Antara Kuala Lumpur dan Batam…. (Catatan Perjalanan : Bag 2)

Lanjut lagi ya ceritanya….

Untuk menuju pulau Sentosa kami memilih transportasi termurah, yaitu berjalan kaki (hahaha… gue banget yah). Sebenarnya bisa saja dengan menggunakan Sentosa Express (Kereta mirip LRT) yang terletak di VivoCity lantai tiga dengan jarak tempuh 15 menit, tapi berbayar. Dengan berjalan kaki sekitar 30 menit kita sudah sampai di Sentosa Island. Sebenarnya sih mirip-mirip Dufan-nya Ancol sih. Cuma bedanya ada Universal Studio Singapore disini yang bikin suasana rada gimana gitu… Belum afdol rasanya kalo belum selfie di depan bola raksasanya. Putar-putar sebentar, akhirnya kami putuskan untuk menyudahi tur segera beli tiket Feri di HarbourFront. Kali ini kami pulang dengan naik Sentosa Express, dan GRATIS! Karena memang cuma awal berangkatnya saja yang bayar. Jika ingin pulang siapapun boleh menaikinya dan tidak dikenakan biaya.

Tanjung Balai Karimun, kami datang…

Singkat cerita kami berhasil mendapatkan tiket Feri untuk melanjutkan perjalanan sore ini ke Pulau Tanjung Balai Karimun. Mengingat Jam 2 siang kami sudah harus kembali ke HarbourFront, agak tergesa kami kembali ke penginapan. Makan siang dan langsung berangkat.

Pejalanan dengan kapal feri ditempuh lebih kurang 1,5 jam. Laut yang tenang dan matahari bersinar cerah menemani perjalanan kami kembali ke Indonesia, tepatnya ke Provinsi Kepulauan Riau.

Saat kami tiba, kami sudah dijemput oleh seorang kawan, yang sebelumnya telah lebih dulu tiba bersama Prof. Samsuridal Djauzi melalui Batam.

Kabupaten Karimun adalah salah satu kabupaten di Provinsi Kepulauan Riau, Indonesia. Ibu kota Kabupaten Karimun terletak di Tanjung Balai Karimun. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 7.984 km², dengan luas daratan 1.524 km² dan luas lautan 6.460 km². Kabupaten Karimun terdiri dari 198 pulau dengan 67 diantaranya berpenghuni. Karimun memiliki jumlah penduduk sebanyak 174.784 jiwa. Kabupaten Karimun Berbatasan dengan Kepulauan Meranti di sebelah Barat, Pelalawan dan Indragiri Hilir di Selatan, Selat Malaka di sebelah utara, dan Kota Batam di sebelah Timur.

Saat ini Karimun telah melakukan reklamasi pantai. Sehingga saat ini tampak pembangunan jalan dan beberapa tempat wisata kuliner mulai bermunculan di beberapa tempat, karena letaknya yang strategis menghadap ke laut lepas.

Agenda kami malam ini selepas beristirahat di hotel adalah menikmati santap malam di salah satu tempat makan seafood yang cukup laris dan ramai di Karimun, yaitu di Warung Seafood Radja Husein. Kami ditemani dan dipandu oleh Dr. Awang, rekan kami yang telah lama tinggal di Karimun. Warung makan ini cukup luas, hidangannya pun nikmat dengan makanan pembuka otak-otak ikan berbumbu rendang. Nikmat disantap sambil menunggu ikan bakar dan goreng pesanan kami datang.

Setelah santap malam, kami kembali ke Hotel untuk melakukan agenda utama, yaitu pertemuan dengan beberapa tokoh penting, pejabat dan perwakilan remaja dan warga Tanjung Balai Karimun. Saat tiba di hotel, teman-teman dari Karimun ternyata sudah tiba semua. Sekitar dua puluhan orang berkumpul malam itu. Prof. Samsuridjal memberikan materi mengenai Eksponensial Abundance serta gambaran singkat tentang kegiatan Pelita Desa.

Diskusi berjalan cair dan penuh keakraban. Beberapa teman dari Karimun mengutarakan beberapa hambatan yang sering mereka temui saat mereka sedang ingin melakukan perbaikan dalam memajukan potensi desa-desa mereka. Mulai dari kurangnya pengalaman dan ilmu dalam bidang marketing serta masih kurang kompaknya para pengelola spot-spot wisata yang ada di Karimun, sehingga akhirnya sulit untuk maju bersama. Pelita Desa pun menawarkan untuk para remaja Karimun, untuk dapat berkunjung dan melakukan studi banding ke markas Pelita Desa di Ciseeng, Bogor. Antusiasme tampak di wajah para tamu undangan. Ke depan mereka akan mempersiapkan utusan untuk dapat dikirim segera ke Pelita Desa. Tak terasa malam pun telah larut. Banyak sudah pengalaman dan ide serta gagasan telah terbagi dalam diskusi santai kali ini. Kami pun menyudahi acara malam ini, bersiap menuju Batam esok hari.

