Pemberdayaan Pemuda di Desa Bonto

SEBUAH CATATAN PEMBERDAYAAN PEMUDA DI DESA BONTO MASUNGGU, KECAMATAN TELLULIMPOE, KABUPATEN BONE

Rasa merasa menjadi suatu keyakinan
Timbul dan tenggelam menjadi sebuah kisah
Ada sepucuk harapan menjelma dalam kerukunan
Hilang menjadi tuntutan yang tak padam amarah

Sebuah perjalanan akan melahirkan perjumpaan, dan melalui perjumpaan itulah cerita ini akan bergulir menorehkan kisah dari sebuah keyakinan. Yah, keyakinan akan sekumpulan anak muda di Desa yang memiliki peluang untuk membesarkan Desanya. Satu, dua, tiga, dan seterusnya menjadi suatu perhitungan mengeja kehidupan mereka, yang rendah hati dan begitu sangat ramah pada manusia-manusia yang berperadaban…..

Menjelang matahari terbenam di penghujung kehidupan, kami beranjak meninggalkan hiruk pikuk perkotaan yang penuh dengan ketidaksabaran manusianya, menuju suatu Desa yang jauh dari induknya (Baca: Kabupaten Bone). Empat sampai lima jam perjalanan, kami melewati beragam pertunjukan dunia manusia yang mengantarkan kami pada ujung suatu perjalanan yang masyarakat sekitar lebih mengenalnya dengan Kampung Alle (Alla’-Alla’ Batue), Desa Bonto Masunggu, Kecamatan Tellu Limpoe, Kabupaten Bone. Desa ini merupakan sebuah Desa yang dimekarkan dari Desa induknya yakni Desa Tondong pada tahun 1993, secara administratif Desa ini memiliki dua dusun yakni Dusun Elle dan Dusun Tokella.

Alam indah dan manusianya yang berperadaban menjadikan Desa ini begitu rendah hati dari sebuah ketamakan dan keserakahan dunia modern. Hamparan sawah dan kebun menjadi suatu penanda sebuah penghidupan bagi masyarakatnya dan juga sekaligus sebagai wujud kesyukuran pada sang pencipta, jika hal itu dikelola dengan baik dan bijak tentunnya. Perjumpaan kami yang pertama pada Desa ini ialah bebatuan-bebatuan dalam jumlah yang besar dan juga ukurannya yang besar terhampar kokoh dan berkarakter sebagai suatu identitas perkampungan Alla’-Alla’ Batue. Selain hamparan sawah dan kebunnya yang begitu bersahaja, Desa ini juga memiiki sebuah surga yang dirindukan, dalam bentuk tiga air terjun yang menjadi nafas dari suatu peradaban di Desa ini, Air terjun Tarung-tarung, Lamassua, dan Popping nama sumber penghidupan itu.

 

Air terjun tarung tarung

Selain alamnya yang menjanjikan suatu penghidupan bagi manusianya, hewan-hewan di sana juga menggambarkan goresan kehidupan yang nyata dari sebuah manusia yang saling menjaga dan merangkul dalam kehidupan keseharian. Keakraban mereka termanifestasikan dalam sebuah tindakan saling melengkapi antara mereka yang menjaga dan dijaga. Ini lah yang menjadi suatu gambaran eksotis dalam masyarakat pedesaan yang mungkin saja mereka lebih menyadarinya dari yang lain.

Alam, Hewan, Manusia menjadi simbol keistimewaan bagi masyarakat Desa Bonto Masunggu, kehadiran ketiganya menjadi hubungan yang indah dan saling beriringan. Keragaman manusia berjiwa muda memiliki peluang yang besar dalam membangun suatu peradaban yang beradab. Kehadiran mereka (baca: anak muda) tidak bisa dihindari, diasingkan, terlebih lagi dihilangkan dari hidup dan kebudayaannya. Anak muda mesti menjadi ujung tombak dari sebuah peradaban, karena dalam diri mereka lah arah dan tujuan bangsa ini dititipkan.

