduan game.

Kabar baiknya, prinsip2 ini bisa kita terapkan juga tidak hanya pada game yg murni buat hiburan, tapi juga bisa untuk membuat game yg mendidik dan memberdayakan. Bahkan prinsip2 yg sama bisa pula digunakan untuk mendisain produk, service dan proses kerja kita, agar siapapun yg beli produk kita, atau menggunakan service kita, atau bekerja bersama kita, akan merasakan “flow” yg mirip dengan yg dialami oleh para gamer itu.

Penggunaan prinsip2 dalam GAME yg bisa bikin orang mengalami “flow” dan keranjingan ini, disebut dengan GAMIFICATION.

Apa saja prinsip2 gamification yg bisa kita terapkan dalam mendisain produk dan jasa kita, agar siapapun yg menggunakannya akan mengalami:
– keranjingan,
– menjadi pengguna setia,
– bahkan merekomendasikannya dengan suka rela,
– sehingga kemungkinan bisa bikin viral
– dan jumlah pelanggan kita bisa tumbuh secara eksponensial ?

Berikut Beberapa Prinsip Gamification:

1. Keseimbangan antara “Challange & Expertise”. Antara tantangan yg diberikan harus seimbang dengan ketrampilan. Jika tantangan terlalu rendah bikin bosan, terlalu tinggi bikin cemas, tapi kalau pas dan seimbang dengan ketrampilan, maka terjadilah “flow”.

2. Bidang yg dikerjakan harus yg sesuai dengan “Passion & Strength”. Jika dari awal permainan/pekerjaan/produk/service yg disuguhkan tidak bikin orang berminat (bukan passion-nya), maka jelas tidak akan terjadi “flow”. Dan jika selain bidang itu menjadi minat kita, juga merupakan bidang keahlian (strength) kita, maka “flow” akan semakin intensif. Itu sebabya, para Gamer itu, semakin jago, jadi semakin ketagihan main game.

3. Ada segebok prinsip dan segudang detail yg bisa dipelajari dan diterapkan, tentunya tidak pada tempatnya saya jelaskan di sini semua.

 

Mentoring Hari ke-17

Mentoring Ke-17 “Exponential Abundance”: A/B Testing & Growth-Mindset

Apa salah satu faktor terpenting yg mendukung kemenangan Donald Trump dalam pemilihan presiden Amerika kemarin? Mengapa figur kontroversial, berangasan dan bagi banyak orang menjengkelkan ini, yg awalnya tidak diunggulkan bisa memenangkan pertarungan presiden?

Salah satu yg diyakini banyak ahli digital marketing adalah karena peran “campaign digital director”, Brad Pascale. Saking pentingnya peran “digital marketing strategist” ini, sampai dia diangkat lagi dan dipromosikan menjadi manager kampanye Trump untuk pemilu Amerika 2020.

Apa satu hal istimewa yg dilakukan Pascale untuk membalik peta dukungan dari Clinton ke Trump?. Dia mengunakan Facebook Ad secara masif (total menghabiskan dana 94 Juta dolar) dan menerapkan “A/B Testing” secara fanatik (175.000x tes dalam sehari)

A/B Testing adalah metode paling basic dalam ilmu periklanan, khususnya iklan on-line. Ini untuk mengetes, kira2 format, waktu, desain, pilihan kata, dan detail2 lain yg manakah dalam iklan kita yg lebih efektif.

Caranya dengan membandingkan hasil dari dua iklan yg sama persis, tapi dibedakan dalam satu untur saja (misalnya: waktu beriklan, warna huruf, pilihan font, target audience, pilihan kata, ukuran gambar, dsb). Nah anda lihatkan, bisa ada ribuan variasi yg bisa kita ukur. Brad Pascale ini sampai mengunakan 175.000 kali tes dalam sehari hanya untuk mengetahui dengan sangat presisi, tepatnya iklan yg model bagaimana yg paling efektif.

Saat mengukur pakai A/B Testing itu, pastinya banyak uang yg terbuang (biaya eksperimen), dan ratusan ribu kali kegagalan (untuk tahu mana iklan yg tidak efektif). Tapi semua biaya eksperimen dan kemauan untuk gagal berkali2 ini justru menjadi kunci kemenangan Trump dalam pemilu presiden Amerika (pelajaran bagi yg mau mencalonkan diri dalam pilkada).