(Kiri) Makan Malam, (Kanan) Sarapan Pagi

Sarapan pagi yang nikmat

Hari Kelima. Pukul 4 pagi kami sudah bangun dan bersiap. Karena sebentar lagi kami akan dijemput untuk diajak sarapan pagi ke sebuah kedai legendaris di Karimun, yaitu di Kedai Kopi Botan. Yang telah eksis sejak puluhan tahun yang lalu.

Matahari belum lagi terbit, namun kami telah meluncur melintasi jalan Pulau Karimun yang sunyi dan lenggang. Banyak juga warga yang berolahraga pagi. Joging di pinggir pantai sambil menunggu matahari terbit. Akhirnya kami sampai di kedai Kopi Botan. Makanan pembuka pertama adalah Roti Goreng. Roti yang empuk dan nikmat ditemani segelah teh manis hangat. Itu belum selesai, kini muncul hidangan utama. Lontong sayur ala Kedai Kopi Botan. Lontong sayur dengan racikan bumbu yang membuat orang ketagihan. Habis semua hidangan kami santap. Perut kenyang, saatnya bersiap ke dermaga. Namun sebelum itu kami sempat sejenak berkeliling ke pusat kota di Karimun ini.

Sampai dermaga, kapal Feri kami telah menunggu. Segera masuk, dan menikmati 1,5 jam perjalanan menuju Harbour Bay Batam.

Langit cerah, punggung ombak laut tampak berkilau. Angin sepoi-sepoi. Pemandangan indah itu buyar seketika, saat kami melihat dari kejauhan bahwa kapal feri yang kami naiki ini ternyata melaju kencang menuju perpotongan arah jalur sebuah kapal besar pengangkut peti kemas yang juga berjalan sangat laju, pastinya akan memotong jalur Kapal Feri kami.

Cemas terasa. Saat Kapal Feri kami hampir bersenggolan langsung dengan Kapal Besar pengangkut peti kemas yang berjalan kencang itu memotong jalur kapal kami. Hanya selisih 3 detik saja. Nafas kami tertahan. Bagaikan adegan film. Sepertinya nahkoda feri juga tidak mengurangi laju kapalnya sedikit pun. Sehingga nyaris sekali kapal kami bersenggolan. Ups, hampir saja! Tenyata pengemudi ugal-ugalan tidak hanya di darat, di laut pun ada… dan itu di Indonesia pula (hahahaha).

Sampai dengan Selamat di Batam

Akhirnya Kapal Feri kami merapat dengan selamat. Harbour Bay Batam kini tidak hanya sekedar pelabuhan penumpang Batam-Singapura saja, tapi sudah menjadi kawasan bisnis dan wisata kuliner di tengah kota Batam. Letaknya yang hanya 5 menit dari pusat kota Sei Jodoh dan Nagoya, membuat pelabuhan ini makin diminati pengunjung. Karena jarak dari Batam ke Singapura hanya 30 menit menggunakan feri yang berangkat tiap jam. Penumpang yang menggunakan pelabuhan ini lebih dari 45.000 orang tiap bulan, pulang pergi Batam Singapura. Sejak berdiri dan beroperasi 2006 silam kini semakin ramai pengunjung dan makin lengkap fasilitas pelayanannya. Termasuk taksi dan ojek sebagai transportasi utama, antar jemput penumpang ke pelabuhan ini.

Setelah merapat. Kami sempatkan istirahat sejenak dan menikmati beberapa cemilan. Salah satu panganan yang kami coba adalah Prata. Mirip dengan martabak telur sih, kalau di Jakarta. Dinikmati dengan cara mencelupkannya di kari terlebih dahulu. Enak rasanya….

Agenda kami berikutnya adalah menuju Rumah Sakit “Awal Bros” Batam. RS Awal Bros Batam berdiri pada tanggal 26 Juni 2003. Rumah Sakit ini merupakan salah satu Rumah Sakit Swasta tipe B yang berada di pusat kota dengan lokasi yang strategis. Saat ini Rumah Sakit Awal Bros Batam memiliki kapasitas 214 tempat tidur. Sesuai dengan Visi Misi, Rumah Sakit ini berfokus terhadap kenyamanan dan keselamatan pasien dengan memperoleh Akreditasi KARS, Joint Commission Internasional (JCI), ISO 14001 dan 9001.

