Antara Kuala Lumpur dan Batam…. (Catatan Perjalanan : Bag 1)

“Dunia adalah sebuah buku, dan mereka yang tidak melakukan perjalanan, berarti baru hanya membaca satu halaman saja…”

Kutipan dari seorang filsuf dunia ini sepertinya benar adanya.Travelling mengajarkan kita untuk melihat sebuah hal lebih dekat. Bukan sekadar kata orang. Karena mengetahui sesuatu hal dengan cara terjun langsung akan memberikan kesan yang sangat berbeda. Travelling juga mengajarkan untuk mengenal sisi lain kehidupan dari perspektif yang berbeda.

Bertandang ke Negri Jiran

Pada tanggal 27 September 2018 lalu, Tim Pelita Desa berkesempatan melakukan rangkaian perjalanan Study Trip yang dimulai dengan menyambangi negri Jiran Malaysia. Kuala Lumpur sebagai ibukota Malaysia menjadi tujuan pertama kami.

Kami sampai di Bandara Kuala Lumpur Internasional Airport (KLIA2), sekitar pukul 11.30 waktu Malaysia. Bandara ini tak terlalu besar, dan masih kalah jauh dibandingkan Terminal 3 Soekarno Hatta. Kesan sepi dan tak terlalu ramai terasa. Namun, keteraturan dan integrasi antar moda transportasi lain sangatlah mudah dan cepat, karena bandara ini terintegrasi dengan angkutan bus. Di lantai bawah kami bisa dengan mudah menemukan bus counter untuk naik bus ke tujuan berikutnya. Tersedia pula Capsule Transit untuk pengunjung yang sudah sangat mengantuk dan ingin beristirahat. Biayanya RM 55 untuk 6 jam… yah, sekitar seratus sembilan puluh ribuan deh.

Capsule Transit

Kali ini tujuan kami adalah daerah Sungai Besi, Kuala Lumpur. Setelah membeli tiket, kami mendapatkan jam dan gate keberangkatan. Simple. Tanpa harus berdesak-desakan. Tinggal duduk dan menunggu waktu di gate yang telah ditetapkan. Tak berapa lama bus kami pun datang. Tipe Jetbus menyambut kami. Penumpang tertib memasuki bus. Perjalanan pun dimulai. Oiya, buat traveller jangan lupa untuk mengaktifkan paket roaming di ponsel kamu, agar bisa tetap berhubungan dengan orang-orang yang kamu sayangi di tanah air.

Hampir 30 menit perjalanan, kami habiskan dalam bus untuk menuju hotel tempat kami menginap, yang tentunya sudah kami booking sebelumnya. Sedikit tips, sebaiknya saat akan merencanakan bepergian, biasakan selalu selalu booking tiket pesawat pulang dan pergi serta hotel yang akan dituju. Karena hal ini untuk mempermudahkan saat proses di bagian imigrasi. Karena di bagian imigrasi anda akan ditanya berbagai hal.

Akhirnya, kami sampai juga di Terminal Bersepadu Selatan (TBS), Kuala Lumpur. Kesan pertama saat memasuki terminal bus ini adalah… wow! Terminal bus yang megah hampir menyerupai suasana bandara. Bersih, tertib, nyaman serta banyak petugas yang siap membantu. Sebelum melanjutkan perjalanan kami sempatkan makan siang di lantai atas. Cukup banyak restauran disini dengan berbagai pilihan. Setelah selesai santap siang, kami keluar terminal dan dihadapkan pada dua pilihan. Melanjutkan perjalanan dengan LRT atau dengan Grabcar online. Karena lokasi yang kami tuju cukup dekat, grab pun menjadi pilihan kami. hanya RM 5 atau sekitar Rp. 18.000,-.

Terminal Bersepadu Selatan (TBS)

Sampai di hotel, check in. Setelah semua beres kami pun menuju Sifoo Art And Multimedia dengan berjalan kaki. Di tempat ini kami akan mengikuti workshop seputar multimedia. Setelah registrasi, kami ternyata masih punya banyak waktu untuk mengeksplore Kuala Lumpur, karena workshop baru akan dimulai esok hari.

Mencoba LRT di negri Jiran

Sore ini kami sepakat bertemu dengan Tim Pertama (Ismi, Fatimah dan Dr. siska) yang telah tiba sebelumnya di Kuala Lumpur untuk kegiatan Workshop di tempat yang berbeda. Kami bertemu di Sunway Pyramid yaitu pusat perbelanjaan yang memiliki arsitekstur ala mesir dengan patung sphinx dan berbagai ornamennya. Destinasi inilah yang membuat kami untuk pertama kalinya akhirnya dapat mencoba moda transportasi LRT Kuala Lumpur.

Stasiun LRT tak terlalu jauh dari tempat kami menginap. Cukup berjalan kaki. Pembelian tiket dilakukan dengan mesin tiket. Setelah menentukan stasiun tujuan dan memasukan uang tunai, kita akan mendapatkan sebentuk koin. Bukan kartu loh… Awalnya kami bingung cara penggunaannya. Ternyata, mudah, koin itu cukup ditap di gate (bukan dimasukkan ya… karena awalnya kami mencari-cari lubang untuk memasukkannya, hahahaha…). Oh, iya bagi yang pertama menggunakan LRT ini jangan lupa untuk selalu membawa peta LRT. Bisa kok didapatkan di bagian informasi stasiun LRT atau Hotel. Kini kegiatan naik turun tangga stasiun pun mulai menjadi aktivitas utama kami. Jangan segan untuk bertanya jika merasa bingung. Akhirnya “kereta tanpa masinis” kami pun datang.

Bersih dan nyaman, itu yang terbersit saat kami masuk. Kereta ini seperti menyatukan berbagai bangsa di dalamnya. Kami berbaur bersama dengan mereka yang keturunan Arab, India, China, Melayu dan Indonesia tentunya. Hmmm, semoga LRT Jakarta segera selesai ya…

Singkat cerita, akhirnya kami bertemu dengan teman-teman dari Tim Pertama di Sunway Pyramid. Jalan-jalan sebentar dan foto bersama. Lalu kami pun berpisah. Karena tidak banyak waktu, kami putuskan untuk mengunjungi menara kembar Petronas yang terkenal itu, sekaligus melipir ke Kuala Lumpur Tower yang terletak tidak jauh dari sana.

Menengok Twin Tower dan KL Tower yang gemerlap

Kembali naik turun tangga Stasiun LRT. Akhirnya kami tiba di Twin Tower Petronas. Kami disambut megah dan gemerlapnya menara kembar petronas di malam hari. Lingkungan sekitarnya pun dibuat penuh dengan gemerlap lampu dan screen LED. Luar biasa. Kami himbau jika berkunjung kesini cobalah di malam hari. Karena akan lebih berkesan dan lebih cetarrr. Sayang jika berkunjung di siang hari…. selain panas juga tak akan dapat melihat selubung cahaya yang memukau di sekitar Petronas.

Menara kembar Petronas ini dirancang oleh Adamson Associates Architects, Kanada bersama dengan Cesar Pelli dari Cesar Pelli of Cesar Pelli & Associates Architects Amerika Serikat setinggi 88 lantai yang selesai dibangun pada 1998, dengan desain Interior yang merefleksikan budaya Islam yang mengakar di Malaysia.

Cukup banyak turis yang datang malam ini. kami harus bergantian untuk mengambil foto di spot yang tepat. Ada beberapa hal yang menarik di area menara Petronas ini. Pertama, hanya sedikit pedagang makanan kecil di sekitar area. Itu pun hanya satu di setiap pintu keluar. Bersih dan tertib. Hanya sayang masih ada pengemis di sekitar area walau hanya satu dan dua orang saja. Untuk yang tiba-tiba lapar lalu ingin mencari tempat makan yang murah meriah, itu cukup sulit. Karena lingkungan Petronas dikelilingi restoran-restoran besar dengan target turis berkelas. Sangatlah tidak sesuai bagi kami sebagai turis yang sangat “bersahaja” ini (hehehehe). Kami pun memutuskan berjalan kaki menuju KL Tower sambil terus berdoa agar mendapatkan tempat makan yang menawarkan harga bersahabat. Akhirnya doa kami terkabul. Ada sebuah foodtruck dengan menu nasi ayam goreng terparkir di sudut jalan nun jauh disana. Harga pun cukup bersahabat. Setelah santap malam “di depan” restoran-restoran mewah, kami melanjutkan tur menuju KL Tower.

Mohon jangan fokus pada modelnya ya… Tapi fokus pada bangunan di belakangnya saja…

Menara Kuala Lumpur (KL Tower) adalah sebuah menara di Kuala Lumpur, Malaysia yang dibuka pada tahun 1995 dan mencapai ketinggian 421 m, tertinggi ke-6 di dunia. Menara ini digunakan untuk memperlancar komunikasi dan seperti menara-menara tinggi lainnya, menara ini juga menyediakan dek pengamatan. Di malam hari pancaran ratusan lampu yang menghiasi KL Tower terlihat sangat indah.

Ternyata tak seperti yang kami duga, terlihat dekat tapi ternyata cukup jauh. Pejalanan pun mendaki. Hingga langkah kami harus terhenti karena lelah, walaupun sudah masuk ke dalam kawasan KL Tower. Foto-foto sebentar. Cus… lalu kami segera menuju stasiun dengan Grabcar. Terburu-buru, karena kereta terakhir adalah tepat jam dua belas malam.

Hari kedua, dibuka dengan sarapan bihun goreng ala Kuala Lumpur ditemani teh tarik hangat, sepertinya cukup untuk menemani aktivitas workshop kami yang akan dimulai pagi ini hingga sore nanti. Workshop berjalan dengan cukup seru dan lancar. Pkl. 17.00 kami beranjak pergi. Kami sempat pula berbicang dengan teman-teman mentor selepas Sholat Jumat, di salah satu kedai sambil santap siang.

Mereka bercerita, bahwa Kuala Lumpur (KL) sebagai ibukota yang memiliki warga yang beragam, mulai dari penduduk melayu lokal, Arab, India, China, Indonesia, dll… sangat menjunjung tinggi toleransi dan mengkedepankan sikap saling menghargai tanpa harus mencampuri adat ataupun kebiasaan dari warga berkebangsaan lain. Semua berjalan masing-masing sesuai alurnya. Hingga tak heran jika tingkat keamanan di KL ini cukup baik. Kami sendiri pun menyaksikan bahwa selepas tengah malam, masih banyak warga KL khususnya perempuan yang dengan santainya dan tanpa rasa cemas, bepergian dengan LRT.

Berburu oleh-oleh 

Karena hari masih sore kami putuskan untuk mampir ke Central Market (Pasar Seni). Central Market yang terletak di jantung Kuala Lumpur dan berjarak tempuh beberapa menit dari Petaling Street yang merupakan pusat budaya dan warisan Malaysia yang terkenal. Bangunan ini dibangun tahun 1888 dan awalnya berfungsi sebagai pasar. Lalu sejak itu dianggap sebagai bangunan bersejarah. Wisatawan selalu berbondong-bondong ke Central Market karena banyak dijual beragam kerajinan tangan, seni, kebaya, songket, dan suvenir asli Malaysia. Batik Emporium menjual berbagai label desainer ternama, dengan barang batik buatan Malaysia yang terbaik, mulai dari pakaian, sepatu, tas, hingga perlengkapan rumah. Tapi sayang…. Mahal.

Kami pun bergeser ke area Chinatown Jalan Petaling, terletak tidak jauh dari sana. Jalan Petaling, atau lebih dikenal dengan panggilan Petaling Street, merupakan kawasan pecinan di Kuala Lumpur, Malaysia. Selama bertahun-tahun lamanya, Jalan Petaling telah menjadi tempat bisnis dan pelestarian budaya dan tradisi masyarakat Cina di Malaysia, dengan kuil Buddha dan toko yang menjual oleh-oleh khas Kuala Lumpur, obat tradisional, dan makanan Tionghoa. Mulai sore hingga lewat malam, penjaja akan menjual barang mereka di jalan. Jarak Jalan Petaling dengan Stasiun LRT Pasar Seni hanya sekitar 400 meter. Disini harga lebih murah. Setelah sedikit berbelanja oleh-oleh untuk anak istri di rumah, kami pun berlalu.

(Kiri) Chinatown Jalan Petaling, (Kanan) Jalan Alor

Wisata Kuliner murah meriah

Tujuan berikutnya adalah Jalan Alor. Makin malam bukannya makin sepi tapi justru semakin ramai. Itulah sekilas suasana di Jalan Alor, Kuala Lumpur, Malaysia. Jalan Alor memang merupakan tempat wisata kuliner, tepatnya di kawasan elit Bukit Bintang, Kuala Lumpur. Tidak terlalu sulit menemukan Jalan Alor, jalan kaki hanya membutuhkan sekitar 5 menit perjalanan dari stasiun kereta monorel Bukit Bintang, tepatnya ke arah Raja Chulan. Berbeda dengan kawasan Bukit Bintang lainnya yang dipenuhi pusat perbelanjaan elit dan mahal, Jalan Alor justru surganya penggemar berbagai makanan murah dan kaki lima. Murah??? Nah, itu cocok untuk kami!

Setelah mencari makanan halal kami pun menikmati santap malam bersama ribuan turis lainnya. Menunya? Jelas, lagi-lagi Nasi Goreng. Karena makanan itu pas dengan perut lokal kami (Hahahaha).

Hari ketiga. Pagi menyambut. Beda waktu. Pkl. 06.00 masih sangat gelap. Tapi kami sudah harus berangkat ke Singapura. Check out, pesan Grabcar dan kami pun kembali menjejakan kaki di Terminal Bus yang megah, TBS. Segera kami beli tiket bus ke Singapura untuk dua orang. Menunggu sebentar di Gate yang telah ditentukan. Bus pun datang tepat waktu. Kami segera meluncur…

Perjalanan dari Kuala Lumpur ke Woodlands Singapore sekitar 4,5 jam. Tidak terlalu lama. Mengingat bus masuk jalan tol dan diselingin pemandangan indah perbukitan bumi jiran di kanan kiri jalan. Ada yang menarik. Ternyata motor boleh masuk ke jalan tol dan memiliki jalur sendiri pula. Wahhh… gratis pula. Unik juga mengingat hal seperti ini tak kita temukan di jalur jalan tol Pulau Jawa.

Tertahan di Imigrasi Singapura

Saat akan memasuki perbatasan negara Singapore, kami dibagikan kartu imigrasi. Harus diisi lengkap dan jelas. Sampai di Woodlands, prosedur pengecekan keimigrasian dimulai. Antrian panjang mengular, walaupun tersedia banyak gate. Semua barang bawaan akan dicek ulang. Disinilah tragedi kami dimulai….

Setelah menunggu sekian lama, tibalah giliran kami. Tengok kanan, tengok kiri… teman-teman seperjalanan kami ternyata sudah “lolos” semua melewati gerbang pengecekan. Sepertinya tinggal kami saja.

Giliran kawan saya yang duluan diperiksa. Semenit, dua menit. Tampak alot di depan. Ahhh benar saja… ada masalah. Hampir 10 menit lebih kami tertahan. Alasannya sederhana… karena KTP teman saya itu masih tertulis expired… sedangkan KTP Indonesia sekarang kan seharusnya sudah tertulis seumur hidup. Ya sudah, petugasnya melakukan cek sana cek sini. Hingga bergumam… Indonesia memang aneh… (hahahaha). Jangankan bapak, saya juga masih aneh lihat prosedur di negri sendiri. Akhirnya kami lolos….