Dan ternyata prinsip elsperimentasi dan kesediaan untuk gagal dan belajar, adalah bahan baku utama untuk sukses dalam banyak bidang kehidupan.

Carol Dweck, Profesor Psychology di Stanford University menegaskan pentingnya “willingness to face setbacks and failures (kesediaan menghadapi kemunduran dan kegagalan)” dalam kesuksesan di segala bidang, baik bisnis, pendidikan, olahraga, maupun kehidupan. (buku klasik beliau, “MIndset: The New Psychology of Success” baru saya beli di toko buku Stanford kemarin).

Professor Dweck ini teorinya sangat terkenal dan dipakai secara luas dalam dunia pendidikan dan bisnis. Beliaulah yg melahirkan istilah: Fixed Mindset Vs Growth Mindset.

Beliau menemukan, bahwa anak2 yg sukses BUKANLAH anak2 yg padanya ditanamkan keyakinan bahwa “kamu pintar” atau “kamu bodoh” (Fixed-Mindset), tapi anak2 yg padanya ditanamkan sebuah keyakinan bahwa “kamu bisa meraih apapun asal punya kegigihan/ketekunan/kerja keras dalam meraihnya” (Growth-Mindset).

Jadi JANGAN lagi bilang ke anak2 anda bahwa kalau mereka berhasil adalah karena mereka cerdas atau pintar, TAPI katakan bahwa kalau mereka berhasil itu karena mereka mau kerja keras, tekun, bersedia menerima tantangan dan tetap semangat saat mengalami kegagalan.

Begitupala dalam usaha menjadi organisasi/perusahaan yg tumbuh secara eksponensial, anda harus memiliki “Growth-Mindset” ini. Seperti yg dikatakan Winston Churchill: Tidak ada kemenangan yg final, dan tidak ada kegagalan yg permanen, yg penting adalah terus bergerak maju. Terus bereksperimetasi, tidak takut gagal, dan selalau belajar dari kemenangan maupun kekalahan.

That’s the way to become 10X BETTER.

Salah satu metode terbaik yg diterapkan banyak startup dan perusahaan2 eksponensial untuk bereksperimentasi mencari model bisnis yg terbaik adalah: LEAN STARTUP. Tapi biarlah ini kita bahas besok saja.

Untuk saat ini, yg terpenting adalah kita memiliki “GROWTH MINDSET” dan mengajarkannya pada anak2 dan rekan2 kerja kita. Agar kita tidak melakukan lagi SALAH KAPRAH: “kamu berhasil karena kamu cerdas, cantik, pintar, dsb”. Kita GANTI DENGAN “Kamu berhasil karena kamu mau belajar/bekerja keras”. Tentunya sambil menyadari bahwa hakikatnya, kita berhasil hanya karena Rakhmat Allah semata

LATIHAN KE-17: EXPONENTIAL ORGANIZATION DENGAN GROWTH-MINDSET

1. Apakah anda masih suka memuji anak, atau karyawan saat mereka sukses dengan statement: memang kamu cerdas/pintar/cakap atau KATA SIFAT (adjective) yg lain? Jika iya, segera ganti dengan pujian “Wah kerja keras atau belajar tekunmu akhirnya membawa hasil ya”.

2. Tanamkan contoh2 growth-mindset berikut ini ke anak2, murid, karyawan, dan diri kita sendiri tentunya: “Hasil tidak pernah menghianati proses”. “Man jadda wajada”. “Orang cerdas akhirnya akan kalah sama orang tekun”. “Bakat tanpa kerja keras adalah sia2”, dll.

3. Sudahkah anda mencoba A/B testing untuk menemukan format terbaik untuk: materi promosi anda, materi training, atau hal2 lain yg relevan?

