Kesejahteraan Petani dan Ketahanan Pangan

Petani juga dapat hidup sejahtera. Jika percepatan pembangunan desa di Indonesia dapat dilakukan dengan baik maka warga desa yang sebagian besar adalah petani akan dapat menikmati kesejahteraan. Percepatan pembangunan desa diharapkan dapat menjadikan desa menjadi hunian yang nyaman serta juga menjadi tempat usaha yang menjanjikan.

Warga desa dapat menikmati kesejahteraan tanpa harus pindah ke kota. Tenaga terampil yang ada dapat memilih berusaha di kota maupun di desa, dengan percepatan pembangunan desa maka mereka mungkin akan memilih bekerja di desa karena peluang untuk maju lebih besar dan kompetisi masih terbatas.

Sebaliknya jika desa tak berubah, petani masih dicengkeram kemiskinan. Petani harus bekerja keras namun memperoleh penghasilan yang rendah. Istri petani yang hamil kurang gizi dan anemia yang menyebabkan janin yang tumbuh mengalami gangguan pertumbuhan. Bayi akan lahir dengan berat badan rendah dan kemungkinan mengalami gangguan pertumbuhan karena kurang gizi kronik sehingga anak anak mengalami stunting. Sekitar 37 % anak Indonesia mengalami stunting dan sebagian besar ada di desa. Mereka yang seharusnya diharapkan tumbuh menjadi tenaga produktif ketika dewasa  kemudian menjadi beban masyarakat karena kemampuan kognitif maupun fisik rendah. Petani tidak boleh hanya diminta memproduksi pangan yang dibutuhkan masyarakat. Petani juga harus dapat  menikmati kue pembangunan nasional, kesejahteraan keluarga petani harus ditingkatkan sehingga mereka dapat  berkontribusi untuk pembangunan nasional termasuk mendukung katahanan pangan.

Kesejahteraan Petani dan Ketahanan Pangan

Adakah peluang untuk melakukan percepatan pembangunan desa ?

IPB pernah menerbitkan buku yang berjudul Menuju Desa 2030 yang mencoba memberi gambaran desa di Indonesia pada tahun 2030 nanti. Buku tersebut optimis bahwa Desa Indonesia pada tahun 2030 akan dapat maju asalkan mendapat dukungan dari pemerintah dan masyarakat untuk dapat mengatasi tantangan yang ada. Ada faktor penting yang belum dbahas dalam buku tersebut yaitu kecepatan kemajuan teknologi. Kemajuan teknologi yang bersifat eksponensial akan memacu desa menjadi lebih cepat maju. Pendidikan dan pelatihan yang selama ini dilakukan melalui tatap muka melalui teknologi informasi dapat dilakukan secara jarak jauh dengan biaya yang murah dan waktu yang fleksibel. Kemajuan teknologi yang cepat di bidang pertanian, peternakan dan perikanan juga akan dapat meningkatkan produktivitas warga desa. Kekurangan modal yang selama ini juga menjadi hambatan dapat dihimpun dari luar desa dengan kemajuan teknologi. (contoh i-ternak, agrofund). Bahkan produk desa dapat dibantu untuk dipasarkan ke pasar global melalui aplikasi agrowing. Memang untuk dapat memanfaatkan teknologi informasi serta kemajuan teknologi di berbagai bidang ini diperlukan perubahan sikap. Warga desa harus mempunyai keinginan untuk maju. Untuk merubah sikap tentulah tidak mudah namun jika ada contoh yang mudah mereka lihat pada umumnya warga desa juga ingin maju serta bersedia berperan serta dalam pembangunan desa mereka.

 

Jaringan Pelita Desa

Pelita Desa yang didirikan oleh remaja di Desa Ciseeng Parung sekarang sudah mempunyai jaringan yang cukup luas diantaranya di Ciomas, Bogor, Pangandara, Tanjung Lesung, Cirebon, Temanggung, Bondowoso, Banyumas, Belitung, Batam, Kendari, Lombok, Sumbawa, Ende. Pelita Desa membentuk jaringan dengan remaja desa di sana dan berkolaborasi untuk membangun desa di sana.

