Pelatihan Kewirausahaan untuk Komunitas Disabilitas

Bertepatan dengan peringatan hari Down Syndrom Sedunia yang jatuh pada tanggal 21 Maret 2018, Persatuan Orangtua dengan Anak Disabilitas Indonesia (PORTADIN) dan Dewan Pertimbangan Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) mengadakan acara Pelatihan Kewirausahaan untuk Komunitas Disabilitas.

 Pelatihan Kewirausahaan untuk Komunitas Disabilitas

Sedikit informasi mengenai Down Syndrom yang perlu kita ketahui. Down Syndrome adalah pengaturan kromosom alami yang selalu menjadi bagian dari kondisi manusia dan bersifat universal dengan arti ada di semua wilayah di seluruh dunia, ras, jenis kelamin atau garis sosial-ekonomi.

Down Syndrom mempengaruhi sekitar 1 – 800 kelahiran hidup, meskipun bervariasi di seluruh dunia. Down Syndrom biasanya menyebabkan efek variabel pada gaya belajar, karakteristik fisik atau kesehatan (berbagai derajat kecacatan/disabilitas intelektual dan fisik dan masalah medis yang terkait).

Peringatan Hari Down Syndrome Sedunia menegaskan bahwa semua orang dengan down syndrome memiliki hak untuk menikmati semua Hak Asasi Manusia (HAM) dan kebebasan fundamental secara penuh dan efektif.

Kembali ke acara Pelatihan Kewirausahaan, yang kali ini diadakan di Gedung Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial (DNIKS) dihadiri oleh para pembicara handal, antara lain Bp. Siswardi (Ketua Dewan Perimbangan PPDI), Prof. Dr. Samsuridjal Djauzi (Pembina Pelita Desa), Ir. Akhmad Syarbini (GMB ITB), Bp. Safri Haliding M,Sc. (WKU MES DKI) dan Bp. Herry Nugraha (Founder Etanee) yang dipandu oleh Bp. Hendratmoko Walujo (Pembina YRI37/Ketum Portadin). Acara ini dibuka secara resmi oleh Mpok Nur, istri dari Wagub DKI Sandiaga Uno.

Acara ini dimulai dengan persembahan tarian asli Jakarta yang dibawakan oleh anak-anak disabilitas, yang walaupun memiliki kekurangan namun mereka mampu menampilkan gerak tari yang sangat indah dan menarik, serta sangat menghibur.

Kegiatan pelatihan dimulai dengan pemaparan dari Bp. Safri Haliding mengenai konsep bisnis yang berlandaskan kepada prinsip-prinsip syariah, antara lain prinsip tauhid (kesatuan) dimana dalam bisnis diperlukan keseimbangan atau kesejajaran yang nantinya akan bermuara pada keadilan sosial dan semua bisnis yang dilakukan nantinya akan dipertanggungjawabkan kepada Allah SWT, manusia dan alam.

Prof Samsuridal Djauzi selaku pembicara berikutnya menceritakan tentang kegiatan Pelita Desa Ciseeng, yang dimulai dari lahan kosong hingga kini berkembang menjadi pusat pelatihan remaja serta menjadi lokasi edukasi outdoor yang dilengkapi fasilitas outbound. Nantinya Pelita Desa diharapkan dapat menjadi trigger dalam memajukan desa-desa di seluruh Indonesia dengan berbasis teknologi terkini. Mengingat jumlah penyanding disabilitas sekitar 25 juta orang, beliau juga mendorong dibentuknya komunitas disabilitas yang mampu mengolah bisnis dari mereka, oleh mereka, dan untuk mereka sendiri. Seperti penyediaan kursi roda dengan harga terjangkau dan lain-lain dengan memanfaatkan teknologi bisnis online yang kini sedang merebak. Hingga nantinya para disabilitas dapat survive dan menjadi wirausahawan yang patut diperhitungkan. Prof Samsuridjal juga mengajak teman-teman disabilitas untuk dapat berkunjung ke Pelita Desa untuk sharing bersama.

Bp. Siswardi dalam paparannya menekankan pentingnya niat dalam berusaha/berbisnis, lalu segera tentukan jenis usahanya dan langsung laksanakan, jangan ditunda-tunda lagi. Sedangkan Ir. Akhmad dari GMB ITB mengenalkan aplikasi “Usaha Rakyat” yang sudah hadir di Playstore, dimana akan membantu siapapun dapat berbisnis hanya berbekal handphone saja.

Salah satu terobosan yang menarik adalah aplikasi toko online “etanee”. Yang disampaikan oleh Bp. Herry Nugraha, yang membuat aplikasi anak negri, dimana aplikasi etanee ini menjual produk-produk pertanian dan turunannya, serta aneka daging untuk kebutuhan masyarakat. Dimana semua orang dapat ikut menjadi pembeli bahkan agen dalam aplikasi ini. Etanee menjangkau area 10km dari lokasi stockist. Dimana warga dapat memesan produk yang diinginkan melalui online. Begitupula warga yang ingin menjual produknya sendiri dapat membuat toko online dengan cara yang sangat mudah. Untuk warga yang tidak memiliki produk, bisa pula ikut serta menjadi agen etanee dengan pembagian keuntungan yang menarik.

 Pelatihan Kewirausahaan untuk Komunitas Disabilitas

Acara yang dimulai pada pkl. 13.00 WIB ini harus diakhiri pada pkl 16.30 WIB. Terasa terlalu singkat memang. Mengingat antusias dari para pengunjung yang sebagian besar adalah orangtua dari anak disabilitas, yang memadati ruangan, dan mengajukan beragam pertanyaan menarik. Mungkin ke depan perlu dibuat sesi khusus yang lebih panjang, sehingga dapat lebih mengakomodir kebutuhan dari para teman-teman disabilitas yang hadir. 

Oiya, teman-teman dari SMP Peradaban (Edu 3) juga sempat membuka stand untuk memamerkan menjual benih hasil pengolahan Pelita Desa Edu 4 loh. Respon pengunjung pun sangat baik dan antusias. (wan)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

EnglishIndonesian