Destinasi Unik Kampung Hidroponik

Warga kampung Simomulyo RT 09 RW 02, Sukomanunggal, Surabaya, kebanyakan pertanian yang menjadi sumber kehidupannya. Keahlian bercocok tanam bukan hal sulit untuk mereka lakukan. Bila kini mereka mampu mewujudkan kampung hidroponik dan sukses, sebenarnya bukan tergolong hal yang istimewa.

Sejak Pemerintah Kota Surabaya menggalakkan sistem pertanian urban farming, niscaya disambut gembira oleh para warga. Lahan tidur pun mampu dihidupkan menjadi lahan produktif dengan berbagai tanaman di dalamnya. Seperti lahan sepanjang lebih kurang 500 meter di bawah tol Banyu Urip yang kini bisa memberi keuntungan ekonomis kepada warga Simomulyo Surabaya.

Setelah sekian waktu, Yabes Sihwantjono, Kordinator Lingkungan Simomulyo, membentuk Kelompok Tani Sri Rejeki bersama lima orang warga lainnya. Setelah enam bulan berjalan, Poktan Sri Rejeki mampu mewujudkan pertanian model hidroponik dan sukses.

Di lahan seluas 135 m2 milik Yabes itu, lebih dari 150 jenis tanaman dapat tumbuh sangat baik dan menghias kebun hidroponik menjadi hijau, teduh, bak suasana di desa yang alami. Apalagi dilengkapi joglo yang bisa digunakan untuk tempat bercengkerama antar warga, saling berinteraksi, sambil sesekali melepas guyonan dan menghadirkan gelak tawa.

Suasana kampung di Simomulyo seperti itu terdapat di empat gang di RT 09 RW 02, yaitu gang 31, 33, 35, dan 37. Kebun hidroponik itu tersebar di depan rumah-rumah warga, menggunakan sistem NFT (Nutrient Film Technique). Sistem NFT termasuk paling sederhana, menggunakan pipa-pipa yang diinstal sesuai ukuran yang diinginkan.

Model budi daya tanaman hidroponik ini, kata Yabes, ternyata mampu menggerakkan masyarakat untuk saling bahu-membahu membangun kampung. Untuk membudidayakan tanaman hidroponik inilah, warga kampung tumbuh partisipasinya. Bila panen, hasilnya akan dinikmati bersama-sama.

Kampung ini pun berkembang menjadi Kampung Hidroponik dan kerap menjadi tempat kunjungan para tamu dan wisatawan dari berbagai daerah di Indonesia. Bahkan pejabat kementerian yang terkait pertanian, mahasiswa, dan para peduli lingkungan juga berkunjung ke kampung ini.

Model hidroponik NFT seperti itu, oleh Yabes dikembangkan menjadi peluang bisnis tersendiri. Yabes menciptakan model hidroponik NFT portable, yang bisa dipesan oleh warga Surabaya sesuai ukuran. Sudah banyak, katanya, warga Surabaya yang memesan untuk diaplikasikan di rumah mereka. Harganya mengikuti ukuran dan jumlah tingkatnya.

Memompa semangat dan hasrat warga untuk mengembangkan hidroponik, diakui Yabes, bukan perkara gampang. Model hidroponik ini, katanya, bisa dibilang mudah bagi mereka yang mau, tapi juga bisa sangat merepotkan bagi mereka yang enggan.

Tapi ia bersama pegiat kampung yang lain tak patah arang. Berbagai kegiatan yang berhubungan dengan pertanian diikuti untuk menambah kapasitas pengetahuannya. Setelah diterapkan dan berhasil, lalu disosialisasikan kepada warga kampung di lingkungannya. Terus dan terus menularkan semangat yang sama untuk menciptakan kampung bersih, sehat, dan inovatif, sebagaimana program kampung PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat).

Kini, di antara 165 KK di lingkungannya, rata-rata sudah ikut bergerak membudidayakan tanaman hidroponik di rumahnya. “Model hidroponik ini kan memang bisa diterapkan di lahan sempit. Perawatannya juga sangat mudah,” jelasnya. Masing-masing warga bebas membudidayakan jenis tanaman yang diinginkan. Kebanyakan memilih tanaman hortikultura seperti kangkung, tomat, lombok, ocra, dan semacamnya. Tanaman yang memang sangat dekat dengan kebutuhan dapur warga.

Sejak awal, diakui Yabes, kuat keinginannya menjadikan kampung hidroponiknya menjadi destinasi wisata. Lahan hidroponiknya dijadikan sebagai pusat kegiatan dan pengembangan. Di lahan itu dikembangkan berbagai sistem hidroponik, baik sistem tanaman maupun ragam tanaman yang dibudidayakan.

Set up lahan ini boleh dikata sudah bagus untuk dijual sebagai obyek wisata. Ada pegiat lingkungan yang aktif, akses yang mudah dicapai, ada tempat untuk menjamu tamu, dan obyek yang menarik.

Bila dilihat dari daftar tamu yang sudah berkunjung ke tempat ini, sudah selayaknya dipersiapkan untuk bisa dijual sebagai obyek wisata alternatif di Surabaya. Beberapa standar yang mesti dimatangkan, seperti kelengkapan materi untuk bahan studi, info yang lengkap tentang jenis tanaman, manfaat tanaman yang dikembangkan, dan perlunya make up kampung wisata.

Partisipasi aktif masyarakat dalam mendukung program-program kampung hidroponik, tampaknya bukan perkara susah untuk mewujudkan impian sebagai destinasi wisata itu. Berkali-kali kampung hidroponik ini menyabet penghargaan. Antara lain, Juara 1 Kampung Urban Farming yang digelar Dinas Pertanian Kota Surabaya.

(julajuli)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

EnglishIndonesian