Pelita Desa adalah sekelompok remaja yang berkeyakinan bahwa mereka dapat hidup nyaman dan berusaha di desa. Pengalaman mereka, mereka bagi dengan remaja yang juga mau hidup dan berusaha di desa. Pelita Desa berdiri sejak tahun 2004 dan sekarang sudah mempunyai 4 wahana edukasi dan entertainment yang disebut Edu 1, Edu 2, Edu 3 dan Edu 4. Masing-masing merupakan tempat rekreasi sekaligus sebagai informasi bidang pertanian, perkebunan dan perikanan. Wahana ini telah menghasilkan dan sebagian hasilnya telah dikembalikan ke masyarakat berupa informasi dan pelatihan untuk memajukan desa.

Kesejahteraan Petani dan Ketahanan Pangan

Pada tanggal 11 Februari yang lalu remaja desa sekitar Embung Pernek Sumbawa Besar meresmikan wahana wisata desa mereka yang dihadiri oleh aparat kabupaten, dinas pariwisata, kehutanan dll, serta ratusan remaja dari Universitas Teknologi Sumbawa serta siswa SMU setempat. Remaja desa membersihkan Embung Pernek, memperbaiki tangga serta membangun WC dengan dukungan Pelita Desa.

Di Tanjung Lesung warga yang terkena relokasi proyek pariwisata Tanjung Lesung ditempatkan di Desa Cikadu. Warga desa yang biasa bertani sekarang tanahnya terbatas sehingga sebagian berubah menjadi nelayan. Namun mereka tidak mempunyai perahu dan akses transportasi terbatas. Pelita Desa membantu perencanaan agar desa dapat melengkapi kegiatan wisata di Tanjung Lesung berupa wisata budaya, serta kuliner. Masyarakat memperagakan kesenian dan batik serta membangun restoran terapung serta homestay yang dapat dinikmati juga oleh wisatawan kota yang ingin menikmati keindahan alam Tanjung Lesung. Ketegangan antara warga dengan proyek wisata berubah menjadi saling melengkapi.

Untuk dapat meningkatkan pembangunan desa memang diperlukan keberpihakan pemerintah terhadap warga desa. Kepemilikan tanah harus jelas dan sedapat mungkin dipertahankan. Warga desa jangan dibiarkan menjual tanahnya dan kemudian hanya menjadi penonton pembangunan yang berjalan di desa. Aparat desa perlu menjadi fasilitator dan mendorong masyarakat termasuk swasta untuk berusaha di desa. Ekonomi desa perlu bergerak. Faktor pengungkit pembanguna desa dapat berupa desa wisata, produk pertanian yang eksotik serta produk lainnya. Jambu kristal di desa Sleman dapat dipasarkan ke Belanda oleh agrowing. Sudah tentu pembukaan pasar ini akan meningkatkan keinginan bertani serta meningkatkan pendapatan petani karena sekarang harga hasil tani tak lagi ditentukan oleh tengkulak.

Penggerak pembangunan desa pada umumnya adalah remaja. Mereka bergabung membentuk Rumah Kreatif Desa. Kelompok ini dapat merupakan remaja karang taruna atau bahkan juga dapat siswa pesantren yang ada di desa. Keterlibatan pesantren ini akan menguntungkan dalam pendidikan santri karena pengalaman dalam membangun desa semasa pendidina mereka dapat dibawa ke desa tempat mereka bertugas sebagai dai nantinya.

Pelita Desa semakin optimis percepatan pembangunan desa dapat dilaksanakan. Apalagi sekarang kolaborasi dengan beberapa desa di Thailand dan di Taiwan membuka mata mereka bahwa pembangunan desa dapat berhasil dilaksanakan. Warga desa setara dengan warga kota dapat hidup nyaman dan sejahtera.

Samsuridjal Djauzi | www.pelitadesa.com

(samsuridjal@yahoo.com / pelitadesapusat@gmail.com)

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

EnglishIndonesian