Dengan tergesa kami turun. Tengok kanan, tengok kiri. Tanya sana tanya sini. Sepertinya kami tertinggal atau ditinggal bus sendiri. Ahhh…. Kecewa, tapi seru!

Sejak awal kami kami sudah merencanakan untuk menginap di daerah Bugis. Karena harga penginapan disana cukup terjangkau dan dekat dengan pusat oleh-oleh. Tidak putus asa, kami mengamati bus-bus khusus yang berangkat dari woodlands. Ternyata ada bus yang langsung menuju Bugis. Dan cuma 2,5 dollar singapore per orang. Jadilah kami naik. Semangat pun bangkit walau perut keroncongan. Oiya, ingat aplikasi google maps atau Waze di ponsel kamu akan sangat membantu, karena akan sangat memudahkan pencarian rute perjalanan yang kita mau.

Bugis di Singapore?

Perjalanan sekitar 45 menit. Kami pun sampai di Bugis. Kok ada Bugis di Singapore? Begini ceritanya… Setelah dikuasainya kerajaan Gowa oleh VOC pada pertengahan abad ke-17, banyak perantau Melayu dan Minangkabau yang menduduki jabatan di kerajaan Gowa bersama orang Bugis lainnya, ikut serta meninggalkan Sulawesi menuju kerajaan-kerajaan di tanah Melayu. Disini mereka turut terlibat dalam perebutan politik kerajaan-kerajaan Melayu. Hingga saat ini banyak raja-raja di Johor yang merupakan keturunan Makassar.

Ketika Johor dan laskar-laskar bayaran dari Bugis berhasil menaklukkan Jambi, Raja Johor justru ingkar janji. Orang orang Bugis pun marah, sehingga mereka secara membabi buta melawan Kerajaan Johor. Maka runtuhlah kerajaan Johor (yang waktu itu juga menguasai Riau dan Singapura) dan terpisah dari Kerajaan Lingga (Riau). Kedua kerajaan itu pun takluk pada orang-orang Bugis, sehingga jadilah raja-raja mereka turun tahta, dan digantikan oleh raja dan sultan-sultan Bugis, turun temurun sampai sekarang.

Menurut sejarah, 9 dari 13 kerajaan dan kesultanan di Malaysia adalah keturunan raja-raja Bugis, termasuk kerajaan terbesarnya, Selangor, hingga Yang Dipertuan Agung (Raja Malaysia), yang dijabat secara bergantian oleh raja-raja dari negara-negara bagian di Malaysia. Kejayaan Bugis yang berbaur sebagai orang Melayu itu pun, berpengaruh sampai ke Singapura. Hingga kini Kampung Bugis di kawasan Kallang masih ada, bahkan sudah berkembang pesat di Singapura. Dan diabadikan sebagai nama jalan ‘Kampong Bugis Street’.

Di kawasan Bugis berdiri pusat perbelanjaan terkenal seperti Bugis Village, Bugis Junction, Bugis Square, dan Arab Street. Di kawasan ini juga terdapat masjid besar di Singapura, ‘Sultan Mosque’, yang merupakan masjid peninggalan pengusaha-pengusaha Bugis di jaman itu. Konon untuk membangun masjid itu, orang-orang Bugis mengumpulkan uang dan emas, bahkan mereka menjual tanahnya di kawasan Geylang, yang dulunya sebagian besar adalah milik orang-orang Bugis.

Menginjakkan kaki di Bugis dengan perut lapar, membuat langkah kaki semakin berat. Kami memutuskan untuk ke Bugis Street terlebih dahulu, namun ternyata disana makanan halal sangatlah sulit didapat. Akhirnya kami pun menyerah dan mampir ke Mc Donald yang ada disitu. Kembali kami kecewa karena umumnya McD di Singapore ini tidak ada menu nasi. Tak ada nasi, kentang dan salad pun akhirnya kami ‘habisi’.