 

Mentoring Hari ke-18

Berekperimentasi dengan metode LEAN STARTUP

Sebenarnya pembahasan tentang Lean Startup adalah materi mentoring ke-17, tapi sengaja saya pisah menjadi materi ke-18, agar ruang pembahasanya lebih leluasa hari ini, karena kemarin lebih fokus ke “Growth-Mindset”

Jadi apa itu Lean start-up dan mengapa ini menjadi salah satu metode mencari bentuk produk/service/model bisnis yg paling banyak digunakan sekarang? Ijinkan saya bercerita sejarahnya.

Steve Blank adalah kakek gurunya para Start-up Fonders, penulis buku dan peneliti di bidang startup. Berawal dari seorang mekanik pesawat di era perang Vietnam, lalu mendirikan beberapa start-ups, beberapa berhasil, ada juga yg gagal, akhirnya beliau mengajarkan ilmu per-sartup-an di Stanford, Columbia, Berkeley, NYU, dll. Beliau inilah yg menjadi bapak metode eksperimentasi yg dikemudian hari dikembangkan oleh muridnya, eric ries menjadi apa yg sekarang populer dengan istilah  “lean start-up”.

Asal anda mau mengeksplore website ini saja, https://steveblank.com saya kira ilmu anda tentang “lean start-up” bisa dikatakan level “sabuk hitam”. Atau kalau mau ke muridnya beliau, yg sekarang lebih populer juga boleh: http://theleanstartup.com

Nah bagi yg ndak terlalu serius ingin mendalami topik ini, berikut saya sarikan ringkasannya:

  1. BUILD: Begitu anda punya Ide tentang suatu produk/service, maka segera saja anda bikin produk dengan fitur minimal yg layak dilaunch (Minimum Viable Product)
  2. MEASURE: Lalu anda mulai ukur respons dari para pelanggan awal anda, apa yg mereka suka dan apa yg mereka ndak suka dari produk/service anda.
  3. LEARN: Apa yg bisa anda pelajari dari para pemakai produk anda tersebut, Apa produk ini perlu dipertahankan (persevere) atau dirubah (pivot)

Setelah belajar langsung dari pengalaman dan pendapat para pemakai produk anda yg masih versi “percobaan” tersebut, maka anda bikin (BUILD) lagi produk versi yg lebih baik, lalu diukur lagi response para pemakai berikutnya (MEASURE) dan belajar lagi dari pengalaman dan masukan para pelanggan tersebut (LEARN). Begitu terus diulangi lagi prosesnya sampai menemukan “produk/service dengan fitur ideal” dan siap dipasarkan secara besar2an.

Intinya, dalam proses BUILD, MEASURE & LEARN itu, anda dengan rendah hati MENDENGARKAN masukan dari para pemakai produk/service anda, terus bereksperimentasi untuk menemukan produk yg paling pas, dan menyempurnakannya terus menerus

 

LATIHAN :  EXPONENTIAL ORGANIZATION DENGAN LEAN START-UPS ATTITUDE

  1. Apa “IDE CEMERLANG” anda sekarang? (paling tidak cemerlang menurut anda). Ini kita namakan hipotesis anda, karena belum terbukti cemerlang menurut para calon customer anda.
  2. Jangan terlalu banyak berandai2, atau memikirkan terlalu njelimet tentang apakah ide anda ini bagus apa tidak, tapi segeralah bikin prototypenya (MVP) dan minta beberapa orang mencoba produk/service anda tersebut.
  3. Dengarkan masukan dari first cusomers (pelanggan2 awal anda), lalu mulailah bereksperimentasi dengan mengurangi dan menambah fiturnya, sambil ukur dan pelajari terus masukan dari para pelanggan anda, sampai anda menemukan produk/servis dengan fitur yg “cukup layak” untuk diproduksi massal

 

Mentoring Hari ke-19

Membangun “Self-Organizing Team”

Zappos adalah Fortune 100 “Best Company to Work For” selama 7 tahun berturut2. Disini, selain menghasilkan profit milyaran dolar, karyawannya merasa menjadi karyawan paling bahagia dibanding perusahaan2 lain, bahkan dibanding Google sekalipun. Makanya kantor pusatnya di down town Las Vegas menjadi salah satu tempat yg ingin saya kunjungi saat nanti training di sana.

