Desa Wisata Taman Sari Banyuwangi 

Satu lagi desa wisata di Banyuwangi diperkenalkan secara resmi, Desa wisata Tamansari yang terletak di kawasan Taman Wisata Alam Gunung Ijen Ijen ini merupakan hasil kerjasama Pemkab Banyuwangi dengan Bank Central Asia (BCA). Desa Tamansari yang termasuk dalam wilayah Kecamatan Ijen tersebut menjadi sebagai salah satu desa wisata binaan BCA, sebagai bagian dari kegiatan corporate social responsibility (CSR), Bakti BCA Pilar Solusi Bisnis Unggul.

Dengan demikian, wisatawan yang akan ke Gunung Ijen bisa melihat etalase kecil tentang potensi Banyuwangi di pondok Desa Wisata Tamansari yang bernuansa khas suku Osing tersebut. Kawah Ijen sejak beberapa tahun terakhir ini sudah menjadi tujuan wisata utama di Banyuwangi. Kawah Ijen tak pernah sepi dari kunjungan wisatawan domestik maupun mancanegara. Trennya terus meningkat dari waktu ke waktu. Pada momen tertentu seperti liburan panjang, ribuan wisatawan menyerbu kawasan yang terkenal dengan fenomena api birunya ini. Imbasnya, seluruh hunian hotel dan homestay di Banyuwangi pun dikabarkan full boked. Apalagi setelah Gunung Ijen ditetapkan sebagai jaringan cagar biosfer dunia oleh Unesco, dampaknya akan membuat nama Ijen semakin dikenal di seluruh dunia.

Melihat besarnya potensi wisata di Kawah Ijen, Pemkab Banyuwangi tidak berpuas diri, namun justru terpacu untuk bergerak cepat memanfaatkan momentum. Berbagai potensi wisata di sekitar Gunung Ijen dikembangkan. Beberapa kelompok masyarakat di kampung wisata yang berada di sekitar areal lereng Gunung Ijen, dibina dan dilatih untuk menjual potensi desanya. Setelah Desa Wisata Banjar di Kecamatan Glagah diperkenalkan, menyusul kemudian Desa Wisata Tamansari di Kecamatan Licin, Banyuwangi. Kedua kecamatan ini memang bertetangga, bahkan dulunya Kecamatan Licin merupakan hasil pemekaran dari Kecamatan Glagah pada tahun 2004.

Untuk mengoptimalkan pamor sebagai desa wisata, beragam potensi yang ada di desa setempat yang dikenal sebagai Kampung Penambang, Kampung Bunga dan Kampung Susu diintegrasikan dalam satu wadah yang bernama Kampung Wisata Tamansari.

Selain diuntungkan oleh letak geografisnya yang berada di wilayah Taman Wisata Alam Gunung Ijen, Desa Tamansari sendiri memang memiliki potensi yang bisa dikembangkan untuk menunjang sektor pariwisata. Desa Tamansari hanya berjarak sekitar 24 km dari kota Banyuwangi, dan posisinya berada di tengah-tengah perjalanan menuju Kawah Ijen, membuatnya strategis dijadikan tujuan persinggahan. Karena itu Tamansari juga diposisikan sebagai rest area Gunung Ijen.

Wisatawan yang akan mendaki Kawah Ijen atau setelah pulang, bisa sejenak mampir di Desa Wisata Tamansari sembari menikmati keindahan alam yang asri, mencicipi beragam kuliner suku Osing, merasakan keramahan warga lokal dan berbelanja oleh-oleh khas Banyuwangi. Terlebih di lokasi ini juga telah tersedia fasilitas penunjang seperti ruang informasi pariwisata.

Pada tahun 2015 lalu Desa Tamansari pernah digunakan sebagai tempat penyelenggaraan Jazz Ijen Banyuwangi. Acara yang berlangsung di Dusun Jambu ini berlangsung meriah dihadiri penonton yang langsung datang dari Banyuwangi dan luar kota maupun para pendaki yang baru turun dari Kawah Ijen. Ini menunjukkan desa Tamansari sebagai tempat persinggahan, letaknya cukup strategis.

Selama ini Desa Tamansari yang merupakan wilayah perkebunan memang dikenal cukup potensial karena dikenal sebagai penghasil karet, cengkeh, kopi dan coklat, serta tak ketinggalan berbagai flora dan fauna yang ada di Kawah Ijen juga bisa ditemukan di sini. Di desa ini terdapat Koperasi Dadi Mulyo yang mengelola para peternak sapi perah. Para peternak di desa ini telah mendapat pembinaan dari PT Nestle dan kerjasama pemasarannya. Dari banyaknya peternak sapi perah di sini, tak heran akhirnya Tamansari juga dikenal sebagai Kampung Susu.

Nah, nama Tamansari sendiri ternyata punya latarbelakang yang cukup menarik. Yaitu merupakan peninggalan zaman penjajahan Belanda kurang lebih 128 tahun yang lalu. Pada saat itu ada seorang Belanda yang tinggal di Tamansari, tepatnya di Dusun Krajan, yang bernama Tuan Van Ort Lander atau masyarakat setempat lebih akrab memanggilnya sebagai Tuan Pancur.

Tuan Pancur ini kemudian menikah dengan wanita setempat yang bernama Astiyah. Setelah dinikahi Tuan Pancur, si wanita ini pun lebih dikenal sebagai Nyonya Mince.

Nama Tamansari ternyata diambil dari sebuah taman yang dipergunakan sebagai tempat penginapan yang dimiliki oleh Tuan Pancur yang berada di Dusun Krajan, yang jaraknya hanya 200 meter dari kantor Kepala Desa Tamansari sekarang. Salah satu bukti keberadaan Tuan Pancur bisa diketahui dari puing bangunan rumah dan makamnya yang berada di Desa Tamansari.

Ini menunjukkan bahwa wilayah Tamansari sejak dulu sudah dikenal sebagai tempat tinggal sekaligus sekaligus memiliki potensi wisata. Orang-orang Belanda dikenal menyukai wilayah pegunungan sebagai tempat tinggal yang nyaman. Dan kini, potensi wisata di Desa Tamansari tengah dibangun kembali oleh Pemkab Banyuwangi.

Kini di tahun 2017 ini, Desa Tamansari Banyuwangi berhasil menyabet gelar sebagai desa wisata terbaik untuk Kategori Jejaring Bisnis. Selamat!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

EnglishIndonesian