Setelah perut terisi, mencari penginapan adalah tujuan berikutnya. Tak jauh dari Bugis Street terdapat Arab Street. Kami segera menuju ke sana. Sekitar 15 menit kami sampai dengan berjalan kaki. Di area itu berdiri megah masjid Sultan. Di sekelilingnya bertebaran restoran halal yang umumnya dikelola para pendatang arab. Selain itu deretan hostel dan hotel pun bertebaran. Tapi…. ingat ini, biaya Hotel di Singapore sangatlah mahal. Akhirnya kami hanya bisa mendapatkan hostel yang cukup terjangkau harganya sekitar Rp. 800.000 semalam. Kamarnya sangatlah kecil mungkin sekitar 3×2 meter dengan 2 bed, tanpa TV, tanpa Handuk, tanpa jendela, kamar mandi pun di luar. tapi untunglah masih ada AC. Hmm… kira-kira seperti ruangan penyekapan tahanan lah (hahahaha). Umumnya di kamar lain ranjangnya bertingkat. Setelah mandi, kami pun bersiap berpetualang di negri singa.

Masjid Sultan

Berkunjung ke Merlion Park

Stasiun MRT dan LRT sangatlah dekat dari penginapan kami. Bisa dijangkau dengan hanya berjalan kaki saja. Dengan mesin tiket kami tentukan tujuan. Kali ini tiket berbentuk Card. Yang bisa dipakai untuk beberapa kali. Peta MRT dan LRT telah siap di tangan kami. Tujuan pertama kami adalah Merlion Park yang ada patung singa putihnya itu loh. Perjalanan pun dimulai dengan aktivitas fisik : naik turun anak tangga stasiun yang luarrrrr biasaaaaa banyaknya. Belum lagi saat di persimpangan interchange, kita harus pindah kereta. Itu semua membuat betis kami berdua mengalami perubahan bentuk yang sangat signifikan. Jadi teman-teman jangan lupa ya untuk selalu sedia koyo dan obat pegal linu.

Sampai di Merlion Park – Marina Bay suasana sudah malam. Ketika melihat patung singa yang bagian badannya berbentuk ikan, anda pasti akan langsung teringat dengan negara Singapore. Patung Merlion ini memang menjadi lambangnya negara Singapura. Patung ini berada di Merlion Park, di tengah kota Singapura. Dikelilingi oleh gedung tinggi dan terletak di samping Singapura river. Dibuat pada tahun 1964. Patung Merlion ini berbentuk kepala singa yang memiliki badan ikan. Dirancang oleh Mr. Fraser Burnner. Dia adalah anggota dari panitia souvenir dan kurator dari van kleef aquarium. Bentuk kepala singanya, melambangkan dari singa yang pernah dilihat oleh pangeran Sang Nila Utama. Ketika ia pertama kali menemukan Singapura pada tahun 11 Masehi. Lalu badan ikannya berasal dari sejarah bangsa melayu. Ekor ikan mengartikan kota kuno Temasek. Dalam bahasa jawa artinya laut. Pertama kali ditemukan, negara Singapura diberi nama kota singa, yang merupakan kampung dari para nelayan.

Ada banyak tempat wisata di sekitar Merlion Park, Singapura. Disana ada Jubilee Bridge, Esplanade Bridge, Bumboat River Tour, The Fullerton Monument Tour, Anderson Bridge, Helix Bridge, Gandens by the bay dan masih banyak lainnya. Ada banyak sekali tempat wisata gratis di Singapura. Kami pun sempat menyaksikan pertunjukan sinar laser yang spektakuler. Lalu juga sempat menonton konser mini yang letaknya tak jauh dari Merlion statue.