Di sini Prof Samsu dan tim melakukan diskusi santai seputar Eksponensial Abundance. Dimana diharapkan kinerja rumah sakit di masa yang akan datang akan dapat lebih mengedepankan pelayanan prima yang terintegrasi dengan teknologi kekinian. Sehingga pekerjaan menjadi lebih sederhana namun cepat dan akurat. Pelayanan terhadap konsumen pun akan dapat meningkat tajam. Terjadi diskusi yang menarik dalam sesi kali ini. Namun waktu yang bergerak cepat, memaksa kami menyudahi diskusi menarik kali ini.

Setelah selesai acara, kami pun berpisah. Prof Samsuridjal langsung menuju bandara untuk kembali ke Jakarta, sedangkan kami meneruskan petualangan hari ini di Batam, mengingat tiket pesawat pulang kami baru besok berangkat.

Lanjut, kembali ke hotel dengan mobil yang telah kami sewa untuk seharian ini, beristirahat sejenak lalu kembali ke jalanan kota Batam. Agenda kali ini, kami akan mengunjungi Ex Camp Vietnam di Pulau Galang. Perjalanan cukup jauh dan lama. Dalam perjalanan kami sempat melewati jembatan Barelang yang ternama itu.

Jembatan Barelang (singkatan dari BAtam, REmpang, dan gaLANG) adalah nama jembatan yang menghubungkan pulau-pulau yaitu Pulau Batam, Pulau Tonton, Pulau Nipah, Pulau Rempang, Pulau Galang dan Pulau Galang Baru. Masyarakat setempat menyebutnya “Jembatan Barelang”, namun ada juga yang menyebutnya “Jembatan Habibie”, karena dia yang memprakarsai pembangunan jembatan itu untuk menfasilitasi ketiga pulau tersebut yang dirancang untuk dikembangkan menjadi wilayah industri di Kepulauan Riau. Jembatan Barelang telah menjadi ikon Kota Batam, bahkan telah populer sebagai landmark-nya Pulau Batam.

Pulau Galang yang eksotis

Satu setengah jam lebih kami lalui dalam perjalanan menuju Pulau Galang. Camp Vietnam Pulau Galang dulunya adalah tempat pengungsian warga Vietnam yang mencari perlindungan. Puluhan tahun lalu, sekitar tahun 1979, ratusan ribu warga Vietnam pergi keluar dari negaranya karena kondisi negaranya yang mencekam akibat perang saudara. Dengan menggunakan kapal-kapal yang berisikan 40 – 100 orang, mereka mengarungi Laut Cina Selatan dan menyebar ke berbagai belahan dunia selama berbulan-bulan untuk mencari tempat perlindungan. Beberapa di antaranya sampai ke Indonesia, tepatnya di Pulau Galang tersebut. Sebagian lagi ada yang gagal mencapai daratan karena perahu mereka tenggelam di tengah lautan.

Kaburnya warga Vietnam ini ternyata mendapat perhatian khusus dari PBB. Hingga akhirnya PBB memberikan amanat kepada beberapa negara, termasuk Indonesia, untuk memberikan tempat pengungsian dalam kurun waktu tertentu. Karena para warga Vietnam ini banyak yang sudah sampai di Pulau Galang, maka ditunjuklah pulau Galang sebagai tempat pengungsian mereka di Indonesia. Untuk menunjang kehidupan warga Vietnam di sana, dibangunlah barak-barak pengungsian, rumah sakit, sekolah, tempat-tempat ibadah, dan juga penjara.

Akhirnya di sore hari kami baru tiba. Sayang sekali ternyata loket pembelian sudah tutup. Tidak hilang akal, kami pun menyewa 2 ojek remaja di sekitar lokasi. Petualangan pun berlanjut. Nuansa sunyi mencekam sangat terasa. Pohon-pohon besar, semak-semak lebat, serta monyet-monyet liar mewarnai perjalanan kami menuju ke dalam camp. Kami sempat mengunjungi replika perahu yang konon dahulu membawa para pengungsi. Disampingnya terdapat kandang rusa. Kami Juga melewati Humanity Statue, Gereja tua dan pagoda Chua Ky Vien, serta pagoda Quan Am Tu. Objek wisata lainnya hanya kami lewati saja, seperti penjara, barak pengungsian, pemakaman, dan rumah sakit.

