Kementan : Libatkan Pesantren untuk mengembangkan Pertanian

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menilai, pondok pesantren tak lagi sekadar sebagai tempat memperdalam ilmu agama dan pendidikan semata. Lebih dari itu, ada potensi besar dari aspek ekonomi yang dapat dikembangkan, terutama sektor pertanian. Hal tersebut menjadi salah satu dasar Kementan bersinergi dengan pondok pesantren untuk meningkatkan sektor pertanian.

“Konkretnya adalah kami akan inventarisir berapa lahan yang mereka miliki dan apa kebutuhan mereka, kemudian tadi ada salah satu ponpes berhasil mengembangkan jagung, kita akan berikan jagung. Kita juga berikan pompa, kalau ada air di sekitarnya, membangun embung di desa, memberikan benihnya, dan alsintan,” ujarnya, usai mengikuti acara Temu Stakeholder Pesantren: Mewujudkan Pesantren sebagai Salah Satu Penggerak Pemberdayaan Ekonomi yang Lebih Inklusif, di Dago, Bandung, Jawa Barat.

“kita ajari mereka bagaimana mengoperasikan mesin-mesin traktor dan seterusnya, mengajari mereka memilih benih unggul, metode budidaya, cara penanggulangan OPT dan sebagainya,” katanya, mencontohkan.

Amran menerangkan, bantuan di sektor pertanian untuk ke sejumlah pesantren akan segera dilakukannya. Untuk sementara, masih dalam tahap diskusi dan inventarisir “Bisa saja tahun ini terealisasi,” jelasnya.

Amran menegaskan, sangat tertarik melibatkan pesantren untuk mengembangkan pertanian karena memiliki beberapa faedah, selain sebelum potensi yang ada belum tergali secara optimal.

“Integritasnya tidak diragukan lagi. Kemudian, mereka pasti patuh. Itu sudah pasti, karena saya juga menitipkan anak saya di Pondok Pesantren. Sehingga, sangat mudah untuk mobilisasi, ajak kerja sama,” bebernya pada kegiatan yang dihadiri Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo, Menteri Koordinator Bidang Maritim Luhut Panjaitan, Menteri Perindustrian Airlanggar Hartarto, Menteri Desa Eko Putro Sandjojo, dan delapan mentor pimpinan pondok pesantren se-Jabar mitra BI.

Di sela acara, Menteri Amran pun sempat memaparkan capaian kerjanya selama tiga tahun terakhir. Misalnya, berhasil membalikan keadaan untuk komoditas cabai, bawang merah, beras, dan jagung. Mulanya, Indonesia sangat bergantung dengan produk luar negeri untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri atas keempat komoditas tersebut. Tetapi, sejak 2016 hingga kini, produksinya meningkat signifikan dan akhirnya kita berhasil menutup keran impor.

“Bawang merah dulu, ribut luar biasa. 2014 kita impor 72 ribu ton, 2015 impor 12 ribu ton, 2016 impor nol. Hari ini, sudah ekspor ke lima negara, Thailand, Myanmar, Filipina, Vietnam, Singapura. Kita sudah ekspor, karena penerapan kebijakan tepat.

Kementan tak cuma fokus menggenjot produksi, agar keempat komoditas strategis itu swasembada. Tetapi, turut memperhatikan nasib para petani. Hal tersebut tercermin dari keluarnya Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 71 Tahun 2015 dan ditindaklanjuti dengan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 27 Tahun 2017 terkait aturan harga acuan komoditas. Khusus untuk beras diatur Harga Eceran Tertinggi Beras sesuai Permendag 57 tahun 2017 dan kelas mutu beras sesuai Permentan 31 tahun 2017.

(Metro)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

EnglishIndonesian