Pemuda dipersimpangan antara “Konflik Sosial” dan “Pembangunan Sosial”, seperti ini lah proyeksi dalam melihat fenomena kebudayaan kaum muda menjelang “Bonus Demografi” pada tahun 2020 utamanya dipedesaan. Memahami gejolak kaum muda, perlu dilakukan pembacaan dengan sangat hati-hati. Pembacaan dengan teliti dapat diawali dengan melacak kondisi sosial budaya pedesaan, sebagai tempat kaum muda mendapatkan nilai-nilai kebudayaannya dan sebagai wadah produksi sosial kultural bermasyarakat bagi kaum muda. Desa ialah unit terkecil dalam sistem pemerintahan di Indonesia, yang memiliki peran potensial dalam membangun keIndonesian anak bangsa dari segala arus kebudayaan “Modernisme” dan “Konsumerisme” yang semakin mencabik-cabik keragaman dan kebhinekaan bangsa. Namun, dilain sisi, ada fenomena kebudayaan yang juga menghampiri kaum muda di Pedesaan, dimana dengan lahirnya Undang-Undang nomor 6 tahun 2014, partisipasi kaum muda dalam membangun Desa mengalami peningkatan.

Produk hukum ini secara tidak lansung menggoda kaum muda untuk berperan aktif dalam membangun Desa, yang mana dalam sudut pandang kaum muda, ada ruang demokrasi yang mesti dikembangkan di Desa melalui metode partisipatif-inklusif. Hal ini lah yang menjadi masalah mendasar untuk segera melacak identitas keragaman dan kebhinekaan pemuda di Desa, agar posisi kaum muda dapat didudukkan dengan adil dan jauh dari konflik sosial yang cenderung terjadi antar pemuda di Desa. Rumusan dari hasil penulusuran keragaman dan kebhinekaan Pemuda di Desa Bonto Masunggu ini, dapat menjadi suatu acuan strategi kebudayaan dalam meningkatkan pembangunan sosial di Pedesaan, yang tentunya digerakkan oleh kaum muda, Penerus Bangsa.

Ilmu pengetahuan telah melahirkan sebuah metode pendampingan dan pemberdayaan masyarakat yang efektif dalam menemukan potensi dan pengalaman material maupun non material dari suatu masyarakat. Metode ini lebih dikenal sebagai metode etnografi, yakni Participatory Action Research (PAR), menjadi efektif sebab metode ini berpandangan bahwa untuk mengetahui dan menganalisis suatu pengalaman dari masyarakat, maka kita mesti mengikuti segala aktifitas dari suatu masyarakat dan dari sana lah kita mengetahui bagaimana pengalaman masyarakat itu dan pandangannya terkait soal kehidupan.

Berdasar dari metode PAR di atas, penulis kemudian menggali ulang pandangan atau persepsi pemuda Desa Bonto Masunggu dengan menggunakan metode Focus Group Discussion (FGD), yang terfokus pada tiga isu yakni “Bagaimana persepsi pemuda tentang Desanya, Bagaimana persepsi pemuda tentang Aset Desanya, dan Bagaimana persepsi pemuda tentang pemuda itu sendiri”.

Hasil dari FGD ini, menunjukkan hal yang menggembirakan, sebab persepsi mereka (baca: anak muda Desa Bonto Masunggu) terkait tiga hal di atas dalam skala kecil, yang artinya Pemuda Desa Bonto Masunggu sangat dekat dengan pengalaman material maupun non material Desanya.

Kondisi sosial budaya pemuda Desa Bonto Masunggu yang tergambarkan dalam dua pendekatan di atas (baca: metode PAR dan FGD), kemudian dikomunikasikan dengan aparatur Desa, guna merekatkan hal-hal yang bisa menjadi suatu potensi dalam membangun Desa yang partisipatif dan inklusif kedepannya. Alhasil, dalam pertemuan tersebut menghasilkan suatu kesepakatan yakni pemuda Desa Bonto Masunggu menjadi kelompok masyarakat yang mengelola ekowisatanya yang berupa air terjun dan saat ini anak muda Desa Bonto Masunggu menjadi penggerak dalam melaksanakan kegiatan pesta rakyat (baca: permainan bola volley, takraw, dan lomba memasak di Desa).

Tak ada hal yang tidak bisa disegerakan dalam kehidupan ini, pada intinya kesungguhan dan saling mengerti antar manusia, alam, dan penciptanya menjadi suatu hal yang patut disadari dan terus dikomunikasikan. Identitas keragaman anak muda di Desa Bonto Masunggu ini, menjadi suatu pelajaran yang nyata bagaimana mengelola potensi yang tersembunyi dalam diri tiap ciptaan sang Pencipta. Terakhir, nikmat Tuhan apa lagi yang kalian sanggahkan di Bumi yang mulai jauh dari keberadabannya ini.”

(Slamet Riadi, Penggiat di L.A.M.P Institute)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

EnglishIndonesian