Menghidupkan Lahan Tidur Menjadi Lebih Produktif

Menanam padi di lahan pesisir, mungkin membuat sebagian orang mengernyitkan dahi dan berujar “apa mungkin?” Begitu juga dengan pandangan masyarakat pesisir Sulawesi Selatan yang menganggap bertani di lahan pesisir tidak akan berhasil. Puluhan tahun banyak lahan tidur yang tidak termanfaatkan. Dulu warga lebih memilih membeli sayur dibandingkan dengan menanam sendiri. Namun, perlahan pandangan masyarakat tentng pertanian pesisir mulai berubah. Kini warga mulai optimis melihat tanah pesisir bisa dimanfaatkan dan secara ekonomi lebih menghasilkan.

Salah satu warga pesisir yang menjadi pelaku pertanian adalah Sitti Rahmah. Sitti Rahmah ditemui di kediamannya yang berlokasi di Desa Pitusunggu-Pangkep, Sulawesi Selatan sedang menyirami tanaman organik di pekarangan rumahnya. Ia biasa menyirami tanaman organik di pekarangan rumahnya pagi dan sore jika tidak turun hujan. Di pekarangan rumah yang cukup luas itu, bisa ditemui berbagai macam tanaman sepertitomat, sawi, bayam, kangkung, seledri, kacang tungga, daun bawang, cabe rawit, cabe hijau, kacang tanah, tomat, dan ada juga tanaman obat keluarga (TOGA). Tanaman ini dibuatkan bedengan masing-masing sehingga berjejer rapi. Setiap bedeng diberi plang berisi nama tanaman, sehingga pengunjung yang datang bisa mengetahui tanpa harus bertanya. Di belakang rumah panggung Bu Sitti juga terbentang lahan sawah milik warga seluas 8 ha yang siap ditanami padi organik.

Pemandangan seperti ini tentu berbeda dengan situasi Desa Pitusunggu beberapa tahun yang lalu. Pekarangan rumah yang gersang dan banyaknya lahan tidur yang terabaikan selama puluhan tahun. Karena saking gersangnya, saat musim kemarau kerap kali terjadi kebakaran di lahan tidur ini.

Bermula dari Sekolah Lapang

Sekitar 3 tahun yang lalu OXFAM bermitra dengan MAP (Mangrove Action Project) hadir di Desa Pitusunggu, mengenalkan aktivitas pertanian melalui Sekolah Lapang (SL). Sitti Rahmahdan warga lainnya di tahun 2010-2011 mengikuti Sekolah Lapang pertama yang fokus menanam padi air asin. Sekolah Lapang melatih warga untuk bertani dengan learning by doing, warga melakukan praktek langsung di lahan masing-masing dengan pendampingan di SL 1. Pertengahan 2011, Bu Sitti bersama suaminya mengikuti SL 2 yang fokus pada pemanfaatan pekarangan. Masih haus dengan ilmu, Bu Sitti dan suami mengikuti SL 3 di tahun 2011-2012 mengenai sawah organik.

1421129294805905270

Sejak tahun 2010-2012, di Kabupaten Pangkep (Pangkajene dan Kepulauan) terdapat 17 Sekolah Lapang, dengan peserta masuk kategori rentan dan komposisi peserta 75% perempuan. Khatam dari Sekolah Lapang selama 3 periode, menjadi bekal bagi Sitti Rahmah dan warga Desa Pitusunggu melakukan pertanian organik. Skill yang didapat dari Sekolah Lapang ini mendorong terbentuknya kelompok Budidaya dan Penjualan Hasil Pertanian Organik “Pita Aksi” yang merangkul 25 orang perempuan. Kelompok Pita aksi dibandingkan dengan kelompok lainnya di Pangkep, lumayan produktif dalam kegiatan budidaya dan penjualan hasil pertanian organik. Walaupun sudah tidak lagi menggunakan lahan bersama, namun pemanfaatan pekarangan rumah masing-masing anggota cukup optimal. Jenis tanaman yang variatif jelas menambah omset yang didapat anggota Pita Aksi.

Sitti Rahmah sebagai Ketua Kelompok Pita Aksi, menyiasati komunikasi antar anggota melalui acara arisan setiap bulannya. Dengan adanya arisan, tentu setiap anggota lebih tergerak untuk hadir. Padahal tujuan utamanya adalah menjaga semangat anggota agar konsisten menghidupkan pekarangan rumahnya berproduksi tanaman organik. Sesekali Sitti Rahmah berkunjung ke rumah anggota Pita Aksi, melihat perkembangan pekarangan organik anggotanya. Tidak lupa ia selalu mengingatkan setiap anggota untuk melapor hasil penjualan sayur organik, untuk melihat sejauh mana perkembangan bisnis sayur organik kelompok Pita Aksi.

14211293761795470736

Produk MOL (Mikro Organisme Lokal) yang dibuat warga.

Dari hobi berkebun di pekarangan rumah, Sitti Rahmah sudah bisa mendapatkan penghasilan tambahan. Kurang lebih selama 3 tahun Sitti Rahmah mengurus kebun organiknya dan selama itu pula ia menabung. Bulan kemarin, saat anak sulungnya harus mengikuti ujian kompre Kebidanan dan harus membayar sejumlah uang, Sitti Rahmah mengambil tabungannya. “Alhamdulillah lumayan, hasil dari pekarangan rumah sudah bisa membiayai pengeluaran kuliah anak saya, kemarin tabungan saya mencapai 11 juta rupiah” ujarnya sumringah.

