Melihat tidak hanya dengan mata…

Kita dianugerahi mata untuk melihat. Setiap hari kita mempergunakan indera tersebut. Pagi-pagi, kadang kita melihat seorang ibu dengan anak perempuannya berjalan menyusuri tempat sampah, mengumpulkan barang-barang bekas. Jika kita melihat dengan mata saja, maka semua orang akan melihat pemandangan yang sama. Namun jika otak kita ikut berperan, mungkin kita akan mempertanyakan… Mengapa di negara yang kaya sumber alam ini masih ada orang miskin yang harus mengais sampah hanya untuk bisa makan. Apakah karena mereka malas? Sistem sosial kita yang tak berjalan atau orang-orang kaya sudah tak peduli?

Banyak analisa yang dapat dibuat dan diperdebatkan. Kemiskinan dapat menjadi objek pembicaraan yang selalu menarik. Namun jika hati kita juga terlibat maka akan timbullah rasa empati, ingin berbuat sesuatu untuk ibu dan anaknya tadi. Kita bisa memulainya dari hal yang sederhana, misalnya sekedar memberi mereka makan, hingga yang lebih rumit seperti menyekolahkan anaknya, melatih sang ibu agar bisa mandiri, bahkan jika perlu membuat program pengentasan kemiskinan secara lebih luas lagi.

Mari kita renungkan di hari ini, sudahkah kita melihat dengan mata, otak dan hati, tidak hanya dengan mata saja. 

Samsuridjal (Ba’da subuh @Sheraton Gandaria City)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

EnglishIndonesian