Mengubah Kerujuk, Mendorong Ekowisata

Memberikan pemahaman kepada masyarakat sangat sulit, terlebih lagi kesan masyarakat soal pariwisata kurang baik. Akan tetapi, berkat kerja keras kami bersama rekan-rekan, masyarakat akhirnya mendukung kami,” ujar Lukman. Niat menjadikan dusun seluas 2 kilometer persegi itu sebagai obyek wisata berbasis lingkungan karena Lukman melihat realitas sosial masyarakat. Dari jumlah penduduk dusun 1.553 jiwa (456 kepala keluarga), 90 persen penduduk hidup dari hasil kebun dan menebang kayu hutan (meramo). Untuk mendapatkan kayu tebangan, warga harus menempuh perjalanan jauh masuk ke kawasan hutan, pulang-pergi, selama 1 hari.

Tak jarang, para peramo meninggal di perjalanan karena terpeleset dan tertindih kayu yang dipikulnya. Untuk mendapatkan kayu tebangan, para peramo main kucing-kucingan dengan polisi hutan. Padahal, penghasilan dari satu balok kayu seharga Rp 60.000 tidak sebanding dengan risiko yang dihadapi para peramo di lapangan. Perambahan kayu hutan yang dilakukan terus-menerus berdampak pada degradasi kawasan hutan yang kemudian dirasakan masyarakat. Dua puluh tahun silam, jika turun hujan, air di Daerah Aliran Sungai Kerujuk baru bisa surut seminggu kemudian. Puncaknya pada 2002, terjadi banjir dan tanah longsor yang membuat tiga rumah warga dan be- berapa ternak hanyut.

”Kini, begitu hujan turun, air di sungai itu surut dalam hitungan jam,” kata Lukman. Musibah banjir itu mendorong Lukman untuk memutar otak bagaimana agar dusunnya terbebas dari banjir. Namun, dia tidak punya keberanian mengutarakan gagasannya kepada masyarakat. Tahun 2014, instansi pemerintah memberikan bantuan untuk pembangunan kolam dan bibit ikan nila dan bawal untuk usaha pemancingan meski usaha pemeliharaan ikan ini gagal. Kegagalan ini menjadi ”pintu masuk” bagi Lukman untuk mewujudkan idenya. Kebetulan pada 2014 ada program pemberdayaan yang dilakukan lembaga sosial masyarakat. Kegiatannya antara lain menggali dan memetakan potensi sumber daya alam yang bisa mendatangkan nilai ekonomi, tetapi tetap menjaga lingkungan lestari. Pilihannya jatuh pada menyediakan fasilitas rekreasi ekowisata.

Tujuannya, masyarakat bisa menikmati hasil dari aktivitas ekowisata tersebut, terlebih lagi dusun yang terletak di pinggir hutan itu terdapat aneka tanaman perkebunan, seperti durian, manggis, aren, mangga arum manis, dan 12 jenis bambu. Ada juga tanaman yang kini jarang ditemukan: buah juwet, bune, kepundung, ceruring, dan buah singgapur, serta sebek (umbi-umbian). Beberapa air terjun (tiu) di kawasan itu, seperti Tiu Pane, Tiu Loang Bukal, dan Tiu Kelambu, bisa dijadikan paket wisata alam, trekking atau hiking. Gagasan untuk menggerakkan ekowisata itu pun disampaikan kepada masyarakat dengan berbagai cara. ”Kami hampir putus asa untuk meyakinkan masyarakat, pariwisata yang mau dikembangkan bukan yang dikesankan selama ini,” kata Lukman. Dia pun mengajak rekan-rekannya untuk memberi bukti kepada masyarakat dari yang mereka kerjakan.

Urunan
Beruntung ada enam warga pemilik 3 hektar lahan sawah dan kebun yang bersedia menjadikan lahannya ”disulap” menjadi lokasi rekreasi out bond. Di atas lahan tersebut dibangun berbagai fasilitas, seperti arena kolam lumpur dan berbagai permainan tradisional, termasuk spot-spot pengunjung untuk berswafoto. Material pembangunan fasilitas rekreasi itu memanfaatkan sumber daya alam setempat, seperti kayu, bambu, dan ranting yang selama ini terbuang percuma. Mereka juga membentuk Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kerujuk Lestari.

Sejumlah warga pun memberi sumbangan. Mereka bergotong royong membangun jalan setapak sepanjang sekitar 100 meter dari pusat dusun ke obyek wisata. Jalan setapak itu terwujud setelah beberapa pemilik sawah dan kebun mengizinkan tanahnya untuk dibuka akses jalan dari-ke lokasi obyek wisata. Tahun 2015, obyek wisata ini diluncurkan, dan belakangan obyek wisata itu ramai dikunjungi wisatawan lokal, Nusantara, dan mancanegara. ”Dalam satu minggu, rata-rata pengunjung 150-200 orang, umumnya wisatawan lokal Lombok dan luar daerah,” kata Lukman. Warga pun menikmati hasil dari berkembangnya wisata alam di desanya.

Menurut Sekretaris Pokdarwis Jon, mereka membuat ketentuan, dari pemasukan tiket wisata itu, semua pihak terkait termasuk yatim piatu mendapat bagian. ”Kalau sedang ramai kunjungan, para pemilik lahan bisa mendapat Rp 1 juta per orang sehari,” ujar Lukman. Guna menjaga kelestarian hutan dan sungai, ada aturan atau awiqawiq yang harus dipatuhi warga. Aturan itu antara lain melarang mencari (memancing) ikan dengan menggunakan setrum atau potasium di sungai, tidak boleh membuang sampah di sungai, dan tidak boleh menebang pohon.

Sanksi bagi pelanggarnya adalah dikenai denda. Misalnya, pelanggar ketentuan memancing dikenai denda hingga Rp 10 juta dan mengganti seekor ikan hasil pancingan dengan 10 ekor ikan. Kini, di Dusun Kerujuk, Desa Pemenang Barat, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, itu bukan saja pariwisata yang berkembang. Para perambah hutan yang punya pengalaman menjelajah hutan berganti profesi sebagai pemandu wisata. Mereka bisa mengantar pengunjung yang ingin menyaksikan air terjun itu di kawasan hutan dusun yang masuk kawasan Hutan Pusuk, Lombok Barat.

”Bagaimana mengubah pola pikir warga terhadap alam, dan mendapat manfaat ekonomi dari alam, itulah yang membuat saya harus pulang,” ujar Lukman. Dalam kepercayaan masyarakat, Dusun Kerujuk memiliki magnet bagi warganya untuk pulang setelah merantau ke berbagai tempat. Kerujuk adalah kepiting air tawar yang muncul jutaan ekor dalam siklus 3 tahunan-5 tahun di daerah aliran sungai dusun itu. Versi lain menyebutkan, kerujuk berasal dari bahasa Arab yang berarti kembali. ”Mungkin arti kerujuk yang membuat saya pulang, hehe,” ucap Lukman, menambahkan.

Tanah longsor dan banjir yang selalu ”mengintip” Dusun Kerujuk, Desa Pemenang Barat, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, tiap tahun, membuat Lukmanul Hakim (29) prihatin. Ia kemudian memelopori dan mengajak generasi muda dan warga desanya untuk menjadikan dusun itu sebagai obyek wisata berbasis lingkungan. Ajakannya berbuah manis meski pada awalnya tidak sedikit warga yang menolak gagasannya.

(KOMPAS/KHAERUL ANWAR)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

EnglishIndonesian