Bagaimana Zappos menjadi “tempat kerja terbaik” menurut majalah Fortune? sekaligus salah satu startup yg paling berhasil (profitable), sehingga akhirnya di akuisisi sama Amazon? Dan mengapa bahkan setelah dibeli Amazon, bos Amazon janji untuk tidak mengubah “company culture Zappos”, malah Amazon yg kemudian belajar dari Zappos?

Salah satunya karena sistem dan disain organisasinya yg unik. Zappos adalah perusahaan terbesar yg menerapkan “Holocracy” dengan sukses. Apa itu holocracy? ini adalah disain dan sistem organisasi revolusioner yg mengenalkan konsep: tanpa “jabatan”, tanpa “garis wewenang dan otoritas”, tidak ada atasan dan bawahan, karena itu tidak ada “office politics”, alias rebutan jabatan di kantor.

Berikut Perbedaan Utama Holocracy dan Organisasi konvensional:

1. Job Descriptions Vs Roles: Dalam organisasi konvensional, tiap orang punya jabatan, diskripsi tugas dan wilayah tanggung jawab yang pasti . Dalam Holocracy, tiap orang punya peran yg sangat fleksible dan bersifat sementara. Perannya bisa berganti2 dan merangkap beberapa peran sesuai tugas temporer yg dia kerjakan.

2. Delegated Authority Vs Distributed Authority: Perusahaan normal menentukan wilayah otoritas tiap jabatan pegawai secara hirarkis. Beberapa wewenang di delegasikan ke bawah, tetapi atasan selalu punya wewenang untuk mengambil keputusan yg mengikat para bahawannya. Dalam Holocracy, wewenang benar2 didistribusikan ke para anggota organisasi, dan keputusan selalu ditentukan secara lokal, tanpa harus ada persetujuan atasan. Inilah yg disebut self-organized team.

3. Big Reorganization Vs Rapid Iterations: Dalam organizasi normal, perubahan strutur organisasi jarang terjadi, jika dilakukan biasanya secara besar2an dan mandatnya selalu dari atas ke bawah. Dalam Holocrazy, perubahan struktur organisasi dilakukan secara kontinyu menyesuaikan situasi yg terus berubah. Perunahannya kecil2 tapi sering, dan mandatnya ada di tiap team2 kecil. Lagi2, inilah ciri2 self-organizing team.

4. Office Politics Vs Transparent Rules: Aturan main perusahaan konvensional yg hirarkis sering kali memihak pada mereka yg jabatannya lebih tinggi, karena itu terjadi rebutan jabatan dan office politics. Dalam Holocracy, aturan main bersifat egaliter, mengikat secara setara dari mulai CEO hingga penerima tamu.

5. Bonus dari saya: Mental Pejabat Vs Mental Start-Ups Founder. Organisasi konvensional cocok untuk kita yg lebih merasa nyaman dengan kemapanan, senang kalau punya jabatan yg “jelas” apalagi kalau merasa punya “wewenang yg lebih tinggi” di banding orang lain. Holocracy cocok untuk orang yg bermental “pemimpin revolusi yg egaliter, misalnya pendiri startups”, yg perhatian utamanya adalah getting things done.

BTW, Pendiri dan CEO Zappos, Tony Hsieh, dengan kekayaan 780 Juta Dolar, gaji resminya 1500 dolar/bulan (gaji paling rendah di kantornya). Di kantor dia tidak punya ruangan khusus CEO, tapi membaur dalam cubicle seperti karyawan2 lain. Dia tinggal di trailler park dalam sebuah airstream (rumah mobile berbentuk truk yg bisa dibawa jalan kemana2) dengan biaya hidup 1000 dolar/bulan. Dan ketika ditanya wartawan yg heran dengan gaya hidupnya apa definisi “sukses” bagi dia? Tony menjawab: “getting to the point where you are truly OK with losing everything you have” (Sukses = Mencapai sebuah kesadaran dimana anda benar2 OK saat kehilangan semua yg anda miliki).

LATIHAN KE-19: EXPONENTIAL ORGANIZATION DENGAN SELF-ORGANIZING TEAM & REVIEW YOUR DEFINITION OF SUCCESS

1. Lihatlah kartu nama anda. Jabatan apa yg tertulis disana? apa Titlle dan gelar yg tampil disana? apakah anda masih membanggakan dan mengandalkan semua itu? atau anda mengangap semua itu tidak terlalu penting, dan fokus pada “Misi, Tugas & Kontribusi’?

2. Lihatlah para bawahan anda. Anda melihat mereka sebagai “bawahan” yg levelnya dibawah anda untuk anda eksploitasi atau “manfaatkan” untuk mencapai ambisi anda, atau anda melihat mereka sebagai kawan2 seperjuangan untuk bersama2 menunaikan misi, menjalankan tugas, dan mendapatkan result yg membuat semua orang bahagia dan mengeluarkan yg terbaik dari dirinya?

3. Apa artinya “sukses” buat anda? Coba anda renungkan ulang, jika Allah hanya memberi anda waktu cuman 6 bulan untuk ada di dunia ini, kira2 apa yg ingin anda lakukan dalam sisa hidup anda ini? Apa arti “sukses” bagi orang yg sisa hidupnya tinggal 6 bulan?

 

Mentoring Hari ke-20

Pengambilan Keputusan yg Terdistribusi

Setiap organisasi adalah unik. Kita tidak bisa serta merta mengkopi rumus keberhasilan di satu organisasi dengan serta merta menjadi formula yg bisa kita terapkan dengan berhasil pada organisasi kita.

Tapi paling tidak menurut Frederic Laloux, dalam buku monumentalnya yg menjadi bahan perbincangan hangat para peneliti dan praktisi pengembangan organisasi, “Reinventing Organization”, sejarah umat manusia mengenal evolusi 5 tahap bentuk organisasi:

1. Era Barbarian (Red Org.).

Di Era ini, Ciri dominannya adalah: Penggunaan rasa takut dan kekuasaan otoriter untuk mengendalikan kekacauan. Terobosan baru yg dipelopori era ini adalah: Otoritas komando dan pembagian kerja yg jelas). Saat ini masih dipraktikkan oleh organisasi mafia, gangster jalanan dan organisasi teror.

2. Era Otoritas Religius (Amber Org.)

Dikenal juga sebagai organisasi tradisional, dimana ciri utamanya adalah patuh pada hirarki jabatan, mencintai stabilitas dan kontrol yg ketat. Terobosan di era ini adalah: punya perspektif jangka panjang, menekankan proses kerja yg teratur dan pembagian peran & jabatan formal. Dari awal tahun masehi Sampai sekarangpun ini tetap dijalankan dalam organisasi militer, pemerintahan, dan keagamaan (khususnya di gereja katolik)

3. Era Industrial (Orange Org.)

Revolusi Industri melahirkan jenis organisasi ketiga, dimana mantra utamanya adalah: kompetisi, profit dan “show me the result” atau management by objective. Terobosan yg dilakukan di era ini adalah lahirnya inovasi, akutabilitas dan meritokrasi (siapa yg berprestasi, maka dialah yg dihargai). Organisasi bisnis yg sudah mapan dan universitas2, kebanyakan menggunakan jenis organisasi ini.

4. Era Milenial (Green Org)

Jenis organisasi ini dicintai oleh generasi milenial karena menekankan nilai2 kebersamaan, egaliter, mengutamakan kesejahteraan pelanggan dan karyawan. Terobosan yg dilakukan adalah: keseimbangan pemenuhan harapan para stakeholder (bukan hanya pemegang saham saja), menekankan pentingnya “budaya perusahaan yg bahagia” diatas strategi bisnis dan pencarian keuntungan materi, serta pemberdayaan karyawan. Biasanya ini model organisasi yg populer untuk startups teknologi dan perusahaan2 semacam Google, Ben & Jerry (ice cream) dan Southwest airlines.

