Pesantren yang Menghidupi Masyarakat

Pesantren yang Menghidupi Masyarakat.

Di Sumbawa Besar terdapat pesantren Al Kahfi yang baru berdiri 4 tahun yang lalu. Pesantren ini unik karena merupakan gabungan SMK dan pesantren. Sampai jam 3 sore siswa mengikuti pelajaran sesuai dengan kurikulum SMK, disini ada dua jurusan yaitu Teknologi Pertanian dan Akuntasi.

www.pelitadesa.com | Keunikan lain adalah lebih separuh siswa dari kalangan tak mampu yang mendapat bea siswa. Penggagas pesantren ini mengharapkan lulusan tak hanya menjadi kiai tapi juga mampu mempunyai kemampuan di bidang umum yang diharapkan dapat menjadikan dia mandiri hidup di masyarakat. Bahkan sebenarnya harapan lebih jauh lagi keberadaan pesantren tidak hanya bermanfaat untuk pendidikan namun juga bermanfaat bagi masyarakat sekitarnya. Pesantren diharapkan mempunyai kegiatan yang dapat membantu kesejahteraan masyarakat. Mungkinkah pesantren merubah diri? 

Semula hidup pesantren di dukung oleh masyarakat sekitar sekarang menjadi pesantren dapat menghidupi masyarakat sekitar. Jika kita sebentar lagi akan menghadapi Hari Raya Qurban maka diharapkan bukan pesantren yang menerima Qurban tapi pesantren yang membagikan Qurban kepada masyarakat.

Pesantren yang Menghidupi Masyarakat

Agar pesantren dapat memberi manfaat bagi masyarakat sekitar baik di bidang pendidikan maupun peningkatan penghasilan masyarakat maka banyak hal yang perlu disempurnakan. Kurikulum mengenai kewirausahaan harus dikembangkan. Praktek wirausaha pesantren harus diperbanyak. Guru dan para pembimbing juga harus siap. Sarana juga harus dilengkapi. Dalam era e-commerce pesantren tak boleh ketinggalan dalam melakukan perdagangan melalui media sosial. Namun nilai-nilai pesantren yaitu peningkatan taqwa, ibadah yang benar serta akhlak mulia tetap harus ditumbuhkan. Nilai-nilai ini akan menjadi nilai tambah dalam melaksanakan bisnis. 

Pesantren yang Menghidupi Masyarakat

Pesantren Gontor telah mempunyai koperasi yang cukup berkembang. Pesantren ini mempunyai ribuan santri baik santri putra maupun santri putri. Nama Pesantren Gontor juga telah dikenal masyarakat. Masyarakat memahami bahwa lulusan pesantren Gontor selain mampu menjadi ustadz juga mampu berbahasa Inggris di samping bahasa Arab yang baik. Sekarang akan ditambah lagi dengan ketrampilan wirausaha. Tak kurang Rektor PBB Sudjatmoko yang mengatakan bahwa pesantren merupakan salah satu alternatif pendidikan di masa depan dan sudah tentu yang dimaksud beliau adalah pesantren yang mampu melakukan perubahan sesuai dengan kebutuhan masa namun tetap menjunjung tinggi nilai-nilai Islam. 

Pada umumnya pesantren berada di daerah rural. Perubahan yang terjadi di pesantren termasuk kegiatan wirausaha pesantren akan mempengaruhi masyarakat sekitar. Pesantren yang akrab dengan masyarakat dengan mudah akan dapat diterima dan dijadikan panutan oleh masyarakat. Nama-nama besar Kyai yang memimpin pesantren akan menambah kepercayaan masyarakat. Dalam era kepedulian terhadap pembangunan desa dewasa ini sebenarnya pesantren dapat dijadikan mitra untuk membangun masyarakat desa. 

Sebagian lulusan pesantren akan menjadi tokoh agama di daerah, sebagian juga akan menjadi pemimpin informal baik ditingkat daerah maupun nasional. Namun sekarang terbuka pula kemungkinan sebagian lulusan pesantren akan menjadi pengusaha, mulai dari pengusaha kecil namun bukan tidak mungkin tumbuh menjadi pengusaha besar. 

Jika pemerintah sungguh-sungguh peduli pada puluhan ribu pesantren yang tersebar di seluruh Indonesia maka perubahan pesantren menjadi lembaga pendidikan yang mendidik santri menjadi lembaga yang mendidik santri yang mampu mandiri bahkan menjadi pelopor di masyarakat akan dapat terwujud. Bimbingan dalam penyempurnaan kurikulum, pengadaan sarana serta peluang untuk wirausaha perlu dikembangkan. Pelatihan guru dan pembimbing perlu diadakan. Dengan kemampuan bahasa Inggris dan bhs Arab santri dapat menembus komuniksai dengan neger-negara yang berbahasa Arab dan dapat mengekspor produknya ke negara-negara tersebut. Keberadaan Indonesia dalam D8 (eight developing moslem countries) yang jumlah penduduknya sekitar 500 juta orang akan menjadi peluang pasar bagi produk-produk pesantren. 

Sudah mulai banyak pesantren yang menghidupi masyarakat sekitar. Kita dapat meningkatkan jumlahnya menjadi jumlah yang besar akan memberi manfaat bagi seluruh masyarakat utamanya masyarakat pedesaan. 

Samsuridjal Djauzi | www.pelitadesa.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

EnglishIndonesian