Pertama kali ke Shanghai? Yuk baca Tips ini!

Travel makes one modest, you see what a tiny place you occupy in the world.

– Gustav Flaubert, a Novelist –

Senin, 20 Agustus lalu, saya dan teman saya mewakili Pelita Desa terbang ke kota Shanghai, Cina. Kunjungan kami di kota yang merupakan pusat ekonomi dan bisnis ini adalah dalam rangka memperluas jangkauan bisnis ekspor ikan hias. Dari Indonesia kami sampai pagi hari dan langsung menuju penginapan di distrik Pudong, tidak jauh dari bandara dan gedung pameran yang akan kami kunjungi, Shanghai New International Expo. Tidak ada akses untuk google, whats app dan instagram!

Bagaimana kami bisa bertahan? Ibarat berjalan di jalan gelap, begitulah kami saat pertama kali berada di Shanghai. Tidak tahu arah, tidak tahu akan naik kendaraan apa, makan dimana, dan akan bertemu dengan siapa. Kami tidak tahu. Tersesat? Sudah biasa! Terdengar mengerikan tapi sangat penuh dengan hikmah.

Fahda (Kiri) dan Ismi (kanan)

 

Untuk kamu yang akan berkunjung ke Shanghai untuk pertama kali, berikut tips dari kami yang mungkin akan membantu.

1. Akses internet.

Cina memblokir aplikasi yang berbau google. Tidak ada google maps, google search engine, whats app, instagram dan lain-lainnya. Bagi kami yang terbiasa dengan google maps, kami seperti anak hilang. Tapi jangan khawatir, kamu punya dua pilihan jika ingin mengakses internet di China. Pertama, kamu bisa pasang aplikasi yang mereka gunakan, seperti baidu sebagai pengganti google atau we chat untuk menggantikan whats app.  Atau pilihan kedua, kamu bisa pasang aplikasi VPN, dan Puala! kamu bisa akses google dan kawan-kawan.

2. Transportasi.

Mulai dari sepeda sampai metro tersedia di Shanghai. Untuk menyewa sepeda dan  motor, kamu harus memiliki aplikasi peminjaman karena untuk meminjam harus ada barcode yang dipindai melalui aplikasi tersebut. Jangan kaget saat berjalan di Shanghai tiba-tiba kamu diklason motor karena jalanan motor dan pejalan kaki memang  sama. Dan hati-hati, motor di sana tak berbunyi apalagi bising knalpot seperti di indonesia.Pilihan kedua, kamu bisa naik bus. Kamu bisa bayar menggunakan kartu transportasi, barecode atau tunai. Oh, ya, semua berbahasa cina via bus. Jadi pastikan kamu tahu akan turun distasiun keberapa.

Nah, kalau ingin yang ada bahasa inggrisnya, Metro line bisa jadi pilihan kamu, nih. Jalur Metro di Shanghai sangat canggih. Mereka memiliki 17 line yang saling terhubung. Selain itu, biayanya pun tidak mahal, sejumlah 3 sampai 8 RMB saja. Murah, praktis dan efektif waktu. Kami pun lebih memilih menggunakan metro saat bepergian. Ada pula taksi yang lebih praktis walapun harganya lebih mahal. Oh ya kebanyakan supir taksi di Shanghai tidak bisa berbahasa inggris. Pastikan kamu tahu akan kemana dalam pelafalan atau tulisan cina, minimal tunjukkan gambar tempat tujuan kamu. Katanya di Cina argo bisa tipu-tipu? Tidak di Shanghai. Sistem Taksi sudah sangat profesional. Pembayaran aman dan sesuai argo, kok. Kami merekomendasikan kartu turis agar lebih efektif waktu. Kartu ini bisa digunakan untuk bus dan metro line. Kamu bisa membelinya di bandara atau di stasiun metro tertentu. 

3. Tips mencari makan.

Makan di Shanghai adalah tantangan sendiri bagi kami. Tiga hari pertama kami hanya berani makan di Kfc atau McD karena tidak ada pilihan lain. Kfc dan McD di sana tidak seperti di kita yang menyajikan NASI. Walaupun Kami rindu nasi, apa boleh buat kami harus puas dengan kentang goreng yang berkalori tinggi. Untuk cari makan harus super hati-hati karena kebanyakan daging yang di sajikan adalah daging babi. Eits, jangan khawatir dulu. Ada banyak kok tempat makan halal. Di dekat masjid Huxi Shanghai, setiap jumat akan ada pasar jumat. Daging dan jajanan di sana halal. Penjualnya pun pakai seragam bertuliskan halal. Ada sate yang sepanjang 30 sentimeter, roti isi daging, ramen, kue-kue basah dan lain-lain. Dan semuanya itu halal.

Saya menanyakan harga dalam bahasa inggris, pedagangnya malah bingung. Beruntung ada pembeli yang bisa menterjemahkan percakapan saya dan si abang penjual. Saya bertemu dengan muslim sana, dia merekomendasikan sebuah restauran muslim di kawasan people square, katanya di sana makananya terbaik. Sayang, kami kemalaman dan harus kembali ke hotel. Di kawasan wisata the Bund juga ada restauran halal, enak dan murah. Sumpah! Saya memesan ramen dan sampai bungkus nasi goreng untuk di hotel. Saya juga mendapat rekomendasi ramen halal dekat kawasan wisata kota air zhujiajiao dari teman.