5. Era Eksponensial (Teal Org.)

Nah ini adalah jenis organisasi yg agak revolusioner di era kekinian yg serba eksponensial. Ciri khasnya: tahan banting, didirikan untuk tujuan yg mulia, lebih dari sekedar cari untung, dan pengambilan keputusannya terdistribusi ke semua anggota. Terobosan yg dilakukan: menekankan pendekatan kesejahteraan holistik untuk semua stakeholders, kemandirian (self-management), dan tujuan perusahaan yg terus berevolusi (tidak stagnan). Yg terbukti dengan berhasil menggunakan jenis ini misalnya: organisasi perawat independen di Belanda (Buurtzorg) perusahaan garmen Patagonia, Perusahaan agribisnis Morningstar, 12 perusahaan yg diteliti oleh penulis buku Reinventing Organization, dll.

Nah, khusus dalam pengambilan keputusan, organisasi evolusioner (Teal Org.) ini memiliki ciri khas:

1. The Advice Process: Semua anggota organisasi berhak mengambil keputusan. Pengambil keputusan, khususnya orang yg paling berkaitan dng keputusan yg mau diambil. Dan dia mengambil keputusan setelah: a. Berkonsultasi dengan semua orang yg paling terkena dampak dari keputusan tersebut; b. orang2 yang punya keahlian dibidang yg mau diputuskan. Intinya adalah bukan untuk berkompromi dengan semua orang, tapi belajar dari kebijaksanaan kolektif dari orang2 terkait yg membuat keputusan yg dihasilkan lebih matang dan lebih berempati dengan pihak2 terkait.

2. Ini bukan Konsensus: Kita sering terobsesi bahwa keputusan hanya bisa dihasilkan oleh satu diantara dua ini: a. seseorang yg berwenang (efisien, cepat, tapi kurang mengindahkan pendapat orang lain); b. konsensus bersama (semua pendapat wajib diperhatikan, tapi jadi bertele-tele). Dalam Self-management (dengan cara advice process ini), Pengambil keputusan tidak mencari kesepakatan bersama, tapi hanya meminta masukan pihak2 terkait & pihak2 yg ahli dibidang itu, tapi keputusan sepenuhnya ada ditangan dia, dan Konsekuensi keputusan juga tetap menjadi tanggung jawab penuh pengambil keputusan.

Menurut Dennis Bakke, CEO AES, perusahaan fortune 200 yg mempelopori cara pengambilan keputusan lewat Advice Process, teknik decision making ini memiliki beberpa keuntungan, diantaranya adalah: menciptakan semangat komunitas, kerendahan hati, terus belajar, dan menghasilkan keputusan yg lebih baik dengan cara yg lebih membahagiakan. Silahkan membaca dua buku karya beliau untuk memahaminya lebih dalam: Joy at Work dan The Decision Maker. http://www.dennisbakke.com

LATIHAN KE-20: EXPONENTIAL ORGANIZATION DENGAN DECENTRALIZED DECISION MAKING

1. Menurut Dennis Bakke, ada 3 cara membuat keputusan: a. Sang pemimpin membuat keputusan secara mandiri (otoriter); b. Sang pemimpin cukup rendah hati untuk meminta masukan para bahawannya sebelum akhirnya DIA membuat keputusan; c. Sang pemimpin MEMBERDAYAKAN bawahannya dengan mempersilahkan sang bawahan (orang yg paling dekat terkait dengan masalah tersebut) membuat keputusan, dan san bawahan bertanggung jawab penuh atas keputusan tersebut. Sebelum mebuat keputusan Sang bahwan boleh meinta masukan pada pemimpinnya, para kolega dan orang2 yg terkait, dan para orang yg kompeten dibidang tersebut. Nah yg manakah dari 3 cara itu yg anda gunakan selama ini dalam mengambil keputusan, saat anda menjadi pemimpin? (baik pemimpin keluarga, maupun pemimpin kantor atau masyarakat).

2. JIka anda sedanng memimpin, dan hendak membuat keputusan, sebelum tergoda memutuskannya sendiri, coba lakukan beberapa hal berikut: a. Pilihlah dari team yg anda pimpin, siapa yg paling pas mengambil keputusan. Pilihlah orang berdasarkan kedekatan dia dengan masalah, yg paling tahu detail masalahnya (proximity), atau tergantung kasusnya, pilihlah justru yg tidak terlalu dekat dengan masalah sehingga punya perspektive yg lebih luas dan netral (perspective). lalu pertimbangkan juga pengalaman dia untuk memutuskan hal yg serupa dengan masalah tersebut (experience), juga gunakan kebijaksanaan anda sebagai pemimpin (wisdom), apa bener dia orang yg tepat untuk memutuskan.