Apa yang terbersit di kepala kami saat melihat Kota Singapura, khususnya di wilayah Marina Bay? Bersih, nyaman, teknologi tinggi, memanjakan turis, konsep kota yang sesuai untuk wisata, semua sudut memanjakan mata, ratusan spot selfie, tak ada kaki lima, semua tertata baik dan tertib. Oh iya, ada beberapa hal kebiasaan, yang perlu kita contoh baik dari warga Malaysia maupun Singapura. Untuk LRT dan MRT, masyarakat sana selalu membiasakan diri tertib, dimana mereka selalu mendahulukan orang yang keluar kereta daripada yang masuk. (Beda banget sama KRL). Lalu di tangga eskalator, untuk mereka yang tidak terburu-terburu akan selalu menempatkan diri di lajur samping kiri. Jadi lajur kanan bisa digunakan orang yang sedang bergegas (Beda bingits kan…).

Ada lagi yang unik, di Singapura ini khususnya di wilayah-wilayah tempat berkumpulnya turis akan sering ditemukan sepeda-sepeda yang terparkir begitu saja. Pernahkah kita membayangkan bisa naik sepeda kapanpun tanpa harus membelinya?

Bike sharing dengan mobike, dan ofo merupakan fasilitas sepeda umum yang bisa kita gunakan kapanpun saat kita membutuhkannya di Singapura. Kita hanya perlu mendownload aplikasi bike sharing seperti mobike, dan ofo di ponsel pintar kita. Bike sharing adalah sistem sewa sepeda umum yang pembayarannya dan cara menggunakannya bisa kita lakukan secara online. Kita mendowload aplikasi, mengisi saldo, kemudian kita scan kode sepeda pada layar aplikasi kita untuk membuka kunci sepeda dan kita siap bersepeda berkeliling kota di Singapura. Keren kan… (Bisa ngga ya diterapkan di jakarta?)

Berkunjung ke Sentosa Island

Hari keempat. Pagi ini kami sudah bangun lebih awal. Karena padatnya jadwal. Kami putuskan pagi ini untuk mengunjungi Sentosa Island. Sebenarnya, Pulau Sentosa sendiri merupakan benteng militer Inggris selama perang dunia kedua. Senjata-senjata disimpan di benteng Siloso dan dijaga untuk melindungi pulau dari penjajahan Jepang. Sebab Inggris berpikir dari bagian selatan ini pulau Sentosa akan terjaga dengan damai, namun sayang tentara Jepang kemudian melakukan penyerangannya lewat bagian utara Singapura (Malaysia). Sehingga tahun 1942 pulau Sentosa menjadi kamp tahanan Inggris dari Jepang. Tetapi, bisa dingat ini bukanlah akhir dari cerita, ini dikarenakan tahun 1945 ada pertukaran dan pulau ini kembali diambil Inggris dari Jepang. Selanjutnya di tahun 1947, Pulau Sentosa menjadi pusat resimen resmi Singapura dari Royal Artileri dan digantikan unit infanteri Gurkha dan Fort Siloso serta Fort Serapong yang menjadi peristirahatan para umat gereja Katolik dan Protestan.

Setelah Inggris memberi kemerdekaan pada Singapura pada tahun 1960, kemudian menyerahkan Pulau Sentosa pada Angkatan Bersenjata Singapura. Dan sepuluh tahun kemudian tepatnya 1970, Pemerintah Singapura memutuskan untuk mengembangkan pulau ini menjadi tempat hiburan bagi wisatawan lokal. Tahun 1974, pemerintah Singapura membangun sistem cable car untuk menghubungkan Pulau Sentosa dengan Mount Faber dan dibukanya Fort Siloso, Surrender Chamber Wax Museum, Musical Fountain dan Underwater World. Tahun 2005 Sentosa Express masuk dalam rencana pemerintah untuk menggantikan kebutuhan monorel untuk komunikasi internal di Pulau Sentosa. (Bersambung)

Traveller : Wawan & Wirawan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

EnglishIndonesian