Di Shanghai juga banyak tempat jajan seperti seven eleven yang menyajikan makan berat yang bisa jadi pilihan kamu. Ada nasi, kimbab dan lainnya. Perhatikan saja labelnya, walaupun tidak ada label halal, pastikan tidak ada makanan yang dilarang bagi umat muslim. Makanan terbaik saat saya di sana adalah ramen goreng hotel, rasanya hingga sekarang tak terlupakan. Berdasarkan google, sebenarnya masih banyak restauran halal di Shanghai, karena keterbatasan waktu, kami tidak bisa mengunjunginya satu per satu. 

4. Tempat wajib dikunjungi

Kehabisan waktu dan diserbu hujan pagi. Karena itulah kami tidak sempat menjelajahi semua tempat di Shanghai. Kami hanya mengunjungi beberapa tempat saja, seperti: 

– New Shanghai intenational Expo, sebuah tempat pameran. Gedung pameran ini luar biasa luas. Untuk ke hall satu ke hall lain ada mobil kecil yang akan mengantar pengunjung. 

– The Bund. Kalau tidak ke The Bund, tidak ke Shanghai, katanya. Begitu kami sampai ke kawasan The Bund, kami langsung disuguhi pemandangan kepadatan orang yang justru jadi daya tarik tempat wisata tersebut, wajah oriental, eropa, dan arab banyak terlihat, wajah melayu? Selama saya amati, hanya kami saja, dan beberapa orang Indonesia yang kami temui saat akan pulang. Kamu bisa berbelanja di pusat perbelanjaan ini dan bisa juga berfoto. Dari The Bund ini,  kamu bisa melihat icon Shanghai yaitu Pearl Tower dan juga gedung-gedung keren lain. Kamu sebaiknya ke tempat ini malam hari, akan ada banyak lampu dan pertunjukkan kapal besar yang menawan.

– Kota air Zhujiajiao. Butuh waktu tiga jam via metro plus jalan kaki dari pudong untuk sampai ke tempat ini. Wisata air dan jajan, sayang kami hanya bisa beli coklat karena daging babi dimana-mana. Kamu bisa berfoto, naik perahu, menyewa baju adat cina atau sekadar jajan di sini. Untuk kamu yang muslim, di jalan pulang, kamu akan menemukan ramen halal. Berbahagilah 😀

– Yuyuan garden. Tempat ini bagus dikunjungi malam hari. Awalnya kami pikir  tempat ini semacam taman, tenyata ini adalah pusat jajan dan oleh-oleh. Bangunan-bangunan di sana khas bangunan tradisional Cina. Selain membeli oleh-oleh, kamu bisa berfoto di sana. Di jalan menuju Yuyuan Garden terdapat banyak lukisan indah yang bisa jadi latar belakang foto kamu. kami gagal mengunjungi Pearl Tower, West Nanjong Road, Xintiadi, Shanghai Aquarium. Semoga next time bisa menunjungi tempat-tempat yang belum sempat kami kunjungi. 

Selain bisnis, kami belajar sekali banyak hal dari perjalan kami. Kami belajar tentang manusia. Begitu sampai kawasan tempat kami menginap, kami melongo. Sepi sekali. Kami berjalan dibeberapa jalan di distrik pudong dan hanya menemukan beberapa orang yang sedang membersihkan jalan. Sepi. Tapi begitu petang, kami melihat lautan orang. Orang-orang itu baru saja menenggelamkan diri di kantor dan berhamburan menuju rumah masing-masing. Ada yang berjalan kaki, bersepeda, atau motor. 

Satu hal yang saya sesali: Tidak bisa bicara mandarin.  saya dan teman saya adalah manusia berjilbab gondrong sendiri di lautan orang itu. Mereka manatap kami dari ujung ke ujung, tidak jarang kepala mereka sampai muter melihat kami. Awal-awal kami merasa risih tapi kami menyadari, mereka tidak menatap kami dengan aneh tapi mereka penasaran dan kagum melihat cara berpakaian kami. beberapa kali orang-orang menyapa kami dengan senyuman. Kami menyimpulkan mungkin mereka berkata, “Apa yang kamu pakai?”, “Itu bagus!” atau “kamu tidak panas?” Ada juga beberapa orang yang menghampiri ingin mengajak ngobrol, sayang komunikasi jadi masalah kami.

Pernah seseorang menghampiri dan langsung tahu kalau kami dari indonesia dari cari berpakaian kami. Bahkan sampai minta nomor wechat, sayang saya tidak pakai wechat dan dia tidak pakai whatsapp, line atau instagram. Ada pula yang mengajak foto bareng.  Kadang apa yang kami pikirkan tentang mereka tidak selalu benar. Sebelum berangkat, kami berpikir orang-orang shanghai mungkin akan menakutkan bagi wanita berjilbab gondorng, tapi itu hanya prasangka.

Aslinya mereka ramah, PDan, tidak gengsi menyapa turis, totalitas saat membantu orang. Saya pernah tanya sebuah restauran, orang itu sampai menuliskan nama restoran dalam tulisan cinanya, nomor metro sampai turunnya dimana. Pernah juga kamu ditunjukkan dispenser air panas karena kami bawa-bawa remen cup. Padahal kami tidak bermaksud untuk memasaknya. Travel makes one modest, you see what a tiny place you occupy in the world. Benar sekali kutipan tersebut. Melihat Shanghai saya menyadari betapa kecilnya kita di dunia ini. Dengan sistem teknologinya, sistem pembayaran, transportasi, dan pelayanannya membuat kami sadar bahwa keadaan kami di Indonesia saat ini belum apa-apa dan harus terus diperbaiki.

Oleh : Fahda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

EnglishIndonesian