Pembangunan Desa Berbasis Keluarga

Berbicara desa tidak pernah habis dikaji. Desa bagian terpenting dalam pemerintahan. Pengelolaannya juga melibatkan semua aspek yang berkaitan dengan sosial budaya, kondisi ekonomi dan kehidupan masyarakat, selain pemerintahan, estetika dan etika menjadi pengejewantahan dalam diri desa.

Mengkaji desa mempunyai keunikan tersendiri, berbagai intrik dan eksotisme kehidupan menampakkan makna yang tersirat. Berbagai dinamika muncul pada tatanan desa. Mulai dari letak geografisnya yang dibedakan dengan kota, sosial budaya, ekonomi, adat istiadat, bahkan sumber daya manusia desa berbeda dengan masyarakat kota. Desa mempunyai daya energy sangat kuat dalam pengelolaannya. Membutuhkan manjaerial yang responsive dan dinamis untuk menjadi pemimpin desa. Desa berbeda dengan kota yang dibatasi oleh karakter-karakter di dalamnya.

Sebagai bagian sentral dalam pembangunan bangsa, desa mempunyai prioritas utama dalam bidikan pemerintah pusat. Berbagai bantuan finansial maupun infrastruktur disiapkan oleh pemerintah untuk membangun desa yang sejahtera, baik, berkembang dan maju, apalagi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) sudah berlangsung. Dibutuhkan kebijakan strategis dari pemerintah pusat untuk membangun kepemerintahan yang setara dan seimbang dari tingkat pusat hingga desa. Desa menjadi kunci penting dalam pembangunan nasional.

Pun demikian, kesiapan pemerintah dalam menghadapi MEA, terutama pada pemerintah desa harus disiapkan secara professional dan maksimal. MEA tidak hanya melibatkan komponen barang, jasa dan sumber daya manusia menjadi serbuan masyarakat ASEAN untuk keluar masuk dan bekerja di Indonesia. Aspek ini mempunyai signifiknasi dan implikasi besar terhadap pembangunan desa. Hal ini berkaitan dengan potensi dan pengeolaan desa oleh masyarakat desa itu sendiri mempunyai nilai kompetisi dalam perjalanannya.

Kesiapan sumber daya desa harus dibangun berdasarkan kebutuhan dan keadaannya. Konsep pembangunan manusia berdasarkan desa harus dikembangkan sejak dini. Perjalanan pasar bebas terus berkembang mengikuti arus globalisasi yang semakin kompleks. Pembangunan manusia diawali oleh peningkatan pendidikan dan pelatihan bagi sumber daya manusia produktif bekerja yang disesuaikan dengan potensi desa dan sumber daya yang ada di desa. Pembangunan desa yang dibangun oleh sumber daya desa, lebih menghasilkan nilai sosio-cultural dengan menjaga nilai-nilai dan budaya yang ada di desa, sehingga pembangunan desa tidak menghilangkan konteks kearifan lokal sebagai identitas desa tersebut.

Pembangunan manusia memang tidak serta merta bisa dilakukan secara instan dan stagnan. Butuh proses dan struktur yang saling berkaitan. Pembangunan manusia dilakukan dengan pembangunan keluarga. Kelaurga menjadi dasar dan pondasi bagi kualitas sumber daya manusia. Untuk membangun desa yang lebih baik, sumber daya manusia harus mempunyai porsi sangat besar. Sumber daya manusia yang menjalankan sistem pembangunannya, jika SDM desa mumpuni dan kompetitif dibidangnya, pembangunan desa akan berjalan dengan baik.

Kualitas sumber daya manusia harus dibangun berdasarkan pembangunan keluarga yang berkualitas. Keluarga mempunyai peranan penting dalam meningkatkan kualitas anggota keluarganya. Pembangunan keluarga yang baik, dapat menghasilkan kualitas anggota keluarga yang dapat memberikan sumbangsih terhadap pembangunan desanya. Keluarga yang berkualitas menjadi ujung tombak keluarga dalam membangun kesejahteraan dan meningkatkan penghasilan secara ekonomi.

Untuk membangun keluarga yang berkualitas, diperlukan konektifitas antara pemerintah dan masyarakat, minimal membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya sebuah kualitas keluarga. Secara prinsip kualitas keluarga dibangun berdasarkan penggunaan Keluarga Berencana (KB) sebagai alat dasar dalam pembangunan keluarga. Secara rasional hal itu menjadi titik dasar dalam pembangunan desa. Keluarga berencana dapat membantu pemerintah desa dalam mengalokasikan semua program secara merata dan seimbang. Keluarga dengan dua anak menjadi program yang dibangun oleh pemerintah sejak zaman orde baru, hingga sekarang.

Tujuannya tidak lain adalah membantu masyarakat meningkatkan kualitas hidup dan kualitas sumber daya keluarga. Keluarga yang berkulitas diharapkan dapat menjadi tumpuan keluarga dalam meningkatkan taraf hidup keluarga, dengan bekerja, berwirausaha dan mengembangkan kompetensinya untuk meningkatkan kesejahteraan dan ekonomi keluarga. Sehingga kemiskinan dan pengangguran dapat diminimalisir.