Dari kiprahnya memberdayakan pekarangan rumah untuk pertanian organik, Sitti Rahmah sudah berkali-kali mendapat beberapa penghargaan. Ia masuk dalam kategori 7 Perempuan Pejompang Indonesia, Anugerah Adhikarya Pangan Nusantara tingkat Provinsi Sulawsi Selatan tahun 2014 sebagai pelaku pembangunan ketahanan pangan, penghargaan dari OXFAM sebagai Perempuan pejuang pangan yang telah mengembangkan dan mempromosikan pangan lokal di Desa Pitusunggu, Ma’rang Kab Pangajene dan Kepulauan, Penghargaan Female Futiro, dan Penghargaan Keluarga Asuh dari United Kingdom. Kamis, 27 November 2014 kemarin, Sitti Rahmah mendapat penghargaan sebagai petani berprestasi di acara MapaliliKabupaten Pangkajene dan Kepulauan. Terakhir, Kelompok Pita Aksi mendapat penghargaan dari Presiden Joko Widodo sebagai pelaku Pemberdayaan Ketahanan Pangan. Sitti Rahmah juga bukan yang pelit ilmu, ia sering berbagi informasi mengenai kegiatan tani organik dengan kelompok-kelompok dari Desa/Kabupaten lain.

 

Dukungan Penuh dari Suami

Sitti Rahmah di kebun organiknya

 

Suami istri ini kompak mengikuti Sekolah Lapang, kemudian memanfaatkan lahan tidur seluas 1 ha miliknya untuk menanam padi organik selain kegiatan tani organik di pekarangan rumahnya. Sekali panen hasil sawahnya bisa mencapai sekitar 4 ton gabah. Hasil panen lebih banyak dikonsumsi untuk ketahanan pangan keluarga, sebagian kecil dijual ke pasar, pernah juga ke minimarket, atau dijual saat pameran.

“Kalau dijual di daerah sini, harganya tidak terlalu jauh dengan beras non-organik, jadi kurang menguntungkan. Pernah dijual ke minimarket, harganya Rp.14.000/kg. Baru kalau di pameran, bisa dijual sampai Rp. 20.000/kg,” Sitti Rahmah menjelaskan. Penyebab harga beras organik dan non-organik yang tidak terlalu jauh ini bisa jadi dikarenakan masih kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai kualitas padi organik. Kualitas padi organik tentu lebih sehat, karena saat proses penanamannya tidak menggunakan pestisida, kondisi tanah yang lebih sehat, dan irigasi yang tidak terkontaminasi racun.

Kolaborasi antara suami istri memang diperlukan. Menurut Sitti Rahmah, dulu suaminya belum turun langsung membantu, baru setelah memasuki tahun kedua suaminya mulai aktif membantu. Suaminya seringkali mengurus pekerjaan berat seperti mengolah tanah pekarangan rumahnya,dan membantu menjual hasil taninya ke pasar. Dengan adanya kolaborasi suami isteri, tentu beban yang dirasa pun menjadi lebih ringan. Ketahanan pangan keluarga tercapai, dan ekonomi keluarga pun bertahap meningkat.

 

Sosialisasi Pertanian Organik ke Sekolah-Sekolah

Sitti Rahmah dan Kelompok Pita Aksi sudah menjalin MoU (Memorendum of Understanding) dengan beberapa Sekolah Dasar di daerah Desa Pitusunggu. Kerjasama yang sudah terjalin hampir tiga tahun ini dilakukan untuk mensosialisasikan kegiatan pertanian organik terhadap generasi muda di daerahnya.

Melalui kerjasama ini, anak-anak SD menjadi tahu bagaimana cara bertani organik, cara membuat MOL (Mikro Organisme Lokal), suatu cairan berbahan dasar alami berfungsi sebagai media hidup mikro organisme yang berguna mempercepat penghancuran bahan-bahan organik. Berfungsi merangsang pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Bukan hanya tahu tentang cara bertani organik, anak-anak SD pun menjadi tahu apa pentingnya mengkonsumsi makanan organik. Kerjasama ini akhirnya mendorong berkembangnya gaya hidup sehat mengkonsumsi sayuran organik.

Perlahan, paradigma masyarakat yang melihat lahan kosong yang “tak menghasilkan” ini berubah. Banyak lahan tidur yang tadinya diabaikan, kini dimanfaatan menjadi lahan pertanian. Masyarakat yang dulunya harus membeli beras, kini sudah punya cadangan beras dari sawahnya. Kebutuhan akan sayuran pun bisa terpenuhi tanpa harus membeli, karena sudah bisa didapat dari pekarangan sendiri.

Sitti Rahmah dipenghujung percakapan mengungkap harapannya, semoga pertanian di Pangkep bisa makin berkembang. Dengan menerapkan pertanian organik, selain sehat juga menghasilkan.

(Kompasiana)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

EnglishIndonesian