3. Jika anda akhirnya sebagai pihak yg memutuskan (the decision maker), maka lakukan “Advice Process” dengan meminta nasehat/masukan dari: A. Orang2 punya pengalaman menangani hal2 yg anda putuskan itu (EXPERIENCE); B. Orang2 dari berbagai posisi, diantaranya atasan, teman sejawat, bawahan, para ahli, dsb, agar anda dapat masukan dari berbagai perspektif (POSITION); C. Ingatlah bahwa Keputusan anda akan berdampak pada pihak2 terkait, dan membawa konsekuensi bagi organisasi, maka bertanggungjawablah. Anda tidak harus selalu tepat keputusannya, yg penting proses meminta nasehat ini benar2 anda jalani dengan optimal (RESPONSIBILITY); D. Jika orang dimintai nasehat, mereka biasanya akan ikut membantu anda. Mereka akan menjadi kesuksesan project anda adalah kesuksesan mereka. Intinya adalah bukan hanya sekedar bikin keputusan yg tepat, tetapi juga untuk membangun tim yg kuat, meningkatkan komunikasi dan memperbaiki kualitas semua keputusan yg terjadi dalam organisasi.

 

Mentoring Hari ke-21

Memiliki Misi Besar Yg Berdampak Sosial Besar

Tahun 2014, Salim Ismail meneliti 100 perusahan yg tumbuh paling eksponensial, dan menemukan bahwa mereka semua memilki Massive Transformative Goals (MTP), yaitu sebuah tujuan yg sangat besar, bahkan kadang hampir mustahil (massive), yg bisa mengubah secara dramatis sebuah industri, komunitas, bahkan dunia (tranformative). MTP ini saya sebut disini Massive Social Mission (MSM).

Mengapa perusahan perlu memiliki MTP/MSM?
1. Mendorong team untuk memprioritaskan ide2 besar, strategi pertumbuhan eksponensial, dan kelincahan organisasi dalam merespon perubahan
2. Memicu motivasi intrinsik (bukan ekstrinsik=sekedar imbalan uang dan bonus) yg membuat baik anggota team maupun customer tergerak untuk mendukungnya.
3. Memikat para talent terbaik untuk bergabung dan mendukung misi mulia yang diperjuangkan perusahaan dan terus termotivasi untuk memperjuangkannya.
4. Membuat para anggota team/karyawan semakin solid karena merasa memperjuangkan tujuan mulia yg sama.

LATIHAN KE-21: EXPONENTIAL ORGANIZATION DENGAN MEMILIKI MSM:

1. Identifikasi SIAPA yang hendak anda layani. Siap komunitas, segmen pasar, atau kelompok customer yg menjadi sasaran misi anda. Apakah para pelajar? pecandu narkoba? Manula di Perkotaan? atau Siapa tepatnya?

2. Identifikasi APA masalah yg hendak anda bereskan, atau solusi APA yg anda tawarkan? Untuk menemukan ini Peter Diamandis memberi 2 saran: 
a. Tuliskan tiga masalah “besar” yg anda paling semangat ingin mencarikan solusinya.
b. Pada 3 masalah itu tanyakan 6 hal berikut dan beri skor 1-10 (1=perbaikan kecil; 10=perbaikan besar)
c. Pertanyaan itu adalah:

1. Jika di akhir hayat anda akhirnya anda bisa memberikan kontribusi besar di bidang ini, seberapa bahagiakah anda

2. Dengan sumber daya yang anda miliki saat ini, seberapa besar dampak positif yg bisa anda bikin dalam 3 tahun kedepan jika anda berhasil memberikan solusi.