Kontekstualitasnya, pembangunan keluarga yang berkualitas dalam hal ini berdasarkan pada tiga aspek penting. Yaitu pendidikan, kesehatan dan ekonomi. Pendidikan menjadi pola utama dalam membangun keluarga yang berkualitas. Kesadaran semua lapisan anggota keluarga menjadi penting dalam meningkatkan pendidikan keluarga. Terutama pemahaman kepala keluarga terhadap pentingnya pendidikan, minimal pendidikan yang dibutuhkan oleh dunia kerja, sebagai prasyarat dalam menghasilkan angkatan kerja.

Dengan bekerja secara baik dan kompetensi, secara tidak langsung berdampak pada kehidupan keluarganya dan meningkatkan ekonomi keluarga. Salah satu anggota keluarga yang bekerja produktif, dapat membantu pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Hal itu juga dapat mengurangi pengangguran dan kemiskinan di desa. Begitu jugan angkatan kerja dapat meminimalisir adanya migrasi masyarakat desa ke kota, yang pada ujungnya memberatkan pemerintah kota dalam mengatasi berbagai persoalan sosial yang semkain tidak terkendali dan kompleks, yang salah satunya dipengaruhi oleh banyaknya migrasi masyarakat desa.

Kedua, pembangunan kualitas kesehatan keluarga. Kesehatan menjadi harta paling besar dalam kehidupan manusia. Kesehatan keluarga harus menajdi perhatian serius seluruh anggota keluarga, apalagi kondisi saat ini memberikan pelajaran penting bagi kehdiupan keluarga, penyakit sudah bermacam-macam nama, penyebab, dan berbagai faktor yang menimbulkan penyakit.

Kesadaran pentingnya kesehatan dalam keluarga sejatinya harus dibangun atas pola hidup keluarga. Pola hidup sehat menjadi penting untuk diaplikasikan dalam keluarga. Muali dari mandi, maka, tidur dan lingkungan yang sehat menjadi kewajiban bagi seluruh anggota keluarga. Lingkungna yang tidak sehat diawali dari lingkungan kelaurga, pun demikian kucni dari kesehatan diri adalah pola mandi yang sehat, pola makan yang sehat dan pola tidur yang sehat. Jika hal itu dijaga secara baik, maka harga atas sebuah kesehatan akan terbayar dengan pembangunan kesehatan keluarga.

Pendidikan yang berkualitas sejatinya dapat menjadi tonggak dasar dalam menyadarkan keluarga atas pola hidup sehat. Pola hidup sehat dalam keluarga dapat menciptakan kualtias keluarga yang lebih baik. Keluarga sehat, masyararakat sehat, lingkungan sehat meningkatkan tatanan pembangunan secara baik. Masyarakat yang sehat dapat mengimplementasikan pembangunan secara maksimal, perekonomian meningkat, dan kesejahteraan tercapai. Kondisi ini menjadi tujuan penting pemerintahan, sehingga tidak heran, jika pemerintahan saat ini membangun pola hidup yang sehat secara nasional, yaitu melalui kartu sehat yang bermuara dari program pemerintah sebelumnya, yaitu jamkesma, jamkesda, askes, dan sekarang BPJS dan kartu sehat yang sedang dikembangkan.

Ketiga ekonomi keluarga. Ekonomi tidak hanya ditafsirkan secara tekstualitasnya, namun kontekstualnya juga mempunyai implikasi sangat besar. Pembangunan ekonomi keluarga dengan meningkatkan kualitas anggota keluarga yang bekerja secara efektif fan produktif serta jaminan kesehatan yang dibangun berdasarkan pola hidup yang sehat dapat membangkitkan ekonomi keluarga yang lebih baik.

Ekonomi keluarga harus dibangun dari pola dasar pendidikan dan kesehatan, sebagai akselerasi dari kesejahteraan. Jika ekonomi keluarga baik, maka pembangunan desa dapat berjalan secara baik pula. Pembangunan desa tidak bisa diberatkan kepada program dan bantuan pemerintah semata, pembangunan keluarga dan masyarakat sebagai subyek dan obyek dalam pembangunan desanya.

Peningkatan potensi dan sumber daya desa harus dimuali dari pembangunan keluarga desa yang berkualtas, untuk melakukan sebuah inovasi dan kreasi dalam meningkatkan kesejahteraan. Ekonomi desa berjalan secara baik, jika ekonomi keluarga mempunyai siginifikansi terhadpa peningkatanya.

Sirkulasi ketiga komponen pembangunan keluarga berbasis desa tersebut harus dibangun atas kesadaran semua elemen masyarakat dan pemerintah. Peran pemerintah dalam pembangunan desa tidak hanya difokuskan pada titik prasarana dan infrastrukturnya saja, pembangunan manusia melalui pembangunan keluarga harus mendapatkan prioritas, sehingga pembangunan infrastruktur dapat berkembang sesuai dengan kebutuhan dan aspek potensi desa terhadap sumber daya desa dengan tetap mempertahankan sosio-cultur dengan mengedepankan kearifan lokal yang dinamis dan humanis untuk kesejahteraan masyarakat yang lebih baik dan berkualitas.

Oleh : Hayat

* Dosen Universitas Islam Malang; Peneliti Lakpesdam NU Kota Malang; Anggota Kaukus Penulis Aliansi Kebangsaan; Anggota Sahabat Pena Nusantara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

EnglishIndonesian