Ribuan Remaja Puteri Desa Sekitar Purwokerto ingin ke Hongkong

Dalam rangka kuliah umum di Unsud, saya sempat bincang bincang dengan staf pengajar Unsud tentang cita cita remaja di Purwokerto dan sekitarnya. Jumlah mahasiswa baru Unsud cukup banyak , remaja memilih berbagai fakultas sesuai dengan cita cita dan kemampuan mereka. Namun yang menarik adalah pengamatan sepintas salah seorang staf pengajar bahwa remaja puteri di pedesaan sekarang cenderung tak ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Mereka justru bercita cita ingin jadi TKW di Hongkong.
 
Hongkong memang merupakan tempat kerja TKW yang lebih nyaman. Pendapatan mereka sekitar 8 juta perbulan, perlakuan majikan lebih manusiawi serta TKW mendapat hari libur. 
 
Setamat SMP remaja puteri sibuk kursus bahasa Inggris dan jika sudah punya kemampuan memadai mulai mengurus izin untuk bekerja sebagai TKW di Hongkong. Mereka biasanya mendapat kontrak 2 tahun dan dapat diperpanjang. Kesempatan melihat negara lain salah satu motivasi di samping mendapatkan penghasilan yang lumayan.
 
Namun di sisi lan mereka amat muda dan belum mempunyai karakter moral yang kuat. Selama di Hongkong mereka mudah terpengaruh dan meniru kehidupan di kota besar. Mereka mengagumi kehidupan masyarakat modern di Hongkong dan mencoba menjadi bagian dari masyarakat tersebut. Ketika kembali ketanah air mereka merasa sudah menjadi manusia yang berbeda, manusia modern. Mereka sudah tak ingin lagi tinggal dan bekerja di desa, tak mau menikah dengan pemuda desa. Mereka sudah menjadi remaja modern yang terasing dari kehidupan desa. Adakah yang perlu dikhawatirkan ? 
 
Pemerintah dan masyarakat Indonesia memang belum mampu memberikan pekerjaan yang layak pada remaja puteri pedesaan. Pilihan untuk bekerja sebagai TKW di Hongkong merupakan pilihan rasional. Namun kita perlu merasa prihatin jika ribuan remja puteri desa kita tidak lagi mencintai desa mereka, masyarakat mereka serta tak merasa terpanggil untuk memajukan desa mereka. Kepribadian mereka sudah berubah dan jika mereka menjadi ibu tentu juga akan merubah sikap anak anak mereka. Apakah ada lembaga masyarakat yang peduli pada remaja puteri perempuan di pedesaan yang mempunyai gagasan untuk membina mereka di desa agar mereka tumbuh menjadi perempuan Indonesia yang mandiri, bermartabat serta siap menjadi ibu generasi baru yang baik?
 
Samsuridjal Djauzi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *