Mampukah Dusun TUKSONGO Bersaing di Jaman Millenial?

Kemajuan daerah saat ini sedang menjadi perbincangan yang hangat baik di pemerintah maupun swasta. Hal tersebut didasari dari program Presiden Jokowi yang membangun Indonesia dari daerah. Berbicara terkait dengan kemajuan daerah saya ingin mencoba bercerita tentang Dusun Tuksongo di Kabupaten Temanggung Jawa Tengah.

Mampukah Dusun TUK SONGO Bersaing di Jaman Millenial? 

Dusun Tuksongo merupakan suatu wilayah bagian dari Desa Nglorog yang terdiri dari ±200 kepala keluarga. Mayoritas mata pencaharian masyarakat adalah petani, tetapi ada juga yang bekerja sebagai guru, wirausaha, perawat, dan karyawan pabrik. Potensi perkebunan di Tuksongo ini adalah kayu sengon dan kopi. Ada juga potensi khas daerah yaitu kelengkeng batu, namun pohonnya sudah jarang saat ini. Kelengkeng batu merupakan kelengkeng khas asli dari Kecamatan Pringsurat.

Tuksongo mempunyai tempat ibadah agama islam yang cukup banyak. Dusun kecil yang terdiri dari lima RT ini mempunyai tujuh mushola dan satu masjid besar. Saat waktu sholat telah tiba, suara adzan terdengar merdu seperti saling bersaut-sautan. Terlebih lagi saat bulan ramadhan tiba, waktu antara ashar dan maghrib setiap mushola penuh dengan anak-anak dan remaja yang tadarus Quran. Suara aluan ayat Quran terdengar dimana-mana. Saat ini Masjid besar sedang direnovasi. Kurang lebih sudah 3 tahun namun masih belum sempurna.

 

Daerah yang semua penduduknya muslim ini mempunyai kegiatan keagamaan yang hampir setiap hari ada. Ada jamaah yasin pada malam kamis dan malam jumat, tadarus Quran yang dilakukan oleh pemuda gareng pada malam rabu, jamaah nariyah pada malam selasa dan ada pengajian setiap hari minggu legi dan malam selasa kliwon.

Budaya gotong royong pun masih terjaga di daerah ini. Ketika ada pembangunan suatu fasilitas tertentu, pembangunan jalan misalnya, masyarakat begitu antusias melakukan gotong royong. Contoh yang lain adalah ketika ada salah satu anggota masyarakat yang meninggal dunia, masyarakat langsung berbondong-bondong ke rumah duka ada juga yang langsung ke makam untuk menggali makam. Masyakarat sudah langsung otomatis melakukan pekerjaan tanpa ada komando.

Para remaja dan pemuda tergabung dalam wadah karang taruna surogati. Saat ini karang taruna surogati aktif dalam bidang olahraga bola voli. Selain itu karang taruna surogati juga mengadakan kegiatan-kegiatan pada hari besar seperti hari kemerdekaan, tahun baru hijriah, juga tahun baru masehi. Karang taruna surogati Dusun Tuksongo ini juga ikut mengambil peran ketika ada hajat besar dusun seperti pengajian akbar, saparan, khataman dan kegiatan lainnya.

 

Fasilitas pendidikan yang ada di Tuksongo ini cukup lengkap. Mulai dari PAUD Hidayatullah, TK Merdisiwi 1, SD N 3 Tuksongo, SMP N 2 Pringsurat dan MA Hidayatullah. Fasilitas wajib belajar 12 tahun ini sudah ada di Tuksongo, tinggal perguruan tinggi yang kurang. Di Tuksongo juga terdapat Pondok Pesantren Hidayatullah yang sudah berdiri belasan tahun. Adanya pesantren membuat Tuksongo mendapat julukan dari warga sebagai kampung pondok ataupun kampung santri. Berikutnya fasilitas jalan lingkungan sudah 95% beton sehingga memudahkan akses masyarakat. Sedangkan fasilitas kesehatan, di Tuksongo terdapat puskesmas pembantu.

Adanya potensi, modal sosial, dan juga berbagai fasilitas tentunya dapat menjadi poin positif bagi Tuksongo untuk mengikuti perkembangan jaman. Tiga faktor tersebut jika dimanfaat dengan baik oleh masyarakat akan menjawab berbagai permasalahan sosial seperti halnya kenakalan remaja, putus sekolah, kemiskinan dan yang lainnya. Adanya fasilitas yang cukup lengkap di Tuksongo jika dapat dimanfaatkan pula oleh masyarakat maka masyarakat Tuksongo mampu bersaing di jaman millenial ini. Tuksongo, tidak ada kata tertinggal pada jaman millenial.

Oleh : Imam Fauzi (Penduduk Dusun Tuksongo + Wakil Ketua Lembaga Wakaf Bangun Desa)

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

EnglishIndonesian