Menjelang maghrib, kami bergegas pergi. Semakin menyeramkan suasananya, atau memang kami yang belum terbiasa. Keluar dari kawasan, hati pun lega. Masuk mobil dan kembali menuju pusat kota Batam. Sudah saatnya mengisi perut dan membeli sedikit oleh-oleh.

Mampir ke Bukit Clara

Hari keenam. Saatnya pulang. Pesawat kami masih jam 2 siang nanti. Bangun agak siangan, packing dan bersiap pulang. Cari sarapan di sekitar Harbour Bay Mall. Semua serba dekat. Mudah dijangkau dengan hanya berjalan kaki saja. Kantin di belakang Mall pun menjadi pilihan kami. Makanan pun nikmat dengan harga terjangkau. Pilihan kami, apalagi kalo bukan nasi padang… Hahaha…

Setelah sarapan kami putuskan untuk segera berangkat ke bandara, tapi tak lengkap rasanya jika belum mengunjungi Batam Center dimana terdapat bukit “Welcome To Batam” serta melipir sebentar ke Masjid Raya Batam yang memiliki desain arsitektur yang memikat. Grab Taxi pun kami pesan, tapi… ups, ternyata GrabCar tidak boleh masuk ke lingkungan hotel, apalagi barang bawan kami cukup banyak. Alhasil pakai sedikit tipu muslihat. Grabcar kami pun tetap bisa datang dengan “selamat”. (Untuk caranya off the record saja ya, hahaha).

Batam Center menjadi tujuan awal kami. Bukit Welcome to Batam, adalah landmark ala Hollywood di Bukit Clara, Batam. Tulisan yang berfungsi untuk memperkenalkan dan menyambut wisatawan di Pulau Batam ini terletak di Bukit Clara Batam Center, Tanjung Tering Lampu 300m dari atas daratan Engku Peteri. Pemerintah melarang pendirian gedung yang melebihi tinggi dari tulisan ini agar tidak mengganggu wisatawan yang akan melihatnya secara langsung. Sayangnya di tahun 2014 bukit ini hampir mengalami kelongsoran yang berdampak pada tulisan pada Bukit Welcome to Batam. Kelongsoran ini terjadi karena adanya aktifitas pengerukan di bukit, sehingga pemerintah turun tangan untuk menghentikan aktifitas pengerukan agar tidak merusak ikon dari Batam.

Setelah puas berselfie ria di bawah terik matahari, kami sempatkan mampir ke Masjid Raya Batam.

Masjid Agung Batam atau disebut Masjid Raya Batam (MRB) ini memiliki kubah dengan bentuk unik yang berdesain limas segi empat atau seperti piramida. Masjid ini dilengkapi dengan menara setinggi 66 m. Selain menjadi tempat ibadah, masjid ini menjadi pesona daya tarik pariwisata. Masjid ini terletak di Jalan Engku Putri Kota Batam. Masjid Raya Batam berada di kawasan Batam Center yang merupakan pusat pemerintahan kota Batam. Berhadap hadapan dengan kantor Badan Otorita Pengembangan Pulau Batam atau BIDA (Batam Industrial Development Authority). Letak cukup strategis yaitu bersebelahan dengan alun-alun atau berjarak sekitar 20 menit dari Bandara Hang Nadim, tak sulit untuk menemukan masjid ini.

Masjid ini memiliki kubah dengan bentuk unik yang berdesain limas segi empat atau seperti piramida. Bentuk limas sama sisi (teriris tiga bagian) dipilih dengan pertimbangan bahwa bentuk atap yang cocok untuk denah bangunan bujur sangkar, mempunyai persepsi vertikalisme menuju satu titik di atas sebagai simbol hubungan antara manusia dan Tuhan (Habluminallah). Sedangkan Irisan tiga bagian merupakan simbol perjalanan hidup manusia (sebagai hamba Allah) dalam tiga alam yaitu alam rahim, alam dunia, dan alam akhirat.

Atas : Masjid Raya Batam | Bawah : Clara Hill

Nah usai sudah, kini saatnya kami menuju Bandara Hang Nadim Batam, untuk terbang pulang. Penuh sudah catatan perjalanan kali ini. Kuala Lumpur yang tertib dan nyaman, Singapura yang bersih dan elegan, Tanjung Balai Karimun yang eksotis serta Batam yang tak terlupakan, membuat kami ingin segera kembali ke Jakarta. Kami sudah terlalu rindu, ingin kembali merasakan kebisingan dan kemacetan di Jakarta tercinta. (Seriusss….??!)

Traveller : Wawan & Wirawan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

EnglishIndonesian