3. Jika anda bisa mendapatkan sumber daya yg dibutuhkan, seberapa besar dampak yg bisa anda timbulkan dalam 3 tahun ke depan

4. Seberapa dalam pemahaman anda tentang masalah ini

5. Seberapa anda bersemangat untuk mengerjakannya?

6. Apakah masalah ini akan selesai dengan sendirinya dengan atau tanpa peran anda didalamnya?  Skoring: Jumlahkan masing2 skor dari 3 masalah besar yg anda tuliskan tersebut. Maka yg nilainya tertinggi kemungkinan besar yg paling cocok untuk anda perjuangkan

3. Jika anda dan organisasi anda sudah memiliki MSM, maka sekaranglah waktunya mulai bertindak.

 

Mentoring Hari ke-22

“Exponential Abundance”

Kita memasuki Bagian terakhir dari Mentoring menuju Exponential Abundance. Seperti yg kita pahami sebelumnya: Exponenstial Abundance terjadi saat kita menggabungkan 3 hal:
1. Exponential Person (Diantaranya, Sang Pemimpin menjadi Exponential Leader, Silahkan menghubungi KUBIK Leadership atau CEO-nya, Pak Jamil Azzaini, untuk training 2 harinya yg dahsyat);
2. Exponential Organization (Salim Ismail fokus membahas ini)
3. Exponential Technology (Selain dibahas Salim Ismail, 2 orang tokoh utama yg spesifik membahas ini adalah 2 orang pendiri Singularity University: Ray Kurzweil & Peter Diamandis)

Dua bagian pertama telah kita bahas di Mentoring 1-21. Kini kita akan mulai membahas bagian ke-3; Exponential Technology dalam 9 kali metoring terakhir.

Dari sisi jenis produk atau service yg kita tawarkan, semakin berbentuk digital (non fisik) produknya, semakin mudah kita tumbuhkan secara eksponential. Apalagi jika tidak hanya produknya yg berbentuk digital, tapi juga seluruh proses bisnisnya juga terotomatisasi secara digital, maka akan membuat bisnis kita semakin memungkinkan untuk dibikin tumbah ugal2an (eksponensial)

Kita ambil contoh, Video Entertainment. Dulu kalau mau sewa DVD kita perlu datang ke persewaannya, nunggu beberapa hari, jika sedang di sewa orang lain, dan harus mengambil DVD-nya di tempat rental, kalau udah selesai nonton harus bawa lagi ke sana, kalau terlambat di denda. Ini contoh produknya “fisik (DCD)” prosesnya “fisik (ambil dan mengembalikan ke persewaan)”

Lalu di Amerika mulai ada Blockbuster, dimana produknya masih fisik (DVD) tapi prosesnya sudah digital (Tanpa perlu datang, DVD dikirim dan diambil di rumah)

Kemudian lahirlah Iphone & Itunes, dimana produknya masih ada yg fisik (iphone) tapi video yg mau ditonton tinggal download di itunes. Maka kita tidak perlu lagi nunggu orang lain selesai nonton supaya kita bisa nonton. 

Terakhir dengan adanya Netflix, kita bahkan tidak perlu Iphone atau alat apapun produksi Netflix. Karena baik produk maupun prosesnya semua serba digital. Kapanpun, dimanapun mau lihat Film, tinggal langganan Netflix (bahkan ndak perlu download). Pada fase ini, pertumbuhan pelanggan dan penonton video tumbuh secara eksponensial.

LATIHAN KE-22: EXPONENTIAL TECHNOLOGY DENGAN DIGITALISASI PRODUK & PROSES

1. Coba anda lihat, apa produk/service yg selama ini anda tawarkan ke pelanggan (Misal: Training (service) atau Buku

2. Bisakah anda bikin produk itu tidak berupa Fisik lagi, tapi dirubah jadi produk didital (Misal: Training Live jadi Training Online; Buku dirubah jadi E-book)

3. Bisakah bukan hanya service/produk-nya yg digitalkan, tapi juga proses bisnisnya (Misal: Training pendaftaran & pembayaran secara manual oleh perusahaan dirubah jadi pendaftaran online oleh customer secara mandiri; E-book dideliver secara massif dengan customer melakukannya sendri tanpa harus dipandu perusahaan)


Catatan:
- Jika Produk anda Jamu misalnya, bisakah yg anda jual bukan “minuman jamu-nya” tapi lisesnsi ramuan jamunya anda franchise-kan, etc.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

EnglishIndonesian