Ngopi Bareng Tokoh : “Percepatan Pembangunan Desa”

Pada tanggal 27 Januari 2018 yang lalu bertempat di Bopet Basamo, Rawamangun telah diadakan acara diskusi dan bincang-bincang dengan tema “Percepatan Pembangunan Desa”. Acara yang terbuka untuk umum ini diadakan oleh Pusat Pengkajian Strategi Nusantara (PPSN) dengan menghadirkan beberapa pembicara menarik antara lain yaitu Prof. Prijono Tjiptoherijanto (Mantan Kepala BKKBN), Prof. Dr. Samsuridjal Djauzi (Ketua Dewan Pakar PPSN), Prof. Dr. Ir. Sardi Sar, M.Eng. M.Sc., (Ketua Umum PPSN), Dr. Adi, Bp. Wimar Mawan (aktivis ekonomi kerakyatan | Koperasi 212 dan UKM) serta Brigjend. (Purn) Dr. Saafroedin Bahar (Pemerhati sosial)  yang dipandu oleh Ir. Eriyon Agust, IPM (Ketua Umum APINKREI) dan Dr. Ir. Leony Lidya (Dosen).

Ngopi Bareng Tokoh : "Percepatan Pembangunan Desa" Ngopi Bareng Tokoh : "Percepatan Pembangunan Desa"

Acara diskusi bersama yang dimulai pada pkl. 14.00 ini, diawali dengan berbagai pemaparan menarik dari para pembicara.  Prof Sardi membuka dengan paparan mengenai jumlah desa di Indonesia yang mencapai 74 ribu desa, namun ironisnya menurut data terdapat sekitar 63% yang masih termasuk dalam golongan desa tertinggal dan golongan desa sangat tertinggal. Timbulnya celah kesenjangan yang mencolok antar desa ini salah satu sebabnya dikarenakan kurang meratanya pembangunan, salah satunya pembangunan infrastruktur. Terlebih lagi mayoritas desa masih menggunakan konsep teknologi tradisional.

Prof. Samsuridjal Djauzi pun makin memperdalam diskusi ini, dengan mengingatkan perlu adanya pembedaan yang jelas antara Pembangunan Desa dan Pembangunan Oleh Desa. Jadi sebaiknya kita mendorong pada desa yang ingin maju, dimana masyarakat desanya yang memang ingin berkembang, sehingga mereka dapat memiliki konsep dan rencana sendiri sehingga dapat memanfaatkan semua bantuan dari luar yang datang. Oleh karena itu Prof Samsuridjal memberikan salah satu solusinya yaitu adalah dengan membentuk semacam kelompok remaja kreatif yang diberi nama Rumah Kreatif Desa. Yang dapat didirikan di desa-desa yang memang ingin membangun dan maju. Rumah Kreatif Desa ini akan menjadi tempat untuk berkumpul dan membuat rencana-rencana kerja, ide-ide kreatif, yang melibatkan remaja-remaja desa untuk ikut membangun desanya. Tentu saja para remaja ini harus diberikan wawasan dan pelatihan terlebih dahulu. Perlu merubah mindset. Hal ini sudah mulai dirintis oleh teman-teman dari Pelita Desa yang berlokasi di Ciseeng, dengan melatih para remaja dari berbagai desa untuk belajar melihat berbagai peluang dan berusaha memaksimalkan peluang yang ada untuk kepentingan desa mereka. Tentunya disesuaikan dengan kondisi dan sumber daya alam yang ada di desa masing-masing. Jika saja konsep besar ini dapat terwujud maka masyarakat desa akan dapat ikut merasakan manfaatnya sehingga diharapkan dapat mengurangi keinginan mereka untuk kerja di kota atau bahkan menjadi TKI di negri sebrang.

Ngopi Bareng Tokoh : "Percepatan Pembangunan Desa" 

Dr. Adi dalam diskusi ini menyoroti masalah teknologi tepat guna bagi pertanian. Dimana sampai saat ini teknologi yang diterapkan masih bersifat tradisional. Apalagi petani Indonesia masih sangat bergantung pada faktor cuaca. SDM pun perlu diperbaiki. Serta perlunya pemanfaatan  dan pengembangan energi alternatif selain dari fosil. Disinilah keberpihakan pemerintah sangat diperlukan.

Prof Samsuridjal kembali menambahkan bahwa saatnya kita berharap pada remaja desa. Tidak lagi bergantung pada pihak lain di luar sana. Untuk masalah pendanaan desa sudah ada beberapa remaja yang merintis usaha startup dengan mengolah lahan-lahan tidur, bekerja sama dengan petani melakukan pengolahan lahan yang hasilnya bisa dinikmati bersama. Ada pula teman-teman dari Agrowing yang melatih petani dan masyarakat desa dalam mengelola produk yang mereka hasilkan. Mulai dari belajar mengemas, hingga membantu mencarikan pasar ekspor yang sesuai untuk produk mereka. Perlu diingat, saat ini internet sangatlah dibutuhkan oleh semua desa. Dengan hanya bermodalkan Handphone diharapkan masyarakat desa sudah dapat mempromosikan dan menjual produknya secara online. Jadi kini pertanyaannya… Bisakah kita memanggil hati nurani remaja-remaja desa itu untuk mulai membangun desanya masing-masing?

Ngopi Bareng Tokoh : "Percepatan Pembangunan Desa"

Salah satu perwakilan dari Pelita Desa (www.pelitadesa.com), sdr. Adi juga sempat memberikan gambaran bahwa setelah melihat dari berbagai desa di pelosok yang telah ia kunjungi. Ia mendapati kenyataan bahwa tidak semua desa itu merasa tertinggal atau tidak bahagia. Bahkan terlihat masyarakat desa itu hidup lebih santai dan nikmat dibandingkan orang kota. Terkadang beberapa pihak terlihat terlalu mendramatisir desa-desa yang mereka anggap tertinggal. Padahal saat ini sudah mulai timbul gerakan-gerakan kreatif dari berbagai desa, dan itu perlu kita dukung dan apresiasi.

Ngopi Bareng Tokoh : "Percepatan Pembangunan Desa"

Prof. Prijono memaparkan bahwa hingga saat ini masih terjadi kekurangharmonisan dalam masalah percepatan pembangunan desa ini dari sisi kebijakan pemerintah seperti salah satunya proses penentuan indikator yang berkaitan dengan dana desa. Perlu juga penegasan mengenai definisi desa secara jelas yang harus dibedakan dengan kampung. Selain itu itu perlu kembali dibangkitkan budaya rembuk desa di semua desa di Indonesia, sehingga rencana-rencana percepatan pembangunan desa lebih cepat terserap dan terakomodir.

Sayang sekali waktu yang diberikan oleh panitia acara sangatlah sedikit dan terbatas. Sehingga diskusi ini belum secara maksimal melibatkan interaksi dengan para pengunjung acara yang terlihat cukup ramai dan terlihat antusias dengan topik yang diangkat. Semoga acara serupa akan makin banyak diadakan sehingga gerakan untuk percepatan pembangunan desa dapat segera direalisasikan dan dirasakan hasilnya oleh seluruh masyarakat desa di Indonesia.

(wan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

